{"id":413485,"date":"2026-08-09T13:34:12","date_gmt":"2026-08-09T06:34:12","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=413485"},"modified":"2026-08-09T13:34:12","modified_gmt":"2026-08-09T06:34:12","slug":"iuran-wajib-hari-kemerdekaan-indonesia-itu-penjajahan-gaya-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/iuran-wajib-hari-kemerdekaan-indonesia-itu-penjajahan-gaya-baru\/","title":{"rendered":"Tradisi iuran wajib untuk perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di kampung itu nggak masuk akal karena nggak semua warga punya uang sisa cuma buat panggung hiburan yang bikin berisik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sore di awal Agustus selalu nggak bisa diem. Ketukan pintu rumah terdengar, lalu seorang pengurus RT berdiri sambil menyodorkan selembar amplop proposal peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya membuka amplop tersebut dengan harapan menemukan undangan sederhana untuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kawula-milenial-menggugat-sistem-kerja-bakti-tanpa-wedang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kerja bakti<\/a> atau lomba anak-anak. Namun, mata saya justru terpaku pada deretan angka di kolom paling bawah: iuran wajib minimal Rp75.000 per kepala keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menghela napas panjang. Bagi sebagian pengurus kampung, nominal tersebut mungkin terlihat sepele.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka kerap melontarkan kalimat sakti, &#8220;Cuma setahun sekali, kok.&#8221; Namun, kalimat pendek itu mengabaikan realitas hidup banyak warga yang sedang bertempur mati-matian menjaga agar dompet mereka tidak kebobolan sebelum akhir bulan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hari Kemerdekaan Indonesia yang malah jadi beban<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pekerja kantoran dengan gaji yang beranjak naik selembar dua lembar sementara harga kebutuhan pokok melompat tinggi, saya merasakan betul pengapnya kondisi ekonomi hari ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keresahan pribadi saya ini sejalan dengan data objektif yang mencatat kerentanan ekonomi warga. Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini melansir laporan mengenai penurunan jumlah kelas menengah di Indonesia. Katanya, jutaan orang kini turun kasta ke kelompok rentan miskin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi tersebut semakin berat karena tekanan daya beli yang terus merosot. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, berulang kali mengingatkan bahwa masyarakat kelas menengah kita sedang mengalami tekanan daya beli yang luar biasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Bhima, masyarakat kini harus memotong banyak pengeluaran sekunder dan tersier hanya demi bertahan hidup. Ketika pemerintah dan ekonom saja menyadari ketatnya napas finansial warga, mengapa pengurus kampung justru bertindak seolah-olah dompet kita selalu berlimpah uang sisa demi hiburan di kala Hari Kemerdekaan Indonesia?<\/span><\/p>\n<h2><b>Iuran Hari Kemerdekaan Indonesia yang membingungkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya tidak berhenti pada besaran nominal iuran untuk acara Hari Kemerdekaan Indonesia, melainkan pada ke mana dana tersebut mengalir. Saya membaca rincian anggaran dalam proposal itu dan menemukan fakta yang membuat kepala saya makin pening.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian besar uang warga justru habis untuk menyewa panggung besar, sistem <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/iuran-100-ribu-demi-mengundang-sound-horeg\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tata suara yang menggelegar<\/a>, dekorasi spanduk sekali pakai, serta penyanyi organ tunggal untuk malam puncak tirakatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak menentang rasa syukur atas Hari Kemerdekaan Indonesia. Namun, saya mempertanyakan logika di balik pengeluaran boros yang minim manfaat sosial tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Panggung hiburan dengan musik yang berdentum sampai tengah malam justru sering mengganggu ketenangan warga. Tetangga saya yang bekerja sistem sif malam tidak bisa tidur siang karena cekikikan panitia yang menguji mikrofon sejak pagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lansia dan balita di ujung jalan harus menahan bising dari pengeras suara yang menyala melebihi batas toleransi telinga manusia. Kita seolah-olah sepakat membakar jutaan rupiah hasil keringat warga hanya demi kebisingan semalam yang tidak meninggalkan dampak jangka panjang bagi kemajuan