{"id":414330,"date":"2026-08-15T15:38:26","date_gmt":"2026-08-15T08:38:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=414330"},"modified":"2026-08-15T15:38:26","modified_gmt":"2026-08-15T08:38:26","slug":"kegelisahan-peneliti-brin-tentang-keripik-sepatu-dan-genteng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kegelisahan-peneliti-brin-tentang-keripik-sepatu-dan-genteng\/","title":{"rendered":"Catatan seorang peneliti BRIN yang hatinya remuk redam melihat koleganya dihina cuma bisa bikin keripik, sepatu, genteng, dan ngabisin anggaran negara"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari terakhir, saya kebingungan melihat BRIN jadi <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-8609880\/di-roasting-cuma-bikin-sepatu-genteng-keripik-brin-pamerkan-riset-kuantum\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahan tertawaan netizen<\/a>. Entah ini masuknya ranah kritik atau hinaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seandainya kritik, saya berharap misalnya kritik yang keluar kayak gini. Riset BRIN tidak pernah sampai bisa langsung dirasakan ke masyarakat. BRIN jangan jadi tempat politikus mendapat panggung. Atau, BRIN tidak terbuka untuk masyarakat, ya okelah saya bisa terima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi nyatanya bukan kritik seperti itu yang kami dapat. Saya memantau linimasa media sosial. Isinya lebih banyak hanya narasi yang meremehkan anggaran 6,1 triliun per tahun, tapi hasil risetnya ecek-ecek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami peneliti BRIN, mendadak jadi bahan olok-olokan publik. Katanya kami cuma bisa bikin keripik, genteng dan habis-habisin anggaran negara buat riset yang &#8220;selevel UMKM&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, sebenarnya saya hanya peneliti bidang sosial,\u00a0 sehingga inovasi berbentuk produk tidak banyak dari tupoksi saya. Tapi tetap saja, saya ikut merasakan panasnya olok-olok di media sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi saat baca utas dari salah satu akun netizen yang nyeletuk soal pengalamannya ikut PIMNAS. Di situ dia cerita, timnya bikin alat destilasi air laut yang canggih, tapi yang menang lomba malah keripik pisang. Alasannya? Produknya laku keras saat pameran. Astagfirullah. Langsung muncul macam-macam teori konspirasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini menjadi penting dan menjadi trigger saya menulis artikel ini. Ini bukan cuma soal lomba mahasiswa atau PIMNAS. Ini soal cara publik menilai riset.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal riset itu tidak selalu instan seperti itu. Ada yang butuh tahunan, tidak kelihatan bentuk fisiknya, dan cuma berupa data, teori, atau temuan yang baru terasa manfaatnya satu generasi kemudian.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dari istana sampai menjadi bahan tertawaan netizen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berita soal kunjungan 150 peneliti BRIN ke Istana sebenarnya berita yang \u201cnormal\u201d. Presiden Prabowo Subianto melihat-lihat hasil riset kami.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sana ada satelit, pesawat tanpa awak, teknologi nuklir, hingga rumah tahan gempa yang bisa dibangun cuma 14 hari. Tapi yang jadi sorotan media apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGenteng yang diinjak-injak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAir olahan yang diminum.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKeripik ubi ungu yang dicicipi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSepatu yang harganya di bawah Rp80 ribu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak Media lain yang juga ikut-ikutan mempublikasikan pameran di istana. Namun hasilnya malah publik makin semangat nyinyir. &#8220;Ah, BRIN cuma bisa bikin genteng.&#8221; &#8220;Negara habis duit buat riset keripik.&#8221; &#8220;Mending anggarannya buat hal lain.&#8221; Saya cuma bisa geleng-geleng kepala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kalau mau baca lebih lanjut, ada juga kanal jurnalistik yang lebih berimbang. <a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/teknologi\/20260806141126-199-1389304\/150-peneliti-brin-temui-prabowo-bawa-riset-nuklir-hingga-antariksa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">CNN Indonesia<\/a> misalnya, menulis dengan judul yang lebih fair: &#8220;150 Peneliti BRIN Temui Prabowo, Bawa Riset Nuklir Hingga Antariksa&#8221;\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">CNN menyebutkan kalau ada 12 klaster riset yang dipamerkan. Antara lain pangan, energi, antariksa, penerbangan, nuklir, logam tanah jarang, perumahan, transportasi, kesehatan, dan lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya begitulah. Publik lebih paham dengan genteng yang diinjak-injak daripada satelit yang tidak bisa mereka lihat secara fisik. Publik lebih heboh lihat Presiden minum air olahan, daripada baca soal teknologi nuklir yang sedang dikembangkan BRIN.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan banyak netizen atau bahkan influencer yang percaya diri menulis: Negara lain sudah bikin roket, sudah ngembangin nuklir, eh BRIN CUMA BIKIN KERIPIK. PADAHAL kalau menyimak atau minimal membaca, nuklir atau roket ya juga jadi bahan penelitian BRIN selama ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Istri saya juga peneliti BRIN dan sekarang dia takut membayangkan risetnya jadi bahan tertawaan.