{"id":413768,"date":"2026-08-12T12:32:14","date_gmt":"2026-08-12T05:32:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=413768"},"modified":"2026-08-12T12:32:14","modified_gmt":"2026-08-12T05:32:14","slug":"5-istilah-di-hajatan-tegal-yang-membingungkan-bagi-banyak-orang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-istilah-di-hajatan-tegal-yang-membingungkan-bagi-banyak-orang\/","title":{"rendered":"5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiap daerah punya istilah-istilah yang tumbuh di tengah kesehariannya. Misalnya saja di Tegal, mereka ternyata punya beberapa istilah khusus ketika menggelar hajatan. Kata-kata ini muncul hanya ketika hajatan, itu mengapa masih banyak orang yang bingung ketika mendengarkannya. Tidak terkecuali warga Tegal sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di bawah ini 5 istilah yang biasa digunakan di hajatan warga Tegal. Saya tuliskan supaya kalian yang jarang ikut hajatan di Tegal nggak bingung lagi ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Balik klasa yang biasanya digelar warga Tegal setelah hajatan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-kampung-saya-bahasa-indonesia-masih-dianggap-milik-orang-kota\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Indonesia<\/a>, klasa berarti tikar tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalam hajatan, klasa adalah alas duduk para tamu. Sementara balik berarti mengembalikan klasa yang digelar di lantai ke tempat semula.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, bagi warga Tegal, balik klasa berarti selamatan setelah hajatan selesai. Katanya, para orang tua zaman dahulu tidak sekedar menggelar selamatan ketika balik klasa. Konon mereka benar-benar melakukan ritual membalikkan klasa di kamar pengantin.\u00a0 Ritual ini sebagai bentuk doa agar pengantin terhindar dari segala macam hal tercela ketika mengarungi mahligai rumah tangga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, hal itu sudah tidak dilakukan lagi di rangkaian hajatan warlok Tegal sekarang ini. Balik klasa hanya mengundang orang terdekat saja yakni kerabat dekat dan tetangga kanan kiri. Hal ini berbeda dengan selamatan sebelum hajatan, di mana umumnya mengundang banyak orang. Kata ustadz yang biasa memimpin doa dalam kegiatan balik klasa, tujuan diadakannya balik klasa adalah ungkapan syukur karena acara bisa terlaksana.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kirab yang penuh makna filosofis bagi warga Tegal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Tegal, ijab kabul dan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/corak\/curhat\/saya-pengin-bikin-resepsi-pernikahan-sederhana-tapi-orangtua-penginnya-sebaliknya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> resepsi<\/a> dilaksanakan di rumah mempelai wanita. Setelah resepsi selesai, dilaksanakan namanya kirab.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kirab, kedua mempelai diantar ke rumah mempelai pria. Pada prosesi kirab, bukan hanya keluarga mempelai wanita saja yang mengantar, tetapi para tetangga juga turut serta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nantinya ketika sampai di rumah mempelai pria, ibu dari mempelai pria akan menyisir rambut mempelai wanita. Makna filosofisnya adalah menyisir masalah atau masa lalu agar kehidupan kedepannya berjalan lancar tanpa hambatan. Sementara itu mereka yang ikut kirab akan diberikan jamuan dan ketika pulang diberikan berkat.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Begadang berjamaah saat hajatan disebut lek-Lekan\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lek-lekan merupakan istilah begadang berjamaah di acara hajatan, dilakukan oleh para kerabat dan tetangga kanan kiri. Dalam hajatan khitanan, lek-lekan dilaksanakan di malam pertama selepas <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sunat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">khitan<\/a>. Sementara di hajatan pernikahan, lek-lekan dilaksanakan pada malam setelah siangnya ijab kabul dan dilaksanakan di rumah mempelai wanita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lek-lekan di Tegal bukan sekedar begadang semata, tetapi membaca maulid atau barzanji dengan diiringi rebana. Pada lek-lekan tuan rumah memberikan berbagai macam hidangan, mulai dari makanan berat hingga makanan ringan. Di Tegal, keluarga mempelai pria memberikan kambing ke keluarga mempelai perempuan. Kambing ini nanti disembelih untuk hidangan lek-lekan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Kiriman sebagai bentuk silaturahmi pasangan suami istri baru\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah rangkaian prosesi hajatan pernikahan selesai ada yang namanya kiriman. Ini merupakan semacam silaturahmi pasangan suami istri baru guna memperkenalkan diri ke para tetangga dan kerabat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam silaturahmi ini pengantin baru tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa makanan. Orang dulu dalam membawa makanan tersebut menggunakan rantang. Namun, zaman sudah berubah, jarang yang menggunakan rantang. Wadah pun kini bervariasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Tegal makanan dalam kiriman biasanya berisi nasi, lalu lauk pauk berupa ayam utuh satu ekor atau daging sapi, kemudian ada telur asin, ikan laut, orek tempe, kacang teri, kentang balado.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kiriman tersebut tidaklah gratis. Mereka yang mendapatkan kiriman adatnya harus membayar. Besaran nilainya tergantung dari kiriman apa yang diberikan. Jadi dikira-kira sendiri harganya berapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Selain membayar uang, juga ketika pengantin pamit pulang dibawakan oleh-oleh. Biasanya ada yang memberikan beras, rengginang, kripik, dan lainnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Rewang kegiatan sukarela di hajatan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-takut-rewang-dan-pulang-dicap-nggak-bisa-apa-apa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rewang<\/a> merupakan bantuan tenaga para tetangga dalam hajatan, entah pernikahan, khitanan, atau hajatan lainnya. Bantuan ini bersifat sukarela dan tidak dibayar. Tuan rumah cukup menyediakan konsumsi saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan rewang ini mulai dari memotong bahan-bahan sampai menjadi masakan. Lalu membungkus berkat, sampai cuci gelas dan piring. Mereka yang ikut rewang punya job desknya masing-masing, tinggal pilih mau yang mana. Untuk urusan dapur rewang umumnya bagian perempuan, sementara bapak-bapak bertugas membangun tenda hajatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 5 istilah dalam tradisi hajatan masyarakat Tegal yang belum banyak orang tahu. Semoga tulisan ini bisa membantu kalian yang hendak ikut hajatan di Tegal ya,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Malik Ibnu Zaman<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebiasan-warga-tegal-yang-aneh-tapi-kini-malah-saya-tiru\/\"><b><i>3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a> <i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Tegal ada beberapa istilah yang sering digunakan saat hajatan pernikahan maupun khitanan, istilah ini masih asing di telinga banyak orang.<\/p>\n","protected":false},"author":1488,"featured_media":413859,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[363,34467,365,34468,2857,34195,34469],"class_list":["post-413768","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-hajatan","tag-hajatan-tegal","tag-pernikahan","tag-resespsi-pernikahan","tag-tegal","tag-warga-tegal","tag-warlok-tegal"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413768","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1488"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=413768"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413768\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":413861,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413768\/revisions\/413861"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/413859"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=413768"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=413768"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=413768"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}