{"id":415114,"date":"2026-08-24T13:14:52","date_gmt":"2026-08-24T06:14:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=415114"},"modified":"2026-08-24T13:14:52","modified_gmt":"2026-08-24T06:14:52","slug":"klaten-yang-dulu-bukanlah-yang-sekarang-kini-makin-hidup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/klaten-yang-dulu-bukanlah-yang-sekarang-kini-makin-hidup\/","title":{"rendered":"Klaten yang dahulu bukanlah yang sekarang, kini semakin hidup dan berkembang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya orang asli Klaten. Tepatnya berasal dari Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Namun, sudah 2 tahun ini saya meninggalkan kampung halaman untuk kuliah di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/untidar-kampus-negeri-nggak-terkenal-di-magelang-layak-diperhitungkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Universitas Tidar (Untidar) Magelang<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama merantau, saya sering pulang ke Klaten. Biasanya sebulan sekali di hari Sabtu atau Minggu dengan mengendarai sepeda motor. Berangkat dari Magelang pagi hari pukul 05.30 WIB. Pulang melewati Jalan Pakem-Turi hingga akhirnya sampai Bayat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, setiap pulang, selalu ada saja perubahan di Klaten.\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ingatan, ruang publik di Klaten dahulu belum begitu tertata sehingga pemanfaatnya belum maksimal. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Misal, keberadaan beberapa tempat publik seperti Alun-alun Klaten, Stasiun Klaten, dan Stadion Trikoyo terasa biasa saja bagi warga lokal atau warlok. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Spot-spot kekinian di Klaten belum terlalu banyak. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Event <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">menarik pun jarang ditemukan. Begitulah ingatan saya akan kampung halaman sebelum merantau ke Magelang dua tahun lalu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, 2 tahun belakang, kota dengan julukan Kota Seribu Candi ini terasa begitu berbeda. Perubahan terlihat di berbagai sudut kota Penataan dan pemanfaatan ruang publik mulai terasa. Benar-benar kejutan yang menyenangka bagi perantau seperti saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Alun-alun, stasiun, stadion jadi lebih ramah untuk warganya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alun-alun jadi salah satu titik yang mengalami banyak perubahan.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Revitalisasi ruang publik dengan dana APBN sebesar Rp8-9 miliar ini sebenarnya sudah dimulai sejak 2022. Namun, perubahannya baru benar-benar terlihat dan terasa beberapa waktu belakang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pedagang kaki lima di sekitar alun-alun mulai disterilkan. Kawasan dimaksimalkan untuk ruang terbuka hijau. Terdapat fasilitas baru berupa lapangan basket, area bermain anak, dan tempat duduk di setiap sudutnya. <\/span>Sekarang tampilan alun-alun jadi jauh lebih tertata daripada dahulu.\u00a0Warga menjadi punya tempat untuk berkegiatan.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain alun-alun, Stasiun Klaten sekarang juga mengalamai banyak berubah. Kawasan stasiun jadi terlihat lebih rapi berkat dana APBN sekitar Rp18,3 miliar yang digelontorkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun renovasi dilakukan dengan kolaborasi antara berbagai pihak. Mulai dari Pemkab Klaten, Kementerian Perhubungan, dan PT KAI. Semua itu dilakukan demi meningkatkan kenyamanan penumpang, pelestarian cagar budaya, dan mendongkrak ekonomi serta pariwisata daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Renovasi dilakukan di berbagai sudut. Salah satunya di bangunan utama untuk tetap mempertahankan desain kolonial. Konsepnya juga dibuat lebih terbuka. Lahan parkirnya lebih diperluas. Jalan di sekitar stasiun pun ikut ditata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu ada juga Stadion Trikoyo yang ikut diperbaiki dan ditata ulang. Hal ini dilakukan untuk memastikan kenyamanan dan keamanan pengguna. Joging track di-<em>upgrade\u00a0<\/em>dari sebelumnya hanya berbahan tanah menajdi material khusus berlari.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Renovasi\u00a0 ini\u00a0 juga menggunakan dana APBD, menelan dana hingga Rp5 miliar.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Semakin banyak <em>event<\/em> di Klaten<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya tempatnya yang berubah. Klaten pun semakin hidup dengan adanya berbagai macam acara. Mulai dari event budaya, olahraga, seni, kuliner, dan kerajinan tangan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalender event Klaten 2026 pun semakin padat. Setidaknya ada 96 event yang masuk agenda tahunan. Bahkan beberapa event ada yang berskala internasional. Ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/klaten-international-cycling-festival-diramaian-pesepeda-mancanegara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Klaten Cycling International Festival<\/a>, Prambanan-Mendut International 2026, dan FIM Asia Motocross Championship.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota 1001 Umbul ini jadi terasa lebih hidup. Tidak sekedar dikenal sebagai kota penghubung antara dua kota besar Jogja dan Sol yang dulu cuma dilewati. Kini orang-orang jadi punya banyak alasan untuk mampir ke tempat ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Masih punya banyak potensi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warlok, saya bangga dengan capaian Klaten sejauh ini. Daerah asal saya jadi lebih hidup dan\u00a0 menarik untuk dikunjungi. Ke depan, saya berharap Klaten semakin berkembang. Sebab, daerah ini sejatinya punya banyak potensi lain yang masih bisa dikembangkan seperti di bawah ini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, wisata edukasi dan pengalaman kerajinan lurik. Klaten memiliki potensi kerajinan yang dapat dimanfaatkan untuk tempat wisata. Seperti\u00a0 di Kecamatan Pedan yang dikenal dengan kerajinan luriknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal tersebut dapat dibuat tempat wisata yang dikonsep seperti <a href=\"https:\/\/telusuri.id\/jelajah-tiga-kampung-batik-lawas-tersembunyi-di-kota-solo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kampung Batik Solo<\/a>. Jadi, pengunjung tidak hanya berbelanja. Melainkan, mereka juga mendapat suatu\u00a0 \u00a0 pengalaman. Yaitu dengan cara membuat lurik di tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, wisata edukasi dan pengalaman kerajinan gerabah. Klaten juga memiliki kerajinan gerabah yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Di Kecamatan Bayat tempat saya tinggal terdapat kerajinan Gerabah Putaran Miring.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Potensi ini juga dapat dikembangkan seperti konsep Kampung Batik Solo. Hal tersebut dapat mendorong sektor ekonomi dan pariwisata Klaten. Semakin banyak yang tertarik untuk berkunjung ke Klaten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, sektor agrowisata lereng merapi seperti di Kecamatan Kemalang terdapat perkebunan buah dan sayur yang melimpah. Hal tersebut dapat dijadikan wisata petik di tempat. Ditambah dengan menjual view merapi yang ada disana. Mirip seperti konsep kebun buah apel Malang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya senang Klaten terus menggeliat, tidak tinggal diam. Kota ini terus bergerak maju.\u00a0 Walau perlahan, tapi perubahannya benar-benar terasa. Terlebih bagi saya yang sedang tinggal di luar kota dan pulang sesekali saja. Sebagai warlok saya berharap, semoga ke Klaten terus memberi kejutan yang baik seperti ini ya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Arsya Listya Eka Pramudita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/klaten-bukan-kota-tapi-obat-stres-wargi-jogja\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Klaten sejatinya bukan kota, tapi obat mujarab buat wargi Jogja yang stres karena padatnya jalanan.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Klaten dalam ingatan saya sebelum merantau 2 tahun lalu itu daerah yang sepi, belum berkembang dan begitu hidup seperti sekarang. <\/p>\n","protected":false},"author":3319,"featured_media":415115,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[33581,8095,8599,34621,7782,34620,18150,20153,34622],"class_list":["post-415114","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-alun-alun-klaten","tag-klaten","tag-magelang","tag-pariwisata-klaten","tag-stadion","tag-stadion-trikoyo","tag-stasiun-klaten","tag-untidar","tag-wisatawan-klaten"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/415114","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3319"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=415114"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/415114\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":415116,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/415114\/revisions\/415116"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/415115"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=415114"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=415114"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=415114"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}