<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling bikin saya sedih bukan cuma tertawaan netizen yang menganggap riset kami tidak \u201cmendunia\u201d. Tapi melihat istri saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istri saya peneliti BRIN bidang ilmu hayati. Dia lagi serius-seriusnya mengembangkan riset tentang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/ekonomi\/jadi-alternatif-bahan-pangan-pemerintah-mau-kembangkan-sorgum\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sorgum<\/a>. Tanaman yang mirip gandum tapi lebih tahan kekeringan, bisa tumbuh di lahan marginal, dan punya potensi besar buat ketahanan pangan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dia dan timnya kerja keras. Menulis catatan hingga malam. Kadang bawa tanah dan sampel tanaman ke rumah. Kadang ngomel-ngomel sendiri kalau eksperimennya gagal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi beberapa hari terakhir, dia dihantui ketakutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Apa riset sorgumku nanti juga dianggap receh kayak genteng?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Apakah masyarakat bakal ngetawain aku cuma karena aku neliti tanaman?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Apakah riset botani terapan tidak perlu ada di negeri ini?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cuma bisa diam. Peluk dia. Dan bilang, \u201cNggak usah memikirkan omongan netizen.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi dalam hati, saya marah. Kenapa riset yang jelas-jelas penting buat masa depan bangsa malah punya potensi direndahkan? BRIN sudah mengembangkan mie sehat bebas gluten berbasis sorgum, genteng komposit dari bagas sorgum, hingga gula semut dari nira sorgum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan riset iseng tapi riset ketahanan pangan. Kalau berhasil, bisa bikin Indonesia nggak tergantung impor gandum. Tapi publik bisa aja milih nyinyir.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa saya menulis ungkapan hati ini?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sadar, sebagai peneliti sosial, inovasi produk emang bukan core utama saya. Saya lebih sering berkutat sama data, wawancara, dan teori.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ibarat anak SMA. Kalau ada temannya anak IPA yang sedang ditindas, tentu yang maju dan melawan malah anak IPS.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah melihat rekan-rekan saya di bidang eksak yang bekerja mati-matian. Mereka tidak tidur berhari-hari demi eksperimen. Mereka kadang harus berhadapan dengan alat yang rusak, mengantre di lab, bahan yang mahal, dan tekanan target. Dan semua pengorbanan itu direduksi jadi &#8220;keripik&#8221; dan &#8220;genteng&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggaran riset BRIN sekarang hanya menyentuh Rp1,9 triliun. Bahasa bayinya anggaran riset satu tahun di BRIN tidak sampai sampai 5 hari MBG.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, tantangannya bukan lagi soal duit. Tantangannya adalah ketersediaan gagasan riset yang kuat, terukur, dan berdampak. Kami juga sedang fokus ke teknologi semikonduktor, kecerdasan buatan, dan rekayasa genetik. Ini semua buat daya saing Indonesia 20-30 tahun ke depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi publik tidak melihat itu. Publik cuma lihat genteng, keripik, dan sepatu murah yang katanya &#8220;receh&#8221;. Padahal di balik itu, yang kami teliti adalah varietas tanaman yang menjadi narasi \u201ckeripik\u201d dan material maju yang jadi narasi \u201csepatu murah dan genteng\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Riset adalah jalan membuat Indonesia maju<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Riset yang terlihat &#8220;kecil&#8221; belum tentu tidak penting. Genteng biomassa dari serabut kelapa dan sekam padi itu bisa jadi solusi rumah murah dan ramah lingkungan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepatu murah yang kalian hina itu sebenarnya Namanya SMART RUBBER. Banyak UMKM yang bisa bikin sepatu, tapi apa bisa bikin karetnya? Karet itu mungkin bisa jadi solusi anak sekolah untuk tidak perlu beli <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-sepatu-lari-lokal-dengan-harga-kurang-dari-500-ribu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sepatu mahal<\/a> namun berkualitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan yang paling penting, hargai prosesnya. Riset itu tidak seperti masak mie instan. Ada yang butuh waktu bertahun-tahun, gagal puluhan kali, dan baru terasa manfaatnya puluhan tahun kemudian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mungkin cuma peneliti sosial. Istri saya mungkin cuma peneliti tanaman. Tapi kami sama-sama bangga jadi bagian dari BRIN. Sama-sama percaya bahwa riset adalah jalan buat Indonesia maju.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Mochammad Wahyu Ghani<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/inferiority-complex-dalam-dunia-riset-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Inferiority Complex dalam Dunia Riset Indonesia<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kami peneliti BRIN, mendadak jadi bahan olok-olok. Katanya kami cuma bisa habis-habisin anggaran negara buat riset yang &#8220;selevel UMKM&#8221;.<\/p>\n","protected":false},"author":807,"featured_media":414334,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[16864],"tags":[14586,34525,34524,34523,368,34526,31559],"class_list":["post-414330","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-brin","tag-genteng-brin","tag-keripik-brin","tag-peneliti-brin","tag-prabowo","tag-sepatu-brin","tag-sepatu-murah"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414330","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/807"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=414330"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414330\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":414335,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414330\/revisions\/414335"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/414334"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=414330"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=414330"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=414330"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}