{"id":414727,"date":"2026-08-20T12:37:49","date_gmt":"2026-08-20T05:37:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=414727"},"modified":"2026-08-20T12:37:49","modified_gmt":"2026-08-20T05:37:49","slug":"ketagihan-trail-run-olahraga-yang-dahulu-saya-anggap-aneh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketagihan-trail-run-olahraga-yang-dahulu-saya-anggap-aneh\/","title":{"rendered":"Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga"},"content":{"rendered":"<p><em>Ada yang hobi trail run?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa tahun lalu, kalau ada yang mengajak saya \u201clari\u201d di gunung, mungkin saya akan berpikir dua kali. Bukan karena tidak suka berkegiatan di gunung ya. Saya anggap itu kegiatan yang aneh, terlalu ekstrem dan tidak masuk akal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya saat itu, gunung adalah tempat untuk mendaki, bukan tempat untuk berlari. Saya nggak kebayang berlari di gunung, mendaki seperti biasa saja sudah capek setengah mati. Namun, pandangan itu kini berubah,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin banyak orang menggemari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau berlari di gunung. Mereka datang dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">running vest<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail shoes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tracking pole <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ganda. Mereka naik ke puncak gunung atau bukit, lalu turun dengan berlari. Naik-turun gunung mungkin bisa hanya dalam hitungan jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, kebiasaan yang mungkin dulu saya anggap aneh itu, kini saya lakukan. Semakin sering mengikuti kegiatan ini, saya pun mulai paham kenapa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> belakangan banyak digemari. Bahkan, setiap akhir pekan,<a href=\"https:\/\/www.eigeradventure.com\/blog\/trekking-cisadon\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> jalur trekking Cisadon<\/a> dan tanjakan Abah Donny Gunung Pancar ramai didatangi para pelari, khususnya dari Jabodetabek.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi anak-anak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Cisadon barangkali sudah seperti <em>Gelora Bung Karno<\/em>, tempat bertemu, berlatih, berkeringat, sekaligus melarikan diri sejenak dari rutinitas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Alasan olahraga ini mulai digemari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Analisis kecil-kecilan saya,\u00a0 olahraga ini bermula dari para pendaki gunung yang mulai bosan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">camping<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, lalu memilih lebih sering <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tektok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">: naik dan turun gunung dalam satu hari. Bisa juga dari para pelari yang merasa jalan aspal sudah terlalu nyaman dan ingin mencari tantangan baru di medan yang lebih ekstrem.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, ada juga teori lain yang menurut saya lebih menarik dan cukup masuk akal<i>,<\/i><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah bentuk pelarian para Gen Z yang sedang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-ruas-jalan-jogja-yang-sebaiknya-dihindari-warga-patah-hati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">patah hati<\/a>. Entah karena urusan percintaan, pekerjaan, atau karena beberapa hal yang membuat hilangnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">spark<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hidup hahaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya sendiri, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bukan sesuatu yang benar-benar asing. Saya sudah mendaki gunung sejak sekitar sepuluh tahun lalu, meskipun tidak terlalu sering. Sementara itu, hampir empat tahun terakhir, lari menjadi hobi sekaligus definisi sesungguhnya \u201cpelarian\u201d saya dari kesibukan sehari-hari sejak mulai bekerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya mencoba <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pertama kali bukan karena patah hati. Momen di mana saya merasa berani mencoba olahraga yang dulu saya anggap ekstrem dan tidak masuk akal ini adalah ketika saya bisa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">downhill<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan cukup cepat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya, ada satu prinsip sederhana yang membuat saya yakin kalau saat mendaki saya membutuhkan waktu empat jam untuk sampai puncak, maka waktu turun seharusnya sekitar dua jam, atau maksimal dua setengah jam. Dan, dari patokan itulah saya berani hijrah ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h2><b><i>Trail run<\/i><\/b><b> itu sebenarnya lebih banyak jalan daripada lari<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semenjak pertama kali mencoba <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya merasa olahraga ekstrem ini cukup menyenangkan dan tidak begitu melelahkan. Selain karena saya tidak perlu repot-repot membawa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/rame\/list\/5-barang-yang-wajib-kamu-bawa-saat-naik-gunung-di-musim-hujan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tas <\/a><\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">carrier <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang besar dan perlengkapan berkemah<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang berat, saya merasa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">menjadi jalan tengah dan perpaduan dari dua hobi saya sebelumnya: berlari dan mendaki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada satu hal yang membuat olahraga ini terasa berbeda dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">road