{"id":413311,"date":"2026-08-07T10:51:16","date_gmt":"2026-08-07T03:51:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=413311"},"modified":"2026-08-07T10:51:16","modified_gmt":"2026-08-07T03:51:16","slug":"menganggap-tulungagung-sebagai-pusat-pesugihan-di-jawa-timur-itu-cacat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menganggap-tulungagung-sebagai-pusat-pesugihan-di-jawa-timur-itu-cacat\/","title":{"rendered":"Menganggap Tulungagung sebagai pusat pesugihan di Jawa Timur karena banyak industri rumahan adalah kesimpulan yang dangkal, bodoh, malas, dan sampah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melabeli Tulungagung sebagai kota atau kabupaten pesugihan sebenarnya juga memperlihatkan cara berpikir yang terlalu sederhana dalam membaca budaya. Seolah-olah keberadaan ritual tertentu otomatis mencerminkan karakter seluruh masyarakat. Padahal logika seperti itu jelas bermasalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang lebih cepat mengingat kisah gunung angker, pohon keramat, atau ritual malam tertentu daripada mengingat bahwa Tulungagung adalah salah satu daerah penghasil marmer terbesar di Indonesia. Cerita mistis memang lebih mudah viral. Sayangnya, viral tidak selalu berarti benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma tersebut terus direproduksi hingga akhirnya lebih terkenal daripada identitas Tulungagung sebagai daerah industri marmer, sentra perikanan, pertanian, UMKM, hingga kekayaan wisata alam dan budayanya. Ketika sebuah daerah lebih sering dibicarakan karena mitos daripada prestasi, citra publik ikut terdistorsi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pesugihan selalu menjadi cerita yang paling laris dijual<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era media sosial, cerita tentang pesugihan hampir selalu punya pasar. Judul yang mengandung kata &#8220;pesugihan&#8221;, &#8220;tumbal&#8221;, &#8220;ritual&#8221;, atau &#8220;jalan gaib&#8221; jauh lebih cepat menarik perhatian dibandingkan pembahasan mengenai UMKM, pendidikan, atau ekonomi daerah. Akibatnya, algoritma ikut memperkuat persepsi bahwa Tulungagung identik dengan hal-hal mistis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal banyak konten semacam itu hanya mengulang cerita turun-temurun tanpa pernah melakukan verifikasi. Satu video mengutip video lain. Satu artikel mengutip artikel lama. Lama-kelamaan cerita tersebut dianggap sebagai fakta hanya karena terus diulang. Inilah yang disebut efek pengulangan, ketika sesuatu terasa benar bukan karena bukti, melainkan karena terlalu sering didengar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih parah lagi, sebagian kreator konten sengaja membangun narasi yang dramatis demi mengejar jumlah penonton. Lokasi biasa diberi musik mencekam. Bangunan tua langsung disebut tempat ritual. Makam tua dikaitkan dengan pesugihan tanpa bukti. Semua dilakukan agar penonton bertahan sampai akhir video.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang dirugikan bukan hanya citra daerah. Masyarakat lokal juga harus menerima stereotip yang sebenarnya tidak mereka pilih. Tidak sedikit warga yang justru merasa risih karena kampungnya lebih dikenal lewat cerita mistis daripada hasil kerja keras masyarakatnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Budaya Kejawen tidak sama dengan pesugihan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesalahan lain yang sering muncul adalah menyamakan budaya Kejawen dengan praktik pesugihan. Padahal keduanya berbeda jauh. Kejawen merupakan tradisi budaya dan spiritual yang sangat luas. Di dalamnya ada nilai penghormatan kepada leluhur, filosofi hidup, laku batin, tata krama, hingga pelestarian tradisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengambil satu bagian yang menyimpang lalu menganggap itulah wajah Kejawen merupakan bentuk penyederhanaan budaya. Sama seperti menganggap seluruh tradisi keagamaan identik dengan tindakan ekstrem hanya karena dilakukan oleh segelintir orang. Cara berpikir seperti ini jelas tidak adil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat Tulungagung sendiri menjalankan kehidupan yang sangat beragam. Ada yang religius, ada yang memegang tradisi Jawa, ada pula yang menggabungkan keduanya dalam kehidupan sehari-hari. Keragaman seperti ini merupakan hal yang wajar di banyak daerah di Jawa, bukan ciri khusus Tulungagung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, menghubungkan kuatnya budaya Kejawen dengan anggapan bahwa Tulungagung adalah pusat pesugihan merupakan lompatan kesimpulan yang tidak memiliki dasar kuat. Budaya adalah identitas kolektif. Sementara praktik pesugihan, jika memang ada, merupakan tindakan individual yang tidak bisa digeneralisasi menjadi identitas seluruh masyarakat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Industri rumahan tidak pernah menjadi bukti adanya pesugihan di Tulungagung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pula anggapan bahwa banyaknya industri rumahan yang berkembang di Tulungagung merupakan bukti adanya pesugihan. Logika ini bahkan lebih aneh. Seolah setiap usaha yang cepat berkembang pasti memiliki hubungan dengan praktik gaib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal keberhasilan industri rumahan lebih mudah dijelaskan melalui faktor ekonomi. Ada pengalaman turun-temurun, jaringan pemasaran, kerja keras keluarga, modal yang diputar kembali, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar. Semua itu merupakan penjelasan yang jauh lebih rasional daripada langsung mengaitkannya dengan pesugihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau setiap usaha sukses dianggap hasil pesugihan, maka penghargaan terhadap kerja keras masyarakat menjadi hilang. Orang tidak lagi melihat proses panjang membangun usaha, tetapi hanya mencari cerita mistis di balik kesuksesan tersebut. Ini jelas merugikan para pelaku UMKM yang bertahun-tahun membangun usahanya dengan cara yang jujur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Narasi seperti ini juga bisa menimbulkan rasa curiga yang tidak sehat. Kesuksesan seseorang tidak lagi dipandang sebagai hasil inovasi atau ketekunan, melainkan langsung dikaitkan dengan hal-hal gaib tanpa bukti. Akibatnya, masyarakat lebih sibuk membangun prasangka daripada menghargai proses.