{"id":413426,"date":"2026-08-08T16:30:19","date_gmt":"2026-08-08T09:30:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=413426"},"modified":"2026-08-08T16:30:19","modified_gmt":"2026-08-08T09:30:19","slug":"cerita-saya-makan-tabungan-demi-bertahan-in-this-economy","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cerita-saya-makan-tabungan-demi-bertahan-in-this-economy\/","title":{"rendered":"Fenomena \u201cmakan\u201d tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian"},"content":{"rendered":"<p><em>Tabungan kalian juga terkikis sedikit demi sedikit demi menyambung hidup?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-sehat-mental-mengarungi-media-sosial-yang-brutal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">scrolling<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> media sosial terasa begitu suram. Ekonomi yang lesu membawa banyak kabar yang nggak enak di hati. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari melemahnya rupiah, gelombang PHK, hingga anjloknya daya beli. Tidak sedikit\u00a0 masyarakat yang menilai kalau kondisi ekonomi hari-hari ini lebih buruk dibanding saat pandemi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak heran kalau\u00a0 sekarang ini makin banyak warga yang membuka usaha kecil-kecilan seperti penjaja makanan. Persoalannya, kalau semua orang berjualan, lantas siapa pembelinya? Apalagi di tengah ekonomi yang lagi nggak jelas seperti ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya satu suara dengan keresahan massal itu. Mau ikut-ikutan gelar lapak dagangan pun bingung bakal menawarkan apa. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beda situasinya jika dibandingkan ketika pandemi. Waktu itu, pasarnya masih terbaca jelas. Saya masih bisa cari celah cuan dengan jualan masker kain warna-warni atau mainan edukasi buat anak yang terpaksa sekolah dari rumah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Memang masa yang berat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang ini, seorang lulusan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebohongan-feb-ugm-yang-perlu-diluruskan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Fakultas Ekonomika dan Bisnis<\/a> seperti saya pun mengibarkan bendera putih. T<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">eori di atas kertas sering melempem begitu saja berhadapan dengan kenyataan di lapangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aslinya, saya memegang prinsip idealis. Membongkar atau \u201cmakan\u201d tabungan itu dosa besar. Ibaratnya, berutang pada masa depan diri sendiri yang harus segera dilunasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, hari ini, idealisme itu terpaksa saya gadaikan demi bertahan hidup. Mau nggak mau, tabungan harus rela terkikis sedikit demi sedikit demi menyambung hidup. Tanpa ada secercah kepastian kapan atau apakah uang itu bisa saya kembalikan ke pos semestinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, jauh sebelum badai datang, saya sempat menyempatkan diri meraba-raba dunia investasi. Paling nggak, hasil secuil dari instrumen itu masih bisa diandalkan. Walaupun, nilainya memang cuma seupil dibanding ganasnya ombak ekonomi yang sedang menghantam.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menguras tabungan untuk keperluan sekolah yang tidak bisa menunggu\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ujian hidup paling nyata adalah ketika kalender memasuki musim <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/siswa-kelas1-sd-tidak-naik-kelas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">anak naik kelas<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, momen ini adalah babak baru di mana rekening harus bersiap menghadapi ujian di level berikutnya. Naik kelas berarti selusin pengeluaran baru otomatis mengantre. Dari belanja buku pelajaran wajib, hingga menebus seragam baru karena tubuh buah hati mendadak melar dan seragam lama sudah mirip potongan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">crop top<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sialnya lagi, beban ini disempurnakan dengan agenda tahunan paling klise, tapi mematikan. Apalagi kalau bukan kenaikan uang SPP dan biaya sekolah lainnya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau bagaimana lagi,<a href=\"https:\/\/www.bi.go.id\/id\/fungsi-utama\/moneter\/inflasi\/default.aspx\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> inflasi<\/a> di sektor pendidikan yang konstan meningkat 10% sampai 15% setiap tahunnya memang nggak pernah peduli dengan kondisi dompet rakyat yang sedang sekarat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pindah sekolah ke negeri pun bukan opsi bijak yang bisa diambil sembarangan. Sebab, ada sederet <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">opportunity cost<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trade off<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang harus dikalkulasi matang-matang jika nggak mau mengorbankan masa depan anak. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, saya lagi-lagi harus berlapang dada merelakan sisa tabungan yang nggak seberapa tadi untuk dikuras habis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, dalam situasi paling terjepit, saya terpaksa mengorek nilai pokok investasi demi menutup defisit anggaran jangka pendek. Konsekuensinya jelas dan saya pahami betul. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Nilai pokok yang tergerus bikin<em> return<\/em> di periode berikutnya menciut drastis. Kalau ditarik garis merah, siklus ini terasa seperti strategi bunuh diri finansial pelan-pelan yang berjalan secara sistematis.<\/span><\/p>\n<h2><b><em>Frugal living<\/em> bukan pilihan tepat saat sudah punya anak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, agak gengsi juga rasanya mau ikut-ikutan mengeluh seperti ini. Pasalnya, saya sangat sadar kalau di luar sana masih bertebaran jutaan rakyat jelata yang nasibnya jauh lebih ngenes. Buat mereka, memikirkan biaya sekolah anak saja sudah jadi kemewahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, urusan mengisi lambung setiap hari pun sering kali harus dilewati dengan perut keroncongan. Tapi, hei, sebagai WNI kelas menengah yang posisinya hobi digencet di antara kebijakan pemerintah dan stagnasi dompet, saya tetap punya hak asasi buat sambat, dong?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, semasa masih jadi mahasiswa perantauan, saya dan gaya hidup hemat ala <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/slow-living-frugal-living-di-desa-memang-omong-kosong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">frugal living<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> sudah lengket bak sahabat karib. Tapi, apa boleh dikata, jurus sakti itu mendadak jadi dongeng omong kosong yang mustahil dipraktikkan setelah saya resmi punya anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengajak anak kecil kompromi soal anggaran itu rasanya sama mustahilnya dengan menagih utang ke teman yang hobi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ghosting<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil, rumus bertahan hidup saya saat ini terpaksa disederhanakan jadi tiga tahap saja. Tekan habis pengeluaran pribadi, coba cari tambahan cuan dari kesempatan apa pun, dan dengan berat hati mulai makan tabungan sendiri seperti fenomena yang banyak terjadi saat ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Paula Gianita Primasari<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ingin-lihat-indonesia-emas-sekaligus-indonesia-gelap-datang-ke-pogung-jogja\/\"><b><i>Ingin Lihat Indonesia Emas Sekaligus Indonesia Gelap? Datang Ke Pogung Jogja!<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kondisi ekonomi yang tidak menentu membuat banyak orang menggunakan tabungannya sendiri untuk bertahan hidup. <\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":413430,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13085],"tags":[34406,26388,34407,14118,4404],"class_list":["post-413426","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-fenomena-makan-tabungan","tag-kondisi-ekonomi","tag-makan-tabungan","tag-rupiah","tag-tabungan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413426","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=413426"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413426\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":413436,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413426\/revisions\/413436"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/413430"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=413426"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=413426"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=413426"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}