{"id":414018,"date":"2026-08-13T11:28:36","date_gmt":"2026-08-13T04:28:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=414018"},"modified":"2026-08-13T11:28:36","modified_gmt":"2026-08-13T04:28:36","slug":"saya-masuk-desil-10-padahal-hidup-saya-benar-benar-mengenaskan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-masuk-desil-10-padahal-hidup-saya-benar-benar-mengenaskan\/","title":{"rendered":"Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan buka tulisan ini dengan amat sederhana: penghasilan saya masuk desil 10.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak, saya jelas tidak pamer. Saya tidak sedang memamerkan penghasilan, kekayaan, atau semacamnya. Justru saya sedang kaget, manusia tanpa kekayaan kok bisa-bisanya masuk ke penghasilan tertinggi, berbagi tempat dengan orang-orang sugih mblegedhu di Indonesia, kan MASUK AKAL.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang nggak tahu maksud dari desil 10, sederhananya gini: orang yang masuk desil 10, masuk 10 persen kelompok penduduk teratas yang sangat kaya. Singkatnya lagi: elite. Sangar ora kui? Suangaaaar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya, basically, sudah masuk kelompok elite of the elite orang Indonesia. Sudah lumayan pantas mendaku Kaum Naga Langit. Sudah lumayan pantas untuk menepuk dada. Saya elite menurut negara, po ra sangar kui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya adalah, realitas sebenarnya jauh dari kata masuk akal. Jauh. Banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Betul saya punya rumah (yang harus dicicil 10 tahun ke depan), kendaraan, dan pemasukan yang oke. Setidaknya nek adu penghasilan sama PNS, ya jelas saya bisa berdiri tegak menantang lah. Tapi kalau masuk elite, top 10 persen penduduk Indonesia, ra mashok blas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, mana ada elite yang ndase mumet tiap bulan untuk berusaha hidup? Cara pengambilan datanya gimana sih?<\/span><\/p>\n<h2><b>Desil 10 dan masalah-masalah yang ada<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bukan pakar ekonomi, jelas. Tapi saya menggugat betul pengelompokan saya dan label penghasilan super kaya dari negara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, desil 10 adalah tier tertinggi, yang memang harusnya diisi oleh orang-orang dengan penghasilan tertinggi. Sedangkan saya saja tak sebesar itu. Saya bisa menyebut 20 orang kenalan saya dengan penghasilan yang lebih tinggi ketimbang saya. Dan saya yakin, ada jutaan orang dengan penghasilan yang jauh lebih tinggi ketimbang saya di Jawa saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, memasukkan saya ke kategori tertinggi jelas ada masalah. Saya tak tahu implikasi real life-nya apa, tapi bisa jadi saya akan dikira bisa afford segala-galanya, padahal realitas jauh dari itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya gini wis. Kalau tiba-tiba ada kebijakan, orang dengan desil 10 nggak boleh beli pertalite, itu pasti merugikan saya. Selama ini, saya hanya butuh 70 ribu per minggu untuk kebutuhan bahan bakar, alias 7 liter pertalite, karena saya lumayan mobile, plus rumah dan tempat kerja saya beda kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau saya nggak boleh beli pertalite, dan wajib beli pertamax, dari yang awalnya saya hanya habis 70 ribu, jadi 111 ribuan. Itu bedanya lebih dari 50 persen. Sebulan hampir 500 ribu saya habiskan buat bensin, kan goblok. Saya naik motor lho, bukan Innova. Kan anjeng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, jelas, desil 10 ini <a href=\"https:\/\/www.threads.com\/share\/PLoq-QRPN\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">variabelnya<\/a> nggak cuma penghasilan. Ada kepemilikan aset, pendidikan, demografi, ketenagakerjaan, dan sebagainya. Tapi, katakanlah tentang kepemilikan aset dan pendidikan yang bikin saya masuk desil 10, tetep nggak masuk akal. Masak saya yang punya rumah harga di bawah 200 juta, itu pun saya cicil 15 tahun, jadi satu kategori dengan Raffi Ahmad yang beli rumah kayak beli Point Coffee?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan pengkategorian ini bikin saya harus bayar segalanya lebih mahal. Lha yo mung remuk bakule slondok, riiii.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketimpangan yang nyata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di saat yang sama, saya justru melihat satu hal: ketimpangan yang ada di Indonesia ini beneran mengerikan. Maksudnya, jika kelas menengah macam saya, yang lebih sering ngirit ketimbang spending ini masuk elite, lha yang beneran miskin kayak apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masak orang dengan pemasukan imut ini masuk desil 10. Saya malah jadi takut membayangkan orang-orang yang masuk desil di bawah saya. Hidup mereka pasti mengerikan. Jika saya yang dianggap elite ini hidup saja masih penuh tanda tanya, bagaimana mereka yang divonis miskin oleh negara?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah tabel desil itu hoax atau tidak (saya harap sih, iya), ada masalah besar yang akhirnya tampak. Kesenjangan serta kesulitan ekonomi di negara kita amat nyata. Kelas menengah makin pesimis dan menipis, kaum miskinnya ternyata banyak banget, sedangkan hari-hari ke depan, sama sekali tidak punya pegangan untuk optimis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, sudah saatnya negara mengambil langkah drastis untuk menaikkan ekonomi, entah lewat perputaran uang yang masif atau peningkatan upah. Program-program yang ada sudah terbukti tak ada efeknya, justru bikin kondisi makin runyam. Tapi ya, ini langkah yang masuk akal. Sedangkan kita tahu sendiri, langkah yang diambil kerap sebaliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penutup, saya memaki status saya sebagai anggota desil 10, tapi di saat yang sama, mencoba mengaminkan hal tersebut. Semoga saya beneran punya penghasilan yang bener-bener elite. Sebab hidup di negara ini, kalau tak punya pemasukan yang besar, tak ada bedanya dengan mati berdiri.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Yamadipati Seno<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-kelas-menengah-dan-saya-beneran-pengin-kaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya memaki status saya sebagai anggota desil 10, tapi di saat yang sama, mencoba mengaminkan hal tersebut.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":414019,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[298,34480,34481,34482,4311],"class_list":["post-414018","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-bps","tag-data-bps","tag-desil-10","tag-desil-10-penghasilan-berapa","tag-kelas-menengah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414018","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=414018"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414018\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":414020,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/414018\/revisions\/414020"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/414019"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=414018"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=414018"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=414018"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}