{"id":414306,"date":"2026-08-20T15:32:05","date_gmt":"2026-08-20T08:32:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=414306"},"modified":"2026-08-20T15:32:05","modified_gmt":"2026-08-20T08:32:05","slug":"gen-z-lanjut-s2-bukan-karena-ambisi-tapi-patah-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gen-z-lanjut-s2-bukan-karena-ambisi-tapi-patah-hati\/","title":{"rendered":"Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangan saya tentang Gen Z lanjut S2 itu ya orang-orang yang hidupnya penuh akan goals. Tapi setelah melihat kehidupan teman-teman sendiri, saya sadar ada alasan lain yang jauh lebih manusiawi, absurd, sekaligus menyedihkan, yaitu patah hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena ingin jadi akademisi hebat atau mengejar karier cemerlang. Tapi, sebagian cuma sedang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/usai-patah-hati-terbitlah-mati-rasa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kehilangan arah hidup<\/a>, lalu berpikir, \u201cYaudah S2 aja dulu.\u201d Dan kalau dipikir-pikir, ya boleh aja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gen Z putus cinta di umur 20-an itu efeknya nggak main-main<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada fase dalam hidup ketika seseorang putus cinta lalu jadi lebih rajin olahraga. Ada juga yang tiba-tiba glow up, bikin usaha, atau mendadak hobi naik gunung. Tapi Gen Z punya <a href=\"https:\/\/lifestyle.kompas.com\/read\/2026\/03\/16\/140000120\/life-after-breakup--fase-hidup-baru-yang-banyak-dialami-gen-z\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara mengatasi<\/a> patah hati dengan lebih elegan: daftar S2.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena beda dengan patah hati waktu SMA yang paling mentok bikin galau sambil dengar lagu Hindia, patah hati di umur 20-an biasanya datang bareng krisis hidup. Apalagi kalau hubungan itu sudah dibawa ke arah serius. Eh, ujung-ujungnya rungkad juga. Setelah itu hidup mendadak kosong dan restart lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman-teman mulai sibuk kerja. Circle makin susah diajak nongkrong. Dan yang paling menyiksa, kita mulai sering sendirian dengan pikiran sendiri yang sering kali overthinking. Maka lahirlah keputusan yang unik banget: \u201cKayaknya lanjut S2 aja, deh.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Kuliah S2 jadi pelarian yang paling masuk akal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyatanya, S2 memang tempat pelarian yang paling terhormat buat Gen Z. Kalau galau lalu tiap malam nangis di kamar, orang tua pasti khawatir. Tapi kalau galau lalu daftar S2, semua orang malah bangga. Dan kampus memang punya kemampuan magis untuk membuat hidup terasa punya arah lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya hidup Gen Z jadi berwarna lagi karena ada jadwal kelas, tugas, presentasi, dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menghadapi-dosen-killer\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dosen killer<\/a> yang bikin stres. Kita jadi lupa sama mantan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena kadang, setelah lulus S1, fase hidup Gen Z memang sering absurd. Kita disuruh menentukan masa depan di usia ketika isi kepala sendiri saja masih berantakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal, mau kerja kadang belum siap. Udah pengin nikah, eh mantan malah pergi. Cita-cita healing, uangnya habis buat bensin dan jajan kopi. Akhirnya S2 terasa seperti tombol \u201cpause\u201d paling akademis untuk menunda kenyataan bagi banyak Gen Z.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gen Z lanjut S2 karena takut kehilangan status \u201cberproses\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada hal lain yang jarang kita bahas. Setelah lulus kuliah, banyak anak muda takut hidupnya terlihat stagnan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di media sosial, semua orang tampak sibuk berkembang. Ada yang kerja di startup atau ASN, atau buka usaha. Sementara kita? Masih rebahan sambil mikir kenapa hubungan yang sudah bertahun-tahun bisa kalah sama \u201cKita jalanin masing-masing dulu ya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, lanjut S2 kadang bukan soal pendidikan buat Gen Z. Ini soal menjaga perasaan bahwa hidup kita terus berjalan. Karena status \u201cmahasiswa\u201d membuat seseorang terlihat masih punya tujuan. Walaupun aslinya belum tentu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gen Z itu capek, tapi bingung menjelaskannya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, banyak