{"id":414151,"date":"2026-08-14T11:48:24","date_gmt":"2026-08-14T04:48:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=414151"},"modified":"2026-08-15T15:50:20","modified_gmt":"2026-08-15T08:50:20","slug":"pengalaman-saya-6-jam-melihat-ikn-dari-dekat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-6-jam-melihat-ikn-dari-dekat\/","title":{"rendered":"Pengalaman 6 jam mampir ke IKN saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya"},"content":{"rendered":"<p><em>Ada yang penasaran dengan kabar IKN sekarang?\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah beberapa kali saya berkesempatan singgah di salah satu kota di Provinsi Kalimantan Timur. Sebuah kota yang terkenal dengan julukan Kota Minyak. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan terbayang Poltak atau Ruhut Sitompul pada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gerhana-sinetron-supranatural-paling-sangar-pada-masanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sinetron televisi Gerhana<\/a> yang punya julukan \u201cRaja Minyak dari Medan\u201d ya. Sebab, kita akan membahas Balikpapan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejarah mencatat, Balikpapan memiliki sumber daya alam berupa minyak yang melimpah. Kalian mungkin tidak asing dengan berita ditemukannya sumur minyak pertama di Balikpapan yang dinamai Mathilda. S<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">umur pengeboran pertama kaki Gunung Komendur di sisi timur Teluk Balikpapan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adanya potensi sumber daya alam yang besar otomatis menjadi magnet para pendatang untuk singgah atau bahkan akhirnya kerasan mencari penghidupan di kota ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau sudah beberapa kali ke Balikpapan, saya baru sadar ada satu pertanyaan yang selalu ditanyakan ojek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cNggak mau ke IKN kah, Mbak?\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya langsung teringat proyek fenomenal yang panas diperbincangkan saat debat pemilihan presiden beberapa tahun lalu. Ah, maaf bukan hanya saat debat, jauh ketika proyek ini masih menjadi wacana, Ibu Kota Nusantara sudah panas dibicarakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Balikpapan sebagai wilayah industri menjadi gerbang atau penyangga utama IKN. Jaraknya hanya sekitar 50-82,6 km tergantung rute yang dipilih secara waktu tempuh ya kurang lebih 60-90 menit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat pertanyaan dari ojol, saya akhirnya tertarik untuk mampir Ibu Kota Nusantara. Selama 6 jam di IKN, ini yang bisa saya jadikan oleh-oleh obrolan ke teman-teman.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Rasanya seperti mimpi, ada peradaban di tengah hutan\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang perjalanan menuju IKN, saya disuguhi pemandangan hutan di kiri dan kanan jalan. Bahkan, di titik tertentu, kalau tidak salah di kilometer 38, saya melihat monyet-monyet turun dari pepohonan dan nongkrong di pinggir atau tengah jalan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dahulu, saat masih SD, kalau mendengar kata Kalimantan pasti langsung terbayang hutan yang hijau. Ternyata memang betul, bagi saya yang lahir dan tumbuh di Jawa dengan luasan hutan yang tidak seberapa, agaknya hutan Kalimantan terasa spesial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, siapa yang menyangka di tengah hutan itu kita akan menemukan dunia lain. Bisa dibilang, menemukan negara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/singapura-memang-menyenangkan-dan-bikin-betah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Singapura<\/a> di tengah belantara. Kenapa Singapura? Sebab, sejauh pengamatan, IKN bak wilayah yang kecil tetapi maju atau metropolitan. Memang seperti kota masa depan, teratur, bersih (tentu saja karena belum banyak penduduknya), dan hijau.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 <\/b><b><i>Rest area<\/i><\/b><b> vs Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kali ini, saya berangkat menggunakan bus dari Terminal Batu Ampar, Kota Balikpapan. Harga tiketnya kalau tidak salah ingat Rp43.000. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Semua penumpang turun di <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rest-area-754-a-tol-surabaya-gempol-mirip-mal-lengkap\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">rest area<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai titik kumpul sebelum akhirnya bisa menggunakan jasa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">shuttle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk masuk ke Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara (KIPP IKN).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rest Area<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> cukup luas. Ada pusat jajanan dan kuliner tapi sayangnya lebih banyak yang tutup padahal saya ke sana di hari Sabtu. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kesan pertama yang saya dapat adalah terasa sekali disparitas ekonomi dan sosial. Perbedaan yang terlalu mencolok, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rest area<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang terkesan terburu-buru dan tidak siap.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aroma yang kurang sedap menjadi yang paling saya ingat, selain panas yang memang menjadi khas Kalimantan. Ada beberapa petugas dengan rompi IKN berjaga di dekat pintu, semacam pusat informasi bagi pengunjung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, rompi keren mereka masih belum diimbangi dengan penjelasan yang interaktif dan informatif terkait IKN. Mungkin saat itu, petugasnya masih baru. Saya mencoba maklum.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Mangkrak?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berita seringkali menyebut IKN mangkrak. Menurut saya sih tidak ya. Itulah kenapa saya bilang, seperti di Singapura. Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN terkesan sangat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fancy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, rapi, indah, dan bersih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seingat saya, konsep yang diusung memang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Smart Forest City<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Konsep ini memang terlihat dari berbagai tanaman yang juga menjadi penyeimbang dan pemanis sekeliling KIPP IKN. Walau memang, sejauh pengamatan saya masih ada beberapa bangunan yang belum jadi, tapi saya sih percaya itu masih <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">on progress<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Hehe\u2026<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 IKN estetik, tapi tidak ramah pengunjung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cuma punya waktu 6 jam mampir di IKN. Namun, selama waktu yang singkat itu, saya bisa pastikan IKN kawasan yang estetik. Perpaduan anatara hijau-hijau tanaman dan arsitektur gedungnya begitu menarik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin itu mengapa banyak orang mampir ke IKN untuk berwisata ya. Sejauh pengamatan saya saat mampir, pengunjung IKN kebanyakan dari kota\/kabupaten sekitar. Ada yang dari Kutai Kartanegara, Tenggarong, Balikpapan, dan Samarinda. Ada juga yang dari luar Kalimantan yang mungkin seperti saya yang sengaja melipir IKN karena penasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat mencari musala di dekat area Plaza Timur karena tidak keburu kalau harus ke Masjid IKN. Musalanya berada di salah satu gedung yang saya lupa namanya, tapi lagi-lagi bisa saya katakan estetik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cukup kaget disuguhi pohon di dekat musala. Saya kira bakal seperti orang menyembah pohon ketika bersujud, untungnya arah kiblat agak serong.\u00a0 <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau estetik, jujur saya kesal karena musala tersebut dilengkapi fasilitas AC dan remotenya, tapi tidak dengan baterainya. Byuh, mungkin harapan pembuat gedung saya dan jamaah yang salat bisa merasakan kesejukan hanya dengan melihat pohon dan\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">berdzikir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oiya, satu lagi, konsep kawasan ini adalah <\/span><a href=\"https:\/\/pu.go.id\/berita\/transformasi-menuju-indonesia-maju-menteri-pupr-pembangunan-ikn-usung-konsep-future-smart-forest-city\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Smart Forest City.<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Jadi jangan kaget kalau pas mengambil air wudhu kalian ketemu ulat atau serangga lain. Mungkin itu bagian dari konsep &#8220;forest&#8221;.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Shuttle IKN di jam-jam rawan perlu ditambah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya harus kembali ke Balikpapan. Tentunya menggunakan fasilitas shuttle yang memang disediakan gratis untuk pengunjung yang hendak kembali ke titik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rest area.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Bus yang saya pesan adalah bus terakhir yang beroperasi kalau tidak salah berangkat pukul 19.30 WITA.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, saya salah kalkulasi waktu. Momen itu menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">peak hour<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, orang-orang juga hendak kembali ke rest area. Sedangkan, jumlah shuttle yang beroperasi saat itu tidak berimbang dengan jumlah pengunjung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu tunggu pun menjadi sangat panjang. Terlebih hari itu adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">weekend<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, jumlah pengunjung pasti juga lebih besar dari weekdays. Saat itu saya sudah cukup panik, mengingat saya tidak menyiapkan perlengkapan menginap dan besoknya saya sudah harus ke Samarinda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan dari KIPP ke Rest Area membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Akhirnya, saya mendapatkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">shuttle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di pukul 19.14 masih dengan dagdigdug semoga saja saya tidak ketinggalan bus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Enam jam sebetulnya masih terlalu singkat untuk bisa mengelilingi IKN, tapi apa daya namanya juga melipir. Sempat tidak sempat yang harus sempat. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cukup senang merasakan pengalaman berwisata yang cukup berbeda karena bukan ke pantai, gunung, air terjun, tetapi ke kawasan ibu kota. Baru kali ini melihat peradaban di tengah hutan seperti adegan di film-film.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, sepulang mampir 6 jam dari IKN tadi saya langsung kepikiran. Apakah dampak sosial, ekonomi, dan lingkungannya memang benar-benar sudah diperhatikan? Apakah kesenjangan masih terasa? Antara hutan dan perkotaan apakah memang sudah bentul-betul berdampingan?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harusnya sih sudah ya \u2026 harusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Mozara Kartika Putri<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ikn-menjadi-lahan-pembuangan-asn\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">IKN Menjadi Lahan Pembuangan ASN Adalah Kontradiksi yang Terjadi Setiap Hari di Republik Ini.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><i><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengalaman mampir IKN tidak akan terlupa. Selama 6 jam bisa saya simpulkan tempat ini estetik walau memang banyak kekurangannya di sana-sini. <\/p>\n","protected":false},"author":2646,"featured_media":414161,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[2254,34499,15160,3353,21279],"class_list":["post-414151","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-ibu-kota-negara","tag-ibu-kota-nusantara","tag-ikn","tag-kalimantan","tag-kalimantan-timur"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414151","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2646"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=414151"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414151\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":414337,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414151\/revisions\/414337"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/414161"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=414151"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=414151"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=414151"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}