{"id":411956,"date":"2026-07-30T13:43:59","date_gmt":"2026-07-30T06:43:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=411956"},"modified":"2026-07-30T13:43:59","modified_gmt":"2026-07-30T06:43:59","slug":"7-kata-bahasa-jawa-yang-terdengar-aneh-bahkan-oleh-penuturnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-kata-bahasa-jawa-yang-terdengar-aneh-bahkan-oleh-penuturnya\/","title":{"rendered":"7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang luar Jawa, mendengar orang berbicara menggunakan bahasa Jawa biasanya menyisakan dua kesan: terdengar halus atau justru terdengar lucu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terdengar halus karena pada umumnya bahasa Jawa diucapkan dengan intonasi yang rendah. Sehingga, terdengar sopan di telinga. Sementara kesan lucu muncul karena bahasanya terdengar asing, ditambah ada pengaruh kaidah kebahasaan yang unik, salah satunya yang dikenal dengan nama <\/span><a href=\"https:\/\/adjar.grid.id\/read\/543877517\/mengenal-tembung-dwilingga-dari-pengertian-jenis-hingga-contohnya\"><span style=\"font-weight: 400;\">dwi lingga<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hayo, masih ingat kan dengan dwi lingga? Itu lho, pelajaran bahasa Jawa yang membahas soal kata baru yang terbentuk dari pengulangan seluruh atau sebagian kata. Jenisnya ada dwi lingga wantah, dwi lingga salin swara, dwi purwa dan dwi wasana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, beberapa kata dalam bahasa Jawa ini terdengar aneh bukan hanya oleh orang luar jawa, tapi juga oleh penutur aslinya. Mungkin, karena kata-kata ini sudah mulai jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa saja? Ini dia kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Orang yang tampak sibuk, tapi tidak meyakinkan disebut nunak nunuk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam obrolan, nunak nunuk digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana seseorang tampak sibuk dengan sesuatu. Tapi, sibuknya ini sibuk yang tidak meyakinkan. Pekerjaannya diulang lagi, salah lagi, dicoba lagi, begitu seterusnya. Dikerjakan dengan lambat pula. Jadi, menimbulkan tanda tanya bagi orang yang melihatnya, \u201cOrang ini sebenarnya paham nggak sih apa yang sedang dikerjakan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, nunak nunuk ini termasuk jenis dwi lingga salin swara, yaitu pengulangan kata disertai perubahan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ngomong-bahasa-palembang-tak-sekadar-mengganti-huruf-vokal-a-jadi-o\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">huruf vokal<\/a>.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Tetek bengek bukan kata bahasa Jawa yang jorok<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetek bengek juga termasuk kata dalam bahasa Jawa yang dianggap lucu. Agaknya, ini berkaitan dengan kata \u2018tetek\u2019 yang seringkali digunakan sebagai kata ganti untuk menyebut payudara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi mereka yang tidak paham, pasti mengira kalau kata tetek bengek ini berkonotasi jorok. Padahal, tetek bengek ini merujuk pada benda atau hal-hal kecil yang menyertai sesuatu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contohnya, Rudi stres karena memikirkan persiapan pernikahan dan tetek bengeknya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Orang kerepotan yang kepontal pontal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pula \u2018kepontal-pontal\u2019. Kalau kamu melihat ada orang yang kerepotan akan sesuatu, berarti dia sedang kepontal-pontal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya nih, ada teman kamu sedang bawa banyak barang bawaan. Di saat yang sama, dia juga sedang buru-buru menyamakan langkah dengan teman di depannya supaya tidak tertinggal. Alhasil, kadang barang bawaan dia jatuh sehingga harus dipungutlah, lalu ada drama kaki keseleo, kesandung, dsb. Repot banget deh pokoknya. Itulah yang dimaksud dengan kepontal-pontal.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Entut berut mirip dengan &#8220;preettt&#8221; dalam bahasa Jawa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, coba kalian ucapkan \u2018entut berut\u2019. Terdengar menggelikan bukan? Apalagi kalau kalian sudah tahu sebelumnya bahwa kata entut dalam bahasa Jawa ini berarti kentut. Tapi, bukan berarti \u2018entut berut\u2019 ini ngomongin soal gas buangan, ya, melainkan entut berut ini adalah frasa yang keluar sebagai bagian dari ekspresi seseorang ketika mendengar suatu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gaya-gombalan-khas-muda-mudi-bantul-berdasarkan-tempatnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gombalan<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama seperti kata \u2018Prettttt\u2019 yang diucapkan ketika kita mendengar seseorang membual.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Membawa sesuatu yang ringan disebut cengkiwing\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata dalam bahasa Jawa lain yang dianggap lucu adalah cengkiwing. Huruf \u2018e\u2019-nya sama seperti pengucapan huruf \u2018e\u2019 pada kata \u2018lemari\u2019.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sederhananya, cengkiwing ini berarti membawa. Tapi, bukan sembarang membawa sesuatu. Membawa yang dimaksud dalam kata \u2018cengkiwing\u2019 ini adalah membawa sesuatu yang ringan, yang bisa ambil dengan sekali ayunan tangan serta dibawa dengan satu tangan tanpa perlu merasa pegal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gila, spesifik ya bahasa Jawa.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Kontal-kantil kata dalam bahasa Jawa untuk barang kecil yang tergangtung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukti lain kalau bahasa Jawa itu spesifik, sekaligus menambah deret panjang kata bahasa Jawa yang terdengar aneh, adalah konthal-kanthil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kontal-kantil (tolong bacanya yang hati-hati, takut salah baca), digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tergantung. Tapi, sesuatu yang dimaksud adalah benda yang ukurannya kecil mungil. Sementara kalau yang tergantung adalah benda yang ukurannya besar, penyebutannya bukan lagi kontal-kantil, tapi gondal-gandul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi-lagi, ada pelajaran dwi lingga di sini, Gaes.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Pating pencotot\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, pating pencotot. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, penggunaan kata \u2018pating\u2019 dalam bahasa Jawa ini sangat sering terdengar. Ada pating klambruk, pating sebar, pating kluwer, dsb. Tapi, diantara semua \u2018pating\u2019, yang dianggap terdengar aneh adalah pating pencotot.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pating pencotot digunakan untuk mengomentari ketika ada orang yang menggunakan baju terlalu ketat sehingga lipatan-lipatan lemaknya terlihat sangat jelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, lucu dan menggelikan, bukan hanya bagi orang luar Jawa, tapi juga penutur aslinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara kata-kata yang ada di atas, kata apa nih yang baru pertama kali ini kamu tahu? Atau, kamu punya kata bahasa Jawa lain yang menurut kamu nggak kalah aneh? Spill, dong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-istilah-bahasa-jawa-yang-orang-jawa-sendiri-salah-paham\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada banyak kata dalam bahasa Jawa yang terdengar lucu bagi banyak orang. Bahkan, bagi penutur aslinya kata-kata ini pun terdengar aneh. <\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":411979,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[761,763,34281,623,2894],"class_list":["post-411956","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-bahasa-jawa","tag-bahasa-jawa-aneh","tag-jawa","tag-orang-jawa"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411956","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=411956"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411956\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":411977,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411956\/revisions\/411977"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/411979"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=411956"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=411956"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=411956"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}