{"id":413972,"date":"2026-08-13T10:00:38","date_gmt":"2026-08-13T03:00:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=413972"},"modified":"2026-08-12T20:41:19","modified_gmt":"2026-08-12T13:41:19","slug":"sisi-red-flag-orang-orang-tahlilan-yang-sulit-saya-terima","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-red-flag-orang-orang-tahlilan-yang-sulit-saya-terima\/","title":{"rendered":"Sisi red flag orang-orang tahlilan yang sulit saya terima, mulai dari rasan-rasan hingga menjadikan piring sebagai asbak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perdebatan soal perlu atau nggaknya tahlilan ketika ada orang meninggal sempat menghiasi<a href=\"https:\/\/www.threads.com\/@rvlvelle\/post\/DbtL8w-lL-V?xmt=AQG08M-Qy7OCCwGXHzLatgEBCfgwWck67hXFl13nTLHyNWZ2iUKY67E0BQfFGZ7-zMf670g\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> media sosial<\/a> beberapa waktu lalu. Semua dipicu karena adanya orang-orang yang merasa bahwa alih-alih meringankan, ritus ini justru malah memberatkan atau menambah beban pihak yang sedang berduka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/tahlilan-jadi-beban-fisik-dan-mental-perempuan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tuan rumah yang sedang berduka<\/a> harus menyiapkan makanan, kopi, bahkan rokok buat para jamaah tahlil. Sesuatu yang sebenarnya nggak perlu-perlu amat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya agak kurang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">relate<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan perdebatan ini. Karena kalau tahlilan dibilang memberatkan, saya nggak nemu hal itu di sekitar saya. Di tempat saya tinggal, tuan rumah (yang berduka) nggak usah repot menyiapkan keperluan tahlilan (makan, kopi, rokok, dsb). <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu sudah di-cover oleh tetangga dan saudara. Ini sudah jadi semacam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">unwritten rules<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan selama ini nggak ada masalah. Semuanya saling mengerti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, saya heran dengan orang-orang yang debat soal perlu atau nggaknya tahlilan ini. Tiap orang, tiap tempat, punya kultur tahlilan yang berbeda. Bisa banget diobrolin langsung dengan yang bersangkutan, nggak perlu sampai debat di medsos. Bagi saya, masalah ini bukan soal perlu atau nggak. Masalah tahlilan ini sebenarnya ada di kelakuan orang-orangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama saya ikut tahlil (khususnya untuk orang meninggal), ada saja kelakuan para jamaah tahlil yang bikin geleng-geleng kepala. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Red flag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, nggak ada adab, nggak tahu tempat dan situasi. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mentolo tak kon moleh,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kalau kata orang-orang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rasan-rasan saat tahlilan bikin muak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum tahlilan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rasan-rasan,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> setelahnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rasan-rasan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">lagi. Budaya <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/risiko-tinggal-di-desa-pelosok-dari-sinyal-gaib-sampai-gosip-ngeri\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">rasan-rasan <\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/risiko-tinggal-di-desa-pelosok-dari-sinyal-gaib-sampai-gosip-ngeri\/\">atau gosip<\/a> atau gibah ini kayaknya nggak bisa lepas dan sudah mendarah daging di tubuh orang Indonesia. Seakan tanpa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rasan-rasan,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hidup mereka akan tersiksa dan mati sengsara. Nggak peduli di mana tempatnya, pokoknya harus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rasan-rasan.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Nggak terkecuali ketika momen tahlilan itu sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering banget saya menjumpai di momen tahlilan, baik itu sebelum dimulai atau setelahnya, obrolan beberapa jamaah nggak jauh-jauh dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngerasani<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> orang lain. Mulai dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngerasani <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">orang\/tetangga yang nggak ikut, hingga ada juga yang sampai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngerasani <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">keluarga tuan rumah yang nggak pernah kelihatan. Nggak kebayang gimana perasaan tuan rumah kalau sampai dengar<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngawur banget, kan? Ini situasinya lagi berduka, dan momennya juga lagi berdoa. Kok ya masih kepikiran buat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rasan-rasan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">itu otaknya di mana, coba? Tugas kita itu menghibur tuan rumah yang berduka, bukan malah nyebar penyakit di rumah orang yang berduka dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rasan-rasan.