<\/span><\/p>\n<h2><b>Stigma pesugihan menutup prestasi nyata Tulungagung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah terbesar dari label pesugihan bukan terletak pada benar atau tidaknya cerita yang beredar. Masalah utamanya adalah citra tersebut perlahan mengalahkan identitas Tulungagung yang sesungguhnya. Ketika nama Tulungagung muncul, sebagian orang justru lebih dulu teringat kisah-kisah mistis daripada potensi daerahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal Tulungagung memiliki begitu banyak hal yang layak dibanggakan. Industri marmernya dikenal luas. Sektor perikanannya berkembang. Pertaniannya menjadi penopang ekonomi ribuan keluarga. UMKM terus bermunculan dengan berbagai produk unggulan. Sayangnya, semua itu sering kalah menarik dibandingkan cerita pesugihan yang lebih sensasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah kelemahan masyarakat modern. Fakta sering kalah oleh cerita yang mampu membangkitkan rasa penasaran. Kisah mistis lebih cepat menyebar daripada laporan ekonomi daerah. Padahal dampaknya nyata. Citra yang buruk dapat memengaruhi cara orang luar memandang sebuah daerah, bahkan sebelum mereka pernah datang langsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma juga sulit dihapus karena terus diwariskan dari mulut ke mulut. Orang yang belum pernah menginjakkan kaki di Tulungagung bisa saja sudah memiliki prasangka tertentu hanya karena sering mendengar cerita yang sama. Padahal pengalaman langsung sering kali menunjukkan kenyataan yang sangat berbeda.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pesugihan selalu menarik karena menawarkan jalan pintas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita pesugihan sebenarnya tidak hanya hidup di Tulungagung. Hampir setiap daerah di Jawa memiliki kisah serupa. Ada yang dikaitkan dengan gunung, pantai, gua, makam, pohon tua, hingga bangunan tua. Artinya, pesugihan bukan identitas khas Tulungagung, melainkan bagian dari cerita rakyat yang tersebar luas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat cerita seperti ini terus bertahan adalah daya tariknya. Pesugihan menawarkan imajinasi tentang kekayaan instan tanpa proses panjang. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, narasi seperti itu selalu menemukan pendengarnya. Cerita tersebut memanfaatkan harapan manusia untuk memperoleh hasil besar dengan usaha yang sedikit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, kisah pesugihan akan selalu memiliki tempat dalam budaya populer. Film mengangkatnya. Konten media sosial membahasnya. Podcast menceritakannya. Kanal YouTube menjadikannya tema utama. Namun, popularitas sebuah cerita tidak otomatis menjadikannya representasi sebuah daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah saatnya masyarakat membedakan antara <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-6544550\/pengertian-folklor-beserta-ciri-ciri-dan-bentuknya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">folklor,<\/a> mitos, hiburan, dan identitas daerah. Tulungagung tidak bisa direduksi hanya menjadi kabupaten pesugihan hanya karena ada cerita yang terus diulang selama puluhan tahun. Sebuah daerah jauh lebih kompleks daripada sekadar legenda yang hidup di tengah masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pesugihan mungkin akan terus menjadi bagian dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat. Mitos seperti itu hampir mustahil benar-benar hilang karena sudah menjadi bagian dari tradisi lisan dan budaya populer. Namun, membiarkan cerita tersebut berubah menjadi identitas utama Tulungagung adalah persoalan yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tulungagung-nggak-cocok-untuk-4-tipe-orang-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Tipe Orang yang Dipastikan Akan Merana kalau Tinggal di Tulungagung<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Melabeli Tulungagung sebagai kota atau kabupaten pesugihan sebenarnya juga memperlihatkan cara berpikir yang terlalu konyol.<\/p>\n","protected":false},"author":2851,"featured_media":413345,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[34394,34395,6949,7890],"class_list":["post-413311","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-industri-di-tulungagung","tag-mitos-di-tulungagung","tag-pesugihan","tag-tulungagung"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413311","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2851"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=413311"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413311\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":413346,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413311\/revisions\/413346"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/413345"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=413311"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=413311"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=413311"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}