Gen Z sekarang sebenarnya bukan malas. Mereka cuma lelah secara emosional. Kami tumbuh di zaman semua orang dituntut cepat sukses, mapan, kaya, tapi sekaligus harus tetap waras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami melihat orang seusia sudah punya rumah di TikTok, padahal tabungan sendiri kadang habis buat bayar paylater. Kami disuruh percaya bahwa kerja keras pasti berhasil, tapi lowongan kerja entry level saja syaratnya minimal pengalaman dua tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu di tengah semua itu, hubungan percintaan yang tadinya jadi tempat pulang malah ikut gagal. Jadilah hidup terasa seperti browser laptop yang terlalu banyak tab terbuka: bising, berat, dan sewaktu-waktu bisa nge-lag.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, ketika ada kesempatan lanjut S2, banyak Gen Z yang mengambilnya bukan karena cinta ilmu pengetahuan, tapi karena belum siap menghadapi hidup di luar kampus sepenuhnya. Dan jujur saja, saya nggak bisa menyalahkan itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>S2 jadi tempat menata ulang diri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun terdengar lucu, saya rasa tidak semua keputusan lanjut S2 karena patah hati itu buruk. Kadang seseorang memang butuh ruang baru untuk menyusun ulang hidupnya. Butuh lingkungan dan rutinitas baru, misalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kampus bisa memberikan itu. Kita bertemu orang baru, bahkan kadang menemukan versi diri yang sempat hilang setelah hubungan kandas. Masalahnya cuma satu: jangan sampai S2 menjadi pelarian permanen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena sejujurnya, tidak semua luka bisa sembuh dengan seminar, jurnal, dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-karena-jenius-tapi-kuliah-s2-memang-jauh-lebih-gampang-ketimbang-s1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">revisi proposal tesis<\/a>. Percayalah, ada fase ketika seseorang tetap bisa nangis habis bimbingan karena hidup ada saja gongnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dunia pendidikan yang mendadak jadi sangat romantis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya pikir lagi, dunia pendidikan Indonesia sekarang kok penuh orang patah hati, ya. Misal, masuk organisasi karena gagal move on, aktif seminar supaya lupa mantan, atau tiba-tiba ambis publish jurnal karena hidup percintaannya hancur. Coba bayangkan betapa emosionalnya itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar terlihat sedang mengejar gelar akademik. Padahal dalam hati cuma ingin membuktikan bahwa dirinya tetap bisa jadi \u201csesuatu\u201d setelah ditinggalkan. Makanya, saya kadang percaya bahwa S2 di Indonesia bukan cuma soal intelektual. Tapi juga tempat rehabilitasi emosional paling sunyi buat Gen Z<\/span><\/p>\n<h2><b>Sedikit menyindir diri sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, saya mulai mengerti kenapa banyak Gen Z lanjut S2 setelah patah hati. Karena di usia sekarang, kehilangan seseorang sering terasa seperti kehilangan arah hidup sekaligus. Dan, ketika semua terasa kabur, manusia memang cenderung mencari tempat yang membuat hidup kembali terstruktur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhamad Sigit Adji Saputra<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/universitas-terbuka-tempat-kuliah-milenial-dan-gen-z\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Universitas Terbuka, Tempat Kuliah yang Cocok untuk Milenial dan Gen Z<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena ingin jadi akademisi hebat tapi sebagian cuma sedang kehilangan arah hidup setelah patah hati.<\/p>\n","protected":false},"author":3330,"featured_media":414770,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13089],"tags":[34576,4448,6129,60,17167,17057],"class_list":["post-414306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-alasan-kuliah","tag-gen-z","tag-kuliah-s2","tag-patah-hati","tag-s2","tag-tesis"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3330"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=414306"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414306\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":414771,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414306\/revisions\/414771"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/414770"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=414306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=414306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=414306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}