<\/span><\/i><\/p>\n<h2><b>Merokok nggak tahu adab dan tempat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelakuan jamaah tahlil yang juga bikin geleng-geleng kepala adalah kebiasaan merokok yang nggak tahu tempat. Siapa saja yang pernah ikut tahlilan pasti sudah paham bahwa rokok dan tahlilan seakan nggak bisa dipisahkan. Seakan rokok jadi semacam suguhan wajib ketika ada acara berlangsung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, kebiasaan orang merokok di tahlilan ini kadang mengganggu, bahkan menyebalkan. Ada yang maksa merokok di dalam padahal rumah\/tempatnya sempit dan sirkulasi udaranya jelek.\u00a0 Tidak sedikit pula yang maksa merokok padahal di dekat mereka ada anak kecil atau orang tua sepuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga jamaah tahlil yang masih menyalakan rokok ketika tahlilan dimulai. Duduknya memang di luar sih, tapi apa nggak bisa ditunda dulu, ya? Kelakuan yang paling bikin geleng-geleng, ada yang sampai request merek rokok. Entah konteksnya bercanda atau gimana, tapi itu jelas nggak etis. Mbok ya yang tahu adabnya, lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya itu perokok aktif. Saya nggak keberatan dengan adanya rokok di acara tahlilan. Namun, yang penting tahu adab, tahu tempat, dan tahu situasi. Jangan sembarangan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menjadikan piring bekas makan sebagai asbak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk poin ini, saya bisa saja memasukkannya di atas, jadi satu dengan poin merokok nggak tahu tempat dan nggak tahu adab. Namun, saya memilih untuk memisahkannya, sebab saya punya keresahan yang cukup besar, cukup mengganggu tentang hal ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini sering banget terjadi, dan entah sudah berapa kali saya menjumpai peristiwa ini di momen tahlilan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. Buat para jamaah tahlil yang merokok, ada benda yang namanya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-maen-kafe-udah-nyediain-asbak-perokok-tetep-buang-puntung-sembarangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">asbak<\/a> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ashtray<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Asbak itu diciptakan sebagai tempat membuang abu dan punting rokok. Tiap rumah yang ditinggali perokok, pasti ada minimal satu asbak. Kalau misalnya tuan rumah menyediakan rokok ketika tahlilan, pasti mereka menyediakan asbak. Kalau ternyata jumlah asbaknya kurang, tinggal minta ke tuan rumah, sesimpel itu, kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang isi kepalanya berfungsi dengan baik, orang yang dididik dengan baik oleh ibu-bapaknya, pasti akan membuang abu dan puntung rokoknya di asbak, bukan di piring bekas makanan! <\/span><\/p>\n<p>Piring yang terkena bekas abu dan puntung rokok itu selain susah\u00a0<span style=\"font-weight: 400;\">membersihkannya, juga nggak akan pernah bersih dan kembali seperti semula. Mau dicuci pakai sabun ciptaan NASA pun nggak akan bisa menghilangkan semua residu nikotin yang telanjur menempel di piring. Kalau sudah begini, piringnya ya terpaksa dibuang, nggak dipakai untuk makan atau tempat makanan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian, apa susahnya sih, minta asbak sama tuan rumah? Lha wong tinggal ngomong. Merokok di rumah orang aja bisa, masak minta asbak nggak bisa? Perokok kok pengecut dan nggak beradab gitu, Apa nggak malu sama jamaah tahlil yang masih punya adab? Orang-orang yang modelan begini emang sebaiknya nggak perlu diundang tahlilan lagi, deh. Ngerepotin!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Iqbal AR<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bangun-rumah-di-desa-itu-mahal-secara-mental-ada-saja-konfliknya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya.\u00a0<\/a><\/em><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tahlilan yang saya tahu sebenarnya punya maksud dan tujuan baik, tapi beberapa orang red flag membuat tahlilan ini jadi musuh bersama. <\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":413979,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[11349,8540,8545],"class_list":["post-413972","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-jamaah-masjid","tag-tahlil","tag-tahlilan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413972","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=413972"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413972\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":413978,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413972\/revisions\/413978"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/413979"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=413972"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=413972"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=413972"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}