{"id":413082,"date":"2026-08-07T11:11:45","date_gmt":"2026-08-07T04:11:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=413082"},"modified":"2026-08-06T21:12:32","modified_gmt":"2026-08-06T14:12:32","slug":"5-hal-yang-paling-dirindukan-orang-kebumen-saat-merantau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-hal-yang-paling-dirindukan-orang-kebumen-saat-merantau\/","title":{"rendered":"5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan orang hanya mengingat sate ambal ketika membicarakan kuliner Kebumen. Seolah-olah kabupaten di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/suka-duka-tinggal-di-daerah-pesisir-yang-masuk-kawasan-rawan-tsunami\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pesisir selatan Jawa Tengah<\/a> ini cuma punya sate dengan bumbu tempe encer yang rasanya sulit ditiru itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, bagi kami yang lahir dan besar di Kebumen lalu terpaksa merantau demi kuliah atau mencari pekerjaan, ada banyak hal lain yang diam-diam bikin dada sesak setiap kali pulang ke kos setelah liburan usai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, rasa rindu itu sering baru muncul ketika kita sudah tinggal di kota besar. Dulu, waktu masih tinggal di Kebumen, semuanya terasa biasa saja. Selain Sate Ambal, inilah tujuh hal yang paling sering dirindukan perantau asal Kebumen.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Pantai Kebumen yang nggak selalu ramai demi konten<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebumen punya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-pantai-yang-bikin-kebumen-nggak-pas-dijuluki-daerah-miskin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">deretan pantai<\/a> yang cantik. Mulai dari Menganti, Karangbolong, Surumanis, Pecaron, hingga Suwuk. Semuanya punya karakter sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling saya rindukan justru suasananya. Banyak pantai di Kebumen masih terasa sebagai tempat menikmati laut, bukan sekadar studio foto raksasa. Orang datang untuk duduk, menikmati angin, ngobrol, atau sekadar melihat ombak menghantam karang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan beberapa destinasi wisata yang sekarang lebih sibuk mengejar spot Instagram daripada pengalaman menikmati alam.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Orang-orang yang masih sempat menyapa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kota besar, bertetangga bertahun-tahun belum tentu saling mengenal. Bahkan, naik lift pun lebih sering sama-sama menatap ponsel daripada saling menyapa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, di Kebumen, berjalan beberapa ratus meter saja bisa membuat kita berhenti berkali-kali karena <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-jadi-pengin-tinggal-di-jepang-gara-gara-fyp-tiktok-dan-tetangga-nyebelin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bertemu tetangga<\/a>, saudara jauh, teman sekolah, atau kenalan orang tua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang kadang melelahkan karena setiap obrolan hampir pasti berakhir dengan pertanyaan, &#8220;Sekarang kerja di mana?&#8221; atau &#8220;Kapan nikah?&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi setelah lama merantau, ternyata pertanyaan itu jauh lebih hangat daripada hidup di lingkungan yang bahkan tidak tahu nama tetangganya sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Ritme hidup Kebumen yang nggak bikin napas pendek<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau membuat saya belajar satu hal, hidup cepat ternyata melelahkan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bangun pagi diburu jam masuk kerja, pulang malam karena lembur, akhir pekan habis untuk mencuci baju dan tidur. Siklus itu berulang tanpa jeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Kebumen, hidup memang tidak semewah kota besar, tetapi ritmenya lebih bersahabat. Orang masih punya waktu duduk di teras, ngobrol selepas Magrib, atau sekadar menikmati teh hangat tanpa merasa bersalah karena &#8220;tidak produktif&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata ketenangan juga kebutuhan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Harga makanan yang masih masuk akal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perantau pasti pernah mengalami fase menghitung isi dompet sebelum memesan makan siang. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Di kota besar, sekali makan bisa menghabiskan uang yang kalau dipakai di Kebumen mungkin sudah cukup untuk makan dua sampai tiga kali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, setiap pulang kampung selalu ada kebahagiaan sederhana. Makan enak tanpa harus melihat saldo rekening terlebih dahulu. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan karena pelit. Hanya saja, dompet memang ikut bahagia ketika berada di Kebumen.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Perasaan selalu punya tempat untuk pulang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang paling sulit dijelaskan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Merantau memang mengajarkan banyak hal. Kita belajar mandiri, belajar menghadapi tekanan, dan belajar bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, sejauh apa pun kaki melangkah, selalu ada rasa lega ketika melihat papan bertuliskan &#8220;Selamat Datang di Kabupaten Kebumen&#8221;. Rasanya seperti beban yang selama ini dipikul pelan-pelan turun dari bahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebumen mungkin bukan kota dengan gedung pencakar langit. Bukan pula pusat industri atau kota yang selalu masuk daftar destinasi wisata paling populer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, Kebumen punya sesuatu yang tidak semua kota miliki, kemampuan membuat orang ingin pulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali itulah mengapa banyak perantau asal Kebumen rela menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk menghabiskan dua atau tiga hari di rumah. Bukan karena di sana semuanya sempurna. Justru karena mereka tahu, tidak ada tempat yang benar-benar bisa menggantikan kampung halaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sate_ambal\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sate ambal<\/a>, kuliner Kebumen memang selalu berhasil mengobati rindu. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, yang paling dirindukan bukanlah rasa bumbu tempenya. Melainkan semua hal sederhana yang selama ini dianggap biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin memang begitu cara kampung halaman bekerja. Ia tidak pernah terlihat istimewa ketika kita masih tinggal di dalamnya. Namun, begitu kita pergi terlalu jauh, kita baru sadar bahwa sebagian diri kita ternyata masih tertinggal di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-menyedihkan-kebumen-yang-jarang-diceritakan-warga-lokal\/\"><b><i>Sisi Menyedihkan Kebumen yang Jarang Diceritakan Warga Lokal: dari Lapangan Kerja yang Itu Aja sampai Ruang Publik yang Stagnan.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat berada di tanah rantau, biasanya orang Kebumen baru kangen akan daerahnya, kangen akan pantai yang sepi hingga harga yang masuk akal. <\/p>\n","protected":false},"author":2984,"featured_media":413293,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[10477,1418,31813,5807,18529],"class_list":["post-413082","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kebumen","tag-merantau","tag-orang-kebumen","tag-perantau","tag-perantauan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413082","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2984"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=413082"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413082\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":413297,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/413082\/revisions\/413297"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/413293"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=413082"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=413082"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=413082"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}