{"id":412556,"date":"2026-08-02T09:36:11","date_gmt":"2026-08-02T02:36:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=412556"},"modified":"2026-08-01T19:36:36","modified_gmt":"2026-08-01T12:36:36","slug":"anak-pertama-perempuan-peran-yang-sulit-dipahami-banyak-orang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/anak-pertama-perempuan-peran-yang-sulit-dipahami-banyak-orang\/","title":{"rendered":"Anak pertama perempuan, peran yang paling melelahkan di dunia setelah jadi ibu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira peran paling melelahkan di muka bumi ini jatuh kepada seorang ibu. Tugasnya merangkap jadi koki, satpam, psikolog, guru les, hingga manajer emosi seisi rumah dalam 24\/7 penuh. Itu pun tanpa jatah cuti, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/thr-ludes-sebelum-hari-raya-itu-bukan-salahmu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">THR<\/a>, apalagi uang pensiun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau boleh menambahkan satu peran lagi yang tingkat kelelahannya nggak beda jauh, apalagi kalau bukan panak pertama. Ironisnya, bagi sebagian perempuan, takdir justru merangkapkan kedua gelar berat tersebut sekaligus dalam satu pundak, seseorang sebagai anak pertama perempuan di mata orang tuanya dan seorang ibu.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Anak pertama perempuan tempat orang tua belajar pertama kali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seminar dan buku parenting masa kini memang sudah seabrek. Namun, percayalah, teori di atas kertas sering kali jungkir balik saat berhadapan langsung dengan dinamika kepala manusia di rumah. Masalahnya, anak sulung kerap diibaratkan seperti mobil pertama dalam keluarga. Mereka menjadi eksperimen utama tempat orang tua belajar menyetir.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena baru kali pertama berstatus sebagai bapak dan ibu, kecemasan melambung setinggi langit. Rasa takut berbuat salah dan kekhawatiran dihakimi orang sekitar menggunung. Efeknya, ekspektasi dipatok setinggi langit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua pun tanpa sadar menerapkan metode<em> trial and error<\/em>. Mereka menerka-nerka strategi pengasuhan paling pas sambil jalan. Apesnya, metode coba-coba ini paling vulgar dihantamkan ke pundak anak pertama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, di saat orang tua masih meraba-raba cara menjadi orang dewasa yang benar, anak sulung juga sebenarnya sedang tergopoh-gopoh belajar cara menjadi manusia. Praktis, situasi rumah jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">chaos<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Persis pengemudi pemula yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngalor-ngidul<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membawa mobilnya sekaligus membahayakan keselamatan penumpang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi ini makin runyam ketika ditarik ke dalam pusaran gender. Pengalaman hidup anak sulung perempuan langsung melompat ke level kesusahan paling ekstrem. Jujur saja, jauh berbeda dibanding anak sulung laki-laki yang sering kali diperlakukan lebih istimewa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum juga lulus sekolah atau menikmati masa remaja ceria ala film<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ada_Apa_dengan_Cinta%3F\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Ada Apa Dengan Cinta (AADC)<\/a>, anak sulung perempuan sudah dipaksa memikul beban domestik yang belum waktunya. Nggak sedikit dari mereka yang disuruh mengasuh adik-adiknya lantaran orang tua belum punya kecukupan finansial untuk menitipkan di day care atau menyewa jasa pengasuh anak profesional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak jarang pula, anak sulung perempuan wajib jadi asisten bayangan ibu di dapur. Sementara itu, anak sulung laki-laki biasanya dibiarkan melenggang kangkung dengan dalih persepsi kolot bahwa laki-laki nggak pantas berkutat di dapur. Padahal, kemampuan memasak dasar itu nggak ada korelasinya dengan gender.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dipaksa \u201cmatang\u201d duluan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak seperti buah yang ranum alami karena perpaduan asupan nutrisi dan lingkungan yang baik, nasib anak pertama perempuan justru sebaliknya. Mereka ibarat buah yang dipetik mentah-mentah sebelum waktunya. Kemudian, diperam paksa di dalam timbunan beras. Dari luar, siap dikonsumsi. Orang-orang yang hanya menilai dari kulitnya tentu akan langsung melontarkan pujian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi tersebut mirip dengan label kedewasaan prematur yang kerap disematkan dan diromantisasi pada anak perempuan sulung. Bungkusnya tampak mandiri, tenang, dan bijaksana. Padahal, jika dibelah, rasa manisnya belum sepenuhnya merata.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kematangan mental seorang anak perempuan sulung terbentuk bukan karena usia kognitifnya sudah sampai. Mereka dipaksa melunak oleh keadaan dan segudang tanggung jawab, bukan lewat proses tumbuh kembang yang rileks dan merdeka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sosok sulung mungkin selama ini terlihat begitu tangguh di luar, bisa mendadak runtuh, rapuh, dan gampang tersinggung saat mendapat tekanan sekecil apa pun. Faktor ini juga yang diam-diam sering membuat seorang anak pertama perempuan sekaligus ibu menjelma menjadi pribadi berstatus sumbu pendek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak anak pertama perempuan sejak awal kehilangan hak paling dasarnya. Hak untuk dimanja, dilindungi, dan menjadi pusat perhatian keluarga. Belum sempat mereka selesai memberesi emosi masa kecilnya sendiri, bahu mereka sudah keburu dibebani mandat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Paula Gianita Primasari<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/duit-100-miliar-saya-untuk-bangun-sekolah-yang-gurunya-sejahtera\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Andai dapat rezeki nomplok Rp100 miliar, saya akan bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang-orang kadang tak memahami betapa sulitnya menjadi anak pertama perempuan, peran yang berat setelah jadi ibu. <\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":412561,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13080],"tags":[3904,3073,34306,1869,122,34307],"class_list":["post-412556","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-personality","tag-anak-perempuan","tag-anak-pertama","tag-anak-pertama-perempuan","tag-anak-sulung","tag-perempuan","tag-sulung"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/412556","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=412556"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/412556\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":412564,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/412556\/revisions\/412564"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/412561"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=412556"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=412556"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=412556"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}