{"id":414443,"date":"2026-08-18T14:48:03","date_gmt":"2026-08-18T07:48:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=414443"},"modified":"2026-08-18T14:48:03","modified_gmt":"2026-08-18T07:48:03","slug":"tradisi-lek-lekan-di-hajatan-pernikahan-bikin-biaya-bengkak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tradisi-lek-lekan-di-hajatan-pernikahan-bikin-biaya-bengkak\/","title":{"rendered":"Tradisi lek-lekan di hajatan pernikahan diam-diam bikin biaya bengkak\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hajatan pernikahan, ada satu jenis pengeluaran yang sering luput dari perhatian karena nominalnya tidak langsung terasa besar. Namanya tradisi lek-lekan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tradisi begadang bersama menjelang atau selama hajatan ini memang terdengar sederhana. Hanya duduk, ngobrol, ngopi, makan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-suguhan-lebaran-khas-jogja-yang-mulai-langka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">camilan<\/a>, lalu menemani keluarga yang sedang punya hajat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kalau dihitung secara jujur, lek-lekan bisa berubah menjadi lubang kecil yang terus menguras anggaran. Masalahnya bukan karena lek-lekan merupakan tradisi yang buruk. Masalahnya adalah tradisi ini sering diperlakukan seperti kebutuhan wajib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika hajatan digelar, lek-lekan seolah otomatis harus tersedia. Akhirnya, keluarga yang sedang punya hajat harus menyiapkan berbagai kebutuhan tambahan yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan inti acara perkawinan. Di sini pemborosan mulai terjadi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pengeluaran kecil lama-lama menjadi besar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembengkakan anggaran jarang terjadi karena satu pengeluaran yang fantastis. Justru sering terjadi karena banyak pengeluaran kecil yang dianggap sepele. Untuk lek-lekan misal, harus tersedia kopi, teh, gula, air mineral, rokok, gorengan, jajanan, nasi, lauk, dan berbagai konsumsi lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kebutuhan penerangan karena kegiatan berlangsung sampai malam, tempat duduk, perlengkapan tambahan, bahkan biaya tenaga atau kebutuhan lain yang muncul selama kegiatan. Satu pengeluaran mungkin tidak membuat dompet langsung menangis. Tetapi kalau semuanya dikumpulkan, nominalnya bisa membuat keluarga yang punya hajat mulai bertanya-tanya ke mana uang habis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah masalah utama dalam pembiayaan hajatan. Banyak orang lebih mudah menghitung biaya gedung, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/andai-duit-bukan-malasah-saya-mau-merintis-usaha-katering\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">katering<\/a>, dekorasi, atau pakaian pengantin karena nominalnya terlihat jelas. Sementara pengeluaran kecil untuk kegiatan tambahan sering dibiarkan berjalan tanpa perhitungan yang serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, uang tetap uang. Seribu rupiah yang keluar sepuluh kali tetap menjadi sepuluh ribu. Kalau pengeluaran kecil dilakukan puluhan bahkan ratusan kali, pembengkakannya bukan lagi kecil.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lek-lekan hajatan sering dibayar dengan logika \u201csekalian\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata paling berbahaya dalam hajatan mungkin adalah \u201csekalian\u201d. Masalahnya, \u201csekalian\u201d hampir tidak pernah berhenti pada satu tambahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"> Satu kebutuhan melahirkan kebutuhan lain. Ketika jumlah orang yang datang bertambah, konsumsi pun ikut bertambah. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika waktu berkumpul semakin panjang, makanan dan minuman harus disediakan lebih banyak. Acara pun dibuat semakin ramai, kebutuhan pendukung ikut bermunculan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, lek-lekan yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai kegiatan berkumpul berubah menjadi satu rangkaian pengeluaran yang cukup panjang. Ironisnya, semua itu sering dianggap sebagai konsekuensi normal dari hajatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan menjadi semakin rumit ketika lek-lekan masuk ke dalam urusan gengsi. Hajatan tetangga ramai, hajatan sendiri tidak boleh kalah. Tetangga menyediakan makanan sampai malam, keluarga sendiri merasa harus melakukan hal serupa. Kalau sebelumnya orang-orang terbiasa dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/3-kuliner-jogja-yang-tidak-lagi-merakyat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kopi dan gorengan<\/a>, sekarang konsumsi harus dibuat lebih banyak agar tidak dianggap pelit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tradisi