running<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">: saya tidak dituntut untuk selalu berlari sepanjang trek\/jalur pendakian. Bahkan, dalam analisis saya saat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run race<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, menurut saya, berjalan kaki bukanlah sebuah kegagalan. Justru itu bagian dari strateginya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cut-off time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (COT) yang diberikan biasanya memang lebih panjang dibandingkan lomba lari pada umumnya. Masuk akal, karena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">elevation gain<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-nya juga jauh lebih tinggi. Dengan perhitungan saya yang sederhana, selama kita bisa terus bergerak dan tidak terlalu lama berhenti, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run race<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebenarnya bisa diselesaikan sebelum COT meskipun kita banyak jalan kaki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri biasanya memilih berjalan ketika <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">uphill<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Target saya sederhana: yang penting tidak berhenti. Ada energi yang harus disimpan, terutama ketika jalurnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tektok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">: naik dulu hingga puncak, lalu turun lagi. Jadi saya tidak terlalu memaksakan diri untuk berlari saat menanjak. Saya jalan saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, ketika menemukan jalur yang landai atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">downhill<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, barulah saya berlari. Itu pun kalau masih kuat. Kalau tidak kuat? Ya jalan saja, asal tidak berhenti. Menyenangkan bukan? Barangkali inilah salah satu hal yang saya sukai dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Olahraga ini tidak terlalu peduli apakah kita sedang berlari atau berjalan. Yang penting kita terus bergerak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketika \u201c<em>run<\/em>\u201d berarti pelarian<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah menjalaninya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ternyata tidak sepenuhnya tentang berlari. Kadang berpikir bahwa kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mungkin arti sesungguhnya adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pelarian<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, ternyata, ada benarnya. Berjam-jam menyusuri jalur gunung dengan hanya ditemani suara napas yang terengah-engah memberi saya ruang yang cukup panjang untuk berpikir. Sepanjang jalur, pikiran saya sering berjalan lebih jauh daripada kaki saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memikirkan banyak hal. Keputusan-keputusan yang pernah saya ambil. Hal-hal yang seharusnya saya lakukan tetapi tidak saya lakukan, ataupun sebaliknya. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jujur-jadi-warga-tegal-itu-capek-karena-kalah-dalam-banyak-hal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kegagalan-kegagalan kecil<\/a> yang masih saya ingat. Orang-orang yang pernah hadir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin memang itu yang membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terasa seperti olahraga sekaligus terapi yang aneh. Bahkan, ada seseorang yang pernah mengatakan kepada saya, \u201cKalau kamu sedang membenci dirimu sendiri, mungkin kamu cocok dengan olahraga lari. Nah, kalau kamu semakin benci lagi, cobain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak tahu apakah kalimat itu benar. Tapi, semakin banyak kegagalan, semakin hidup terasa lebih rumit, semakin banyak pula hal-hal yang ingin saya tinggalkan sejenak. Dan, di saat itulah masuk akal rasanya untuk naik ke gunung, berlari ketika kuat, berjalan ketika lelah, lalu terus bergerak sampai garis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">finish<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin pada akhirnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trail run<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bukan tentang seberapa cepat kita sampai di garis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">finish<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tetapi tentang bagaimana kita tetap bergerak ketika hidup terasa berat.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nita Safira<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/istilah-dalam-olahraga-lari-untuk-kalian-yang-masih-pemula\/\"><b><i>11 Istilah dalam Olahraga Lari buat Kalian yang Masih Pemula<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Trail run olahraga yang dulu dianggap aneh karena terlalu ekstrem ternyata memberikan ketenangan dan pembelajaran bermanfaat dalam hidup.<\/p>\n","protected":false},"author":3324,"featured_media":414748,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[2166,18176,1619,22312,27201,34572,34573,34571],"class_list":["post-414727","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gunung","tag-lari","tag-olahraga","tag-olahraga-lari","tag-pelari","tag-run","tag-running","tag-trail-run"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414727","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3324"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=414727"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414727\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":414749,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414727\/revisions\/414749"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/414748"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=414727"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=414727"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=414727"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}