{"id":4141,"date":"2019-06-19T15:00:52","date_gmt":"2019-06-19T08:00:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=4141"},"modified":"2022-01-14T13:04:03","modified_gmt":"2022-01-14T06:04:03","slug":"mahasiswa-jurnalistik-harapan-kembalinya-pers-sebagai-watchdog","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mahasiswa-jurnalistik-harapan-kembalinya-pers-sebagai-watchdog\/","title":{"rendered":"Mahasiswa Jurnalistik Harapan Kembalinya Pers Sebagai &#8220;Watchdog&#8221;"},"content":{"rendered":"<p>Era digital kini turut menjadikan pers bertransformasi sedimikian rupa. Berbagai tantangan yang kemudian muncul tak hanya mendorong industri media menghasilkan berita berkualitas tapi juga menjamin peningkatan <em>pageviews<\/em> atau <em>clickers<\/em> dari suatu laman media daring. Jika diksi \u2018\u2019berkualitas\u2019\u2019 merujuk pada ajaran elemen jurnalisme-nya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel hal pertama jelaslah apa yang disebut sebagai <em>truth<\/em>\u2014kebenaran.<\/p>\n<p>Andreas Harsono dalam bukunya agama saya adalah jurnalisme mencoba menerangkan apa yang dimaksud \u2018\u2019kebenaran\u2019\u2019 oleh Bill Kovach, kebenaran yang bukan dalam tataran filosofis melainkan fungsional. Sehingga senantiasa bisa direvisi.<\/p>\n<p>Contoh seorang terdakwa bisa dibebaskan karena terbukti tak bersalah\u2014hakim bisa keliru. Pelajaran Sejarah, Fisika, Biologi bisa salah\u2014bahkan hukum-hukum ilmu alam pun bisa direvisi. Hal ini pula yang dilakukan oleh jurnalisme, sehingga kebenaran kebenaran dibentuk hari demi hari\u2014lapisan demi lapisan.<\/p>\n<p>Beberapa tahun belakangan saya mencoba memahami esai-esai Rusdi Mathari yang sebahagian orang akrab memanggilnya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/agm\/ulasan\/pojokan\/selamat-jalan-cak-rusdi\/\">Cak Rusdi seorang wartawan yang \u2018\u2019keras\u2019\u2019<\/a>.<\/p>\n<p>Keras disini berkonotasi pada tindak laku seorang wartawan yang gigih menyampaikan kebenaran dan pantang terima suap. Beruntung setiap esai yang ditulisnya di <a href=\"https:\/\/tirto.id\/berita-di-media-online-sebaiknya-berbayar-atau-tidak-cvqq\">kanal media online millik Puthut EA<\/a> kemudian dibukukan sehingga para insan pers dan juga mahasiswa jurnalistik punya gambaran laku wartawan ideal dan progresif.<\/p>\n<p>Saya menyebut mahasiswa jurnalistik karena Cak Rusdi pun pernah mengenyam pendidikan Jurnalistik. Mahasiswa jurnalistik hemat penulis menjadi gebrakan maupun cita ideal dalam mewujudkan kembalinya jurnalisme \u2018\u2019 guardian of democrasy\u2019\u2019 atau istilah lainnya \u2018\u2019watchdog\u2019\u2019 atas penguasa.<\/p>\n<p>Bukan berarti penulis meragukan kerja wartawan yang tak lahir dari bangku perkuliahan\u2014jurusan jurnalistik\u2014namun ada semacam degradasi pada kerja-kerja jurnalistik kini\u00a0 yang tak hanya dilakukan oleh sebahagian \u00a0wartawan senior pun wartawan yang baru berjibaku dalam dalam kerja-kerja jurnalisme.<\/p>\n<p>Walaupun tak menjamamin ketika lulus mahasiswa jurnalistik akan bekerja sebagai wartawan namun \u00a0ada semacam tanggung jawab moral \u00a0pada publik untuk mengajarkan atau memberi pendidikan literasi media ditengah tsunami <em>hoax<\/em> atau bagaimana seharusnya industri media beroperasi terutama ruang lingkup kerja wartawan.tanggung jawab tersebut jika disangkal hanya milik mereka yang disebut sebagai wartawan\u2014sungguh ironis~<\/p>\n<p>Bukankah mahasiswa secara umum telah mengetahui perannya sebagai agen perubahan terlebih mengetahui bagaimana media bekerja dengan berbagai kebohongan yang tidak diketahui oleh publik\u2014bagi mahasiswa jurnalistik.<\/p>\n<p>Noam Chomsky, Filsuf dan Kritikus kebijakan Amerika,\u00a0 pernah menggambarkan kerja-kerja pers yang dianggapnya jauh dari nilai dan perannya sebagai <em>gatekeeper<\/em> informasi yang beredar di tengah masyarakat, ia mempersepsikan bahwa informasi yang disuguhkan oleh media tak lebih dari hasil rekonstruksi berbagai kepentingan di ruang redaksi. Sebetulnya pemikiran Choamsky pun disandarkan pada kekecewaan terhadap \u00a0media yang hanya sekadar menjadi humas penguasa-kala itu ia mengkritik kebijakan Presiden Amerika atas invasinya di Irak dengan alibi yang sama sekali tak berdasar\u2014Amerika meyakinkan publik bahwa tindakan mereka sudah benar guna menjaga keamanan nasional pun dunia dari senjata pemusnah massal yang diklaim berada di Irak. Sedangkan yang dilakukan media pun tak lebih sekadar melegitimasi tindakan negara adikuasa tersebut sehingga masyarakat dunia terkhusus anti Islam atau\u00a0 Islamhopobia turut membenarkan tindakan Amerika hingga warga sipil Irak pun turut menjadi korban atas tindakan negeri berjuluk Paman Sam.