lingkungan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sebaiknya sukarela saja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, budaya penarikan iuran Hari Kemerdekaan Indonesia dengan patokan nominal ini justru bertentangan dengan prinsip dasar kemerdekaan dan hukum publik. Kita bisa melihat ketegasan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang melarang keras seluruh pengurus RT dan RW mematok nominal iuran perayaan 17 Agustus kepada warga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui pemberitaan media, <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/berita\/d-8575110\/walkot-eri-minta-warga-lapor-jika-iuran-agustusan-dipatok-nominal-tertentu\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Eri Cahyadi<\/a> menegaskan bahwa kontribusi warga harus murni bersifat sukarela tanpa tekanan atau patokan angka tertentu. Beliau mengingatkan bahwa penetapan nominal wajib berpotensi memberatkan masyarakat sekaligus mencederai semangat gotong royong yang menjadi roh utama kemerdekaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, kebijakan bijaksana semacam itu belum menjangkau banyak kampung lain. Di lingkungan saya, warga yang mencoba protes atau menawar nominal iuran justru menerima label sosial yang kejam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Panitia dengan mudah menyindir mereka sebagai warga yang &#8220;kurang kompak&#8221; hingga &#8220;pelit&#8221;. Stigma sosial inilah yang memaksa banyak kepala keluarga akhirnya mengalah. Mereka memilih memotong uang belanja dapur demi menghindari gunjingan di forum WhatsApp RT.<\/span><\/p>\n<h2><b>Makan-makan bersama saja sudah mewah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita perlu meluruskan kembali makna perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di tingkat akar rumput. Gotong royong tidak pernah berarti pemerasan sosial berkedok proposal acara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nasionalisme tidak bisa kita ukur dari seberapa megah panggung yang berdiri atau seberapa keras dentuman bas yang keluar dari pengeras suara kampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merindukan perayaan kemerdekaan yang kembali pada kesederhanaan dan kepedulian sesama. Kita bisa merayakan 17 Agustus dengan lomba-lomba kecil yang memanfaatkan barang bekas, kerja bakti membersihkan selokan kampung, atau syukuran sederhana dengan hidangan hasil masakan warga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika memang ada warga yang memiliki rezeki berlebih dan ingin menyumbang dana besar, kita tentu mempersilakan dengan senang hati. Namun, panitia tidak boleh menjadikan sumbangan sukarela sebagai tarif wajib yang mengikat seluruh rumah tangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemerdekaan sejati harus membebaskan warga dari rasa takut dan tertekan, termasuk rasa takut melihat amplop iuran dari pengurus RT. Sudah saatnya kita memiliki keberanian untuk berkata tidak pada tradisi iuran yang tidak masuk akal ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, kita tidak pernah menemukan kemerdekaan dalam perayaan yang kita bangun di atas kecemasan dompet tetangga sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Rizky Prasetya<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-lomba-agustusan-yang-sebaiknya-ditiadakan-banyak-mudaratnya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Iuran wajib Hari Kemerdekaan Indonesia itu penjajahan gaya baru. Sebaiknya segera dihapuskan karena merepotkan warga yang nggak punya duit.<\/p>\n","protected":false},"author":425,"featured_media":413486,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[2273,2339,34416,34418,34417,20120,2547],"class_list":["post-413485","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-17-agustus","tag-agustusan","tag-hari-kemerdekaan-indonesia","tag-iuran-17-an","tag-iuran-wajib-hari-kemerdekaan-indonesia","tag-lomba-17-agustus","tag-tirakatan"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413485","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/425"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=413485"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413485\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":413487,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413485\/revisions\/413487"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/413486"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=413485"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=413485"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=413485"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}