{"id":413325,"date":"2026-08-07T10:03:20","date_gmt":"2026-08-07T03:03:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=413325"},"modified":"2026-08-07T10:03:20","modified_gmt":"2026-08-07T03:03:20","slug":"perumahan-baru-di-jogja-terus-bermunculan-tapi-untuk-siapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perumahan-baru-di-jogja-terus-bermunculan-tapi-untuk-siapa\/","title":{"rendered":"Perumahan baru di Jogja terus bermunculan, tapi melihat harganya, sebenarnya perumahan ini dibangun untuk siapa?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan ini, rasanya cukup sulit berkendara di Jogja tanpa bertemu spanduk perumahan baru. Dari Kalasan sampai Godean, dari dari jalan utama sampai jalan yang awalnya hanya cukup dilewati dua sepeda motor saja, selalu ada papan bertuliskan cluster terbaru, hunian modern, atau booking fee mulai sekian juta. Lahan yang beberapa tahun lalu masih berupa sawah perlahan berubah menjadi deretan rumah dengan pagar seragam dan nama perumahan yang terdengar mewah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang bekerja di Jogja, saya seharusnya ikut senang. Artinya kota ini terus berkembang. Kebutuhan tempat tinggal meningkat, ekonomi bergerak, dan banyak orang melihat Jogja sebagai kota yang layak dijadikan tempat menetap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, setiap melihat spanduk-spanduk itu, selalu muncul satu pertanyaan sederhana di kepala saya. Perumahan di Jogja ini sebenarnya dibangun untuk siapa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan itu muncul bukan karena saya anti pembangunan. Justru sebaliknya ya. Saya senang Jogja berkembang. Yang membuat saya penasaran adalah apakah orang-orang yang setiap hari bekerja di Jogja benar-benar menjadi calon pembeli rumah-rumah itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gaji di Jogja tidak tinggi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba lihat kenyataannya. Banyak pekerja di Jogja menerima gaji yang tidak terlalu tinggi. Setelah kebutuhan sehari-hari, biaya kos, transportasi, listrik, dan kebutuhan lain dipenuhi, menyisihkan uang untuk uang muka rumah saja sudah menjadi pekerjaan yang tidak mudah terlalu nekat. Belum lagi ketika melihat harga rumah baru yang kini rata-rata sudah berada di kisaran ratusan juta rupiah, bahkan tidak sedikit yang menembus angka miliaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, spanduk perumahan baru terus berdiri. Hampir semuanya menawarkan rumah impian. Ada yang menjual konsep <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/properti\/tips-dan-panduan\/d-7399773\/smart-home-pengertian-fungsi-dan-cara-kerjanya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">smart home<\/a>, ada yang mengusung nuansa tropis, ada pula yang menawarkan suasana tenang meski lokasinya tidak lagi benar-benar dekat dengan pusat kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak sedang menyalahkan pengembang perumahan di Jogja. Mereka membangun karena ada pasar. Rumah tidak mungkin terus dibangun kalau tidak ada yang membeli. Artinya memang ada orang yang sanggup membayar dengan harga tersebut. Hanya saja, pembelinya belum tentu orang yang setiap pagi berangkat kerja di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada orang yang membeli sebagai investasi. Juga, ada yang memang berasal dari luar daerah dan ingin menetap setelah pensiun. Ada pula yang menjadikan Jogja sebagai rumah kedua karena merasa kota ini lebih nyaman dibanding tempat asalnya. Semua itu sah-sah saja. Tidak ada yang salah dengan membeli rumah menggunakan uang sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat saya berpikir lagi justru posisi warga lokal di tengah kondisi seperti ini. Jangan-jangan orang yang setiap hari menghidupkan kota ini malah semakin sulit memiliki rumah di kota tempat mereka mencari nafkah dan rezeki.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perumahan di Jogja dibangun di pinggiran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buktinya mulai mudah ditemukan. Tidak sedikit pekerja yang akhirnya memilih tinggal di wilayah yang lebih jauh karena harga rumah masih lebih masuk akal. Ada yang membeli rumah di Kulon Progo, Purworejo, Klaten, Magelang dan yang lainnya lalu setiap hari menempuh perjalanan menuju Jogja untuk bekerja. Rumahnya berada di luar kota, tetapi penghasilannya tetap berasal dari Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lama-kelamaan kondisi ini terasa janggal. Kota yang menjadi tempat bekerja semakin sulit menjadi tempat tinggal bagi sebagian pekerjanya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini bukan ajakan untuk menyalahkan pendatang. Bukan pula menuduh pengembang hanya mengejar keuntungan. Kota yang berkembang memang akan menarik banyak orang datang. Permintaan rumah ikut naik, harga tanah ikut bergerak, dan pasar berjalan sebagaimana mestinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, rasanya tidak berlebihan jika sesekali kita bertanya, apakah pembangunan perumahan di Jogja juga memikirkan orang-orang yang setiap hari menjaga roda kota ini tetap berputar? Guru, pegawai toko, buruh, karyawan kantor, tenaga kesehatan, pelayan restoran, hingga pekerja sektor informal yang penghasilannya jauh dari kata mewah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berharap jawabannya masih &#8220;iya&#8221;. Sebab rumah bukan sekadar komoditas. Rumah adalah tempat seseorang pulang setelah seharian bekerja. Dan akan terasa menyedihkan kalau suatu hari nanti orang yang bekerja di Jogja hanya mampu memandang deretan perumahan baru dari kendaraan mereka sambil berkata dalam hati, &#8220;Bagus juga rumahnya, sayang saya tak sanggup membelinya.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika perumahan di Jogja terus bermunculan, sementara semakin banyak warga yang bekerja di Jogja merasa rumah di kotanya sendiri semakin sulit dijangkau, perumahan-perumahan itu sebenarnya sedang dibangun untuk siapa?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Riko Prihandoyo<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/rasanya-tingga-di-rumah-subsidi-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Aku Si Rumah Kecil Seharga 150 Juta yang Selalu Diremehkan, Tapi Jadi Tempat Keluarga Muda Membangun Mimpi<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika perumahan di Jogja terus bermunculan, sedangkan penghasilan gini-gini aja, lalu sebenarnya rumah-rumah ini dibangun untuk siapa?<\/p>\n","protected":false},"author":3072,"featured_media":413338,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[32274,115,34391,26716],"class_list":["post-413325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-harga-rumah-di-jogja","tag-jogja","tag-perumahan-di-jogja","tag-rumah-di-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3072"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=413325"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413325\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":413339,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413325\/revisions\/413339"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/413338"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=413325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=413325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=413325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}