<\/p>\n<p>Bukan berarti tak ada media yang mencoba membeberkan fakta atas tindakan Amerika tersebut namun upaya jelas lebih gigih karena mencoba melawan pemberitaan media dengan kapital besar.\u00a0Sebut saja New York Times yang muncul ke permukaan tak lebih dari sekadar humas penguasa atas tindakan invasi tersebut. Jika berkenan meluangkan waktu para pembaca bisa menonton film jurnalisme\u2014Film Shock and Awe\u2014yang diangkat dari kisah upaya media kecil, wartawan, pamor dan kapital dalam melawan kebohongan elite penguasa dan kebohongan media.<\/p>\n<p>Film Shock and Awe mencoba menggambarkan kembali bahwa ada dosa jurnalistik terhadap kematian warga sipil di Irak. Kenapa dosa jurnalistik\u2014karena berita yang beredar di ruang-ruang publik adalah hasil dari konstruksi kebenaran\u2014berita\u2014atas kepentingan tertentu yang kemudian menggiring opini publik lalu mensahkan segala tindakan atas dasar keamanan walaupun nyawa warga sipil terenggut.<\/p>\n<p>Tak salah jika kemudian judul buku Cak Rusdi yang terpampang jelas pada cover ialah Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan.\u00a0Pesan tersirat pada judul\u2014penulis mencoba mempersepsikan bahwa ada upaya melibatkan publik dalam proses pemahaman jurnalisme sehingga publik tak hanya menjadi objek pasif\u2014pembaca\u2014namun juga faham bagaimana jurnlalisme bekerja. Sehingga setiap berita yang ditampilkan tak langsung dikunyah mentah-mentah.<\/p>\n<p>Belakangan pun kemudian muncul gebrakan baru ranah jurnalisme-jurnalisme warga\u2014setiap warga bisa berperan sebagai jurnalis dalam memberitakan kejadian yang ada disekelilingnya pun menjadi upaya pengenalan sekaligus pembelajaran kerja jurnalisme. Mahasiswa jurnalistik menjadi harapan lakunya wartawan ideal atas media yang sekadar menjadi \u2018\u2019humas\u2019\u2019 penguasa. Saya yakin mengapa jurusan jurnalistik dibentuk ialah melahirkan wartawan handal dan berdaya saing mampu mengonsep masa depan media pun tak kehilangan gairah kritis pun skeptis atas setiap kebijakan pemerintah pusat pun daerah. Jelas ini pemikiran penulis yang sekiranya tak jauh berbeda dari visi misi jurusan tersebut.<\/p>\n<p>Saya melihat banyak dari mahasiswa jurnalistik yang nyambi jadi wartawan di berbagai media lokal dan nasional\u2014menjadi tumpuan masyarakat atas penyuguhan berita yang berkualitas. Sama seperti Cak Rusdi atau melebihi kecerdasan dan kemampuan menulis dan terjaga harga dirinya sebagai jurnalis.<\/p>\n<p>Tak hanya Cak Rusdi\u2014banyak dari wartawan kondang yang kerap menghiasi layar kaca seperti Najwa Shihab yang membuka cakrawala berfikir kritis atas berbagai konflik yang terjadi dan yang terakhir pada kasus kematian supporter sepak bola\u2014Najwa mencoba membangun narasi \u2018\u2019jurnalisme damai\u2019\u2019 atas tragedi sepak bola di Indonesia<\/p>\n<p>Karni Ilyas yang menjadi bapak dari lahirnya wartawan hebat lainnya. Goenawan Mohammad dengan majalah Tempo besutannya. Pun Tirto Adhi Soerjo perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional yang gigih menentang kolonialisme.<\/p>\n<p>Bangkitlah mahasiswa jurnalistik\u2014pers Indonesia tengah mati suri di tengah hegemoni kekuasaan dan kapitalisasi media. Noam Chomsky mengingatkan bahwa <em>siapa yang mengontrol media maka akan mengontrol pikiran publik<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Noam Chomsky, Filsuf dan Kritikus kebijakan Amerika,\u00a0pernah menggambarkan kerja-kerja pers yang dianggapnya jauh dari nilai dan perannya.<\/p>\n","protected":false},"author":92,"featured_media":4197,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[1013,34,1081,1082],"class_list":["post-4141","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-jurnalistik","tag-mahasiswa","tag-pers","tag-watchdog"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4141","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/92"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4141"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4141\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4197"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}