{"id":413840,"date":"2026-08-12T15:58:29","date_gmt":"2026-08-12T08:58:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=413840"},"modified":"2026-08-12T15:58:29","modified_gmt":"2026-08-12T08:58:29","slug":"cerita-orang-muhammadiyah-hidup-di-kultur-nu-tegal-yang-kental","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cerita-orang-muhammadiyah-hidup-di-kultur-nu-tegal-yang-kental\/","title":{"rendered":"Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya besar di Kampung Purwodiningratan Jogja. Sebuah kampung yang berjarak hanya 1 kilometer dari<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/histori\/kisah-gus-dur-di-kauman-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Kauman<\/a>, tempat Muhammadiyah lahir dan berkembang.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, sejak kecil hingga remaja, saya akrab dengan cara dan tradisi Muhammadiyah. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga akhirnya, ketika sudah dewasa dan harus merantau ke Tegal untuk urusan pekerjaan, saya mulai terpapar dan akrab dengan kultur keagamaan NU yang berbeda dengan Muhammadiyah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya tentu ada beberapa hal yang bikin syok. Namun, seiring berjalannya waktu, saya jadi memahami banyak hal.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Adzan salat Jumat dua kali dan khatib membawa tongkat, berbeda dengan kultur Muhammadiyah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak kecil saya terbiasa mengikuti salat Jumat di masjid Muhammadiyah. Adzan salat Jumat berkumandang satu kali, kemudian orang yang khotib naik ke mimbar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali<a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/salat-jumat-yang-transaksional\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> salat Jumat<\/a> di Tegal ternyata beda dengan kebiasaan yang selama ini saya pahami. Saya sempat bingung ketika mendengar adzan dikumandangkan dua kali. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan saya baru tahu bahwa adzan pertama menandakan masuknya waktu zuhur, sedangkan adzan kedua menjadi tanda khotbah Jumat akan segera dimulai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum selesai urusan adzan, saya dibuat heran ketika melihat orang yang khotib naik ke mimbar dengan membawa tongkat. Pemandangan seperti ini benar-benar baru, tidak pernah saya temui di lingkungan Muhammadiyah sebelumnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jumlah rakaat salat tarawih Muhammadiyah dan NU ternyata berbeda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ramadan adalah bulan yang paling saya tunggu. Bulan penuh berkah ini selalu ramai karena umat Islam berlomba-lomba untuk mendapatkan pahala. Salah satu caranya dengan mengikuti salat tarawih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak kecil saya terbiasa salat tarawih 11 rakaat di masjid Muhammadiyah. Ketika pertama kali mengikuti tarawih di Tegal dengan tradisi NU, saya terkejut ternyata jumlahnya 23 rakaat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, meskipun jumlah rakaat lebih banyak, tarawih justru selesai lebih cepat. Rupanya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kultum-pemuda-tersesat-akhirnya-ada-wadah-untuk-pertanyaan-liar-seputar-agama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kuliah tujuh menit<\/a> tidak dilakukan setiap malam. Ada yang dua hari sekali atau seminggu sekali. Di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, saya juga menemukan tradisi qunut pada rakaat terakhir salat witir.<\/span><\/p>\n<h2><b>Buka tutup botol air minum saat istighosah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini merupakan pengalaman yang paling saya ingat. Pabrik tempat saya bekerja rutin mengadakan istighosah setiap awal tahun. Biasanya acara dipimpin oleh seorang habib dan peserta istighosah akan mendapatkan air minum mineral dalam botol.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah acara saya mulai mengantuk. Tiba-tiba saya dijawil oleh teman di sebelah, saya kira dia menegur saya yang hampir terlelap. Ternyata dia mengisyaratkan untuk membuka tutup botol air minum. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun manut, teman saya menjelaskan air putih tersebut dipercaya dapat menyerap doa-doa selama istighosah. Pemahaman seperti ini tentu merupakan pengalaman baru bagi saya karena tidak pernah saya temui di lingkungan Muhammadiyah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Diberi parfum saat hadroh jamiyahan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain istighosah setiap awal tahun, setiap dua pekan sekali pabrik saya mengadakan jamiyahan.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Acara biasanya diawali dengan terbangan atau hadroh dan diakhiri dengan ceramah agama. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Muhammadiyah yang baru pertama kali ikut jamiyahan, saya kembali dibuat bingung ketika di tengah <a href=\"https:\/\/www.nugresik.or.id\/jamiyah-hadrah-nibrosul-muhibbin-media-dakwah-shalawat-kiai-utsman-amin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">hadroh<\/a> jamaah tiba-tiba berdiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak lama kemudian, seseorang yang dituakan berkeliling menyemprotkan parfum kepada jamaah. Saya kembali mencontek gerakan teman di sebelah. Ketika teman sebelah meratakan parfum ke sekujur badan, saya pun melakukan hal yang sama. Maklum, sebagai pendatang saya memegang prinsip yang sederhana: kalau tidak tahu harus bagaimana, lihat kanan-kiri terlebih dahulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah pengalaman beribadah di Tegal sebagai orang Muhammadiyah. Pengalaman tersebut semakin membuat saya belajar bahwa perbedaan bukanlah menjadi alasan untuk saling menjauh. Pada akhirnya perbedaan bukanlah untuk dipertentangkan, jadikanlah perbedaan sebagai ladang latihan untuk saling menghormati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Arief Nur Hidayat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebiasan-warga-tegal-yang-aneh-tapi-kini-malah-saya-tiru\/\"><b><i>3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Besar di lingkungan Muhammdiyah membuat saya kaget ketika harus pindah ke Tegal dengan budaya NU yang kental, tapi lama-lama biasa juga. <\/p>\n","protected":false},"author":1676,"featured_media":413924,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[115,525,2801,2857],"class_list":["post-413840","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-muhammadiyah","tag-nu","tag-tegal"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413840","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1676"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=413840"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413840\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":413934,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413840\/revisions\/413934"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/413924"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=413840"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=413840"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=413840"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}