kemudian bercampur dengan tuntutan sosial. Yang awalnya cukup sederhana menjadi semakin mahal karena keluarga takut dinilai kurang mampu menyelenggarakan hajatan. Akhirnya, anggaran bukan lagi disusun berdasarkan kebutuhan. Namun, berdasarkan bayangan tentang komentar orang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Yang dibayar saat lek-lekan hajatan bukan hanya makanan, tetapi ekspektasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam banyak kasus, keluarga sebenarnya tidak sedang membayar biaya lek-lekan semata. Keluarga sedang membayar ekspektasi sosial. Semua ekspektasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi pengeluaran. Padahal, tidak semua ekspektasi masyarakat harus dipenuhi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sebuah keluarga memiliki anggaran terbatas, memaksakan lek-lekan hanya karena takut dianggap tidak menghargai tradisi adalah keputusan yang cukup mahal. Apalagi kalau setelah hajatan selesai, keluarga masih harus menanggung berbagai kebutuhan lain. Tradisi akhirnya bukan lagi menjadi bentuk kebersamaan. Namun, justru menjadi biaya sosial yang harus dibayar agar tidak menjadi bahan omongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagian paling menyedihkan dari pembengkakan anggaran hajatan adalah ketika acara sudah selesai, tetapi tagihannya masih berjalan. Pernikahan hanya berlangsung sehari. Lek-lekan mungkin hanya berlangsung semalam. Namun, uang yang digunakan untuk membiayainya bisa berasal dari tabungan berbulan-bulan, bahkan utang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah pentingnya membedakan antara kebutuhan dan kebiasaan. Apakah lek-lekan benar-benar diperlukan? Atau hanya diadakan karena sejak dulu hajatan memang seperti itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sebuah tradisi membuat keluarga mengeluarkan uang yang sebenarnya tidak tersedia, lalu harus berutang untuk menutup biaya hajatan, rasanya sudah waktunya tradisi tersebut dipertanyakan. Bukan tradisinya yang salah. Cara masyarakat memperlakukannya sebagai kewajiban yang bermasalah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak semua yang sudah biasa harus terus dibiayai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada kecenderungan masyarakat menganggap sesuatu harus dipertahankan hanya karena sudah dilakukan sejak lama. Lek-lekan sudah biasa. Hajatan tanpa lek-lekan dianggap aneh. Akhirnya, kebiasaan berubah menjadi kewajiban tidak tertulis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kondisi ekonomi masyarakat berubah. Harga kebutuhan meningkat. <a href=\"https:\/\/www.cimbniaga.co.id\/id\/inspirasi\/perencanaan\/biaya-nikah-di-kua\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Biaya perkawinan semakin mahal<\/a>. Kebutuhan keluarga setelah menikah juga tidak sedikit. Dalam situasi seperti itu, mempertahankan seluruh rangkaian tradisi tanpa mempertimbangkan biaya justru tidak masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tradisi boleh dipertahankan. Namun, anggarannya tetap harus masuk akal. Jangan sampai karena ingin terlihat guyub, keluarga justru pulang membawa beban finansial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, lek-lekan hajatan adalah pilihan. Kalau sebuah keluarga mampu dan ingin mengadakannya, tidak ada persoalan. Namun, kalau sebuah keluarga memilih tidak mengadakan lek-lekan karena ingin menekan anggaran, keputusan tersebut juga seharusnya tidak dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap tradisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-istilah-di-hajatan-tegal-yang-membingungkan-bagi-banyak-orang\/\"><b><i>5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di hajatan pernikahan desa biasanya ada tradisi lek-lekan yang tampak sederhana, tapi bisa diam-diam bikin biaya membengkak. <\/p>\n","protected":false},"author":2851,"featured_media":414540,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[363,24933,34552,365,34553],"class_list":["post-414443","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-hajatan","tag-hajatan-pernikahan","tag-lek-lekan","tag-pernikahan","tag-tradisi-nikahan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414443","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2851"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=414443"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414443\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":414544,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414443\/revisions\/414544"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/414540"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=414443"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=414443"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=414443"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}