{"id":414406,"date":"2026-08-16T14:37:12","date_gmt":"2026-08-16T07:37:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=414406"},"modified":"2026-08-16T14:37:12","modified_gmt":"2026-08-16T07:37:12","slug":"ra-srawung-rabimu-suwung-sudah-tidak-relevan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ra-srawung-rabimu-suwung-sudah-tidak-relevan\/","title":{"rendered":"Ra srawung rabimu suwung adalah jokes tongkrongan yang sudah tidak relevan dan sebaiknya tidak usah disampaikan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tinggal di kampung itu penuh dinamika sosial. Soalnya, selalu saja ada bahan untuk disambatkan. Mulai dari tetangga yang hobi bakar sampah sembarangan, banyaknya pritilan iuran, hingga tradisi srawung yang terasa seperti kewajiban. Sampai-sampai, ada istilah ra srawung rabimu suwung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi siapa pun yang lahir dan besar di tanah Jawa, jokes \u2018Ra srawung rabimu suwung\u2019 tentu sudah tidak asing lagi. Secara harfiah, kalimat tersebut menyiratkan sebuah peringatan bahwa jika kamu jarang bergaul atau malas nimbrung dengan warga sekitar, bersiaplah menghadapi risiko hajatanmu bakalan sepi. Sepi di sini bisa berarti sepi tamu yang datang, yang berarti sepi pula amplop sumbangan, atau bisa pula berarti sepinya uluran tangan dari tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau jujur, sebetulnya ada nilai-nilai positif yang tersanding dalam kata \u2018srawung\u2019. Bagaimanapun juga, srawung atau berkumpul adalah wujud nyata persatuan warga di tingkat akar rumput. Cocok nih dengan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pancasila\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pancasila sila ke-3<\/a>. Tapi, kalau srawung dijadikan sebagai suatu kewajiban? Duh, maaf-maaf aja, nih. Sudah nggak relevan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Srawung antara dulu dan sekarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, ritme kehidupan berjalan jauh lebih lambat dan longgar. Pekerjaan orang-orang di desa pada masa itu umumnya dagang di pasar, atau pergi ke sawah untuk menggarap tanah. Setelah dhuhur, biasanya mereka sudah pulang ke rumah untuk beristirahat. Sehingga, mereka punya banyak energi untuk berkumpul bersama warga di sore hari ataupun malam hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pola yang kurang lebih sama juga dijalani oleh yang perempuan. Pagi hari dihabiskan untuk merampungkan pekerjaan domestik sekaligus membantu mencari tambahan nafkah, lalu sorenya sambil nunggu maghrib atau anak pulang mengaji, bisa haha hihi dengan tetangga dulu. Srawung masih relevan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sekarang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian besar orang hari ini, mencari sesuap nasi sudah menyita seluruh energi. Sialnya, meski energinya tersita habis, kehidupan tetap saja jauh dari kata manis. Gimana bisa manis kalau untuk sekadar beli beras yang layak saja dompet sudah kembang kempis?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu dengan kondisi seperti itu ada tuntutan sosial untuk selalu hadir si setiap tongkrongan? Wah, sungguh terdengar seperti suatu siksaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Paksaan atas nama kebersamaan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian tahu apa hal yang paling bejat ketika ada seorang warga yang absen dari kegiatan srawung dengan alasan kerja? Mereka bilang, \u201cMemangnya kamu doang yang kerja?\u201d atau kalimat senada seperti, \u201cIya, iya. Sekampung ini yang kerja kamu doang yang lain nganggur~\u201d. Tentu saja diucapkan dengan nada yang membuat darah orang yang dirasani jadi mendidih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bejat, memang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan harga-harga yang mahal seperti saat ini, ada orang mau kerja untuk sekadar menyambung hidup kok malah dimusuhi? Kan nggak ngotak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kalau mau jujur pada kenyataan, apa sih substansi dari acara srawung itu? Sering kali kegiatannya tidak jauh-jauh dari ngobrol ngalor-ngidul yang tidak jelas juntrungannya, atau sekadar gibahin kebijakan pemerintah. Lha daripada gitu ya mending kerja, sudah jelas dapat duit. Misal ngepasi libur pun bukan berarti wajib datang untuk kumpul-kumpul. Asli, nggak make sense orang yang bilang, \u201cAyo kumpul mumpung libur,\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mumpang-mumpung. Justru mumpung libur ya mending turuu~<\/span><\/p>\n<h2><b>Ada pihak ketiga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain hidup yang sudah semakin berat, ancaman klasik \u201cra srawung rabimu suwung\u201d juga sudah tidak relevan karena karena peradaban yang terus berjalan. Dulu, kita memang sangat bergantung pada tenaga tetangga untuk urusan rewang\u2014mulai dari memarut kelapa, merajang bumbu, hingga mendirikan tenda dadakan. Maka, wajar jika absen bergaul dianggap sebagai dosa besar yang bakal membuat hajatan berantakan karena tidak ada yang mau membantu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, situasinya beda. Urusan masak-memasak dan logistik hajatan kini bisa diserahkan ke vendor. Tinggal bayar sesuai paket, dan semua makanan lezat tersaji rapi tanpa perlu repot mengoordinasikan puluhan warga desa sejak subuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak ada duit buat sewa vendor? Jangan khawatir. KUA masih berdiri tegak. Syarat wajib nikah itu nggak harus gelar hajatan, kok. Jadi, aman saja. Uang yang sedianya buat gelar hajatan malah bisa untuk pegangan. In this economy, ini sangat bijak sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada duit buat sewa vendor tapi takut nggak ada warga yang mau kondangan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah, saya sih nggak yakin soal itu. Selama kalau kita dapat undangan kita sempatkan untuk datang, saya yakin pas kita hajatan pun orang akan datang ke acara kita, walaupun kita nggak pernah kelihatan nongkrong di pos ronda atau teras tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, lupakan jokes ra srawung rabimu suwung itu. Buat apa takut hajatan bakal suwung hanya karena jarang ikut kumpul-kumpul? Di era sekarang ini, sudah bener kita kerja saja. Kerja kerja kerja. Fokus ngumpulin duit sebanyak-banyaknya. Noh, ayam potong noh, sekilo sudah 42 ribu, Bray~<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/omong-kosong-srawung-di-desa-jahat-ke-orang-miskin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Omong Kosong Slogan \u201cSrawung\u201d di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi, lupakan jokes ra srawung rabimu suwung itu. Buat apa takut hajatan bakal suwung hanya karena jarang ikut kumpul-kumpul?<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":403518,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[34539,34540,34538,6720],"class_list":["post-414406","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-kegiatan-di-desa","tag-kegiatan-kumpul-kumpul","tag-ra-srawung-rabimu-suwung","tag-srawung"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414406","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=414406"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414406\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":414407,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414406\/revisions\/414407"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/403518"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=414406"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=414406"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=414406"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}