{"id":411858,"date":"2026-07-29T13:35:57","date_gmt":"2026-07-29T06:35:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=411858"},"modified":"2026-07-29T13:35:57","modified_gmt":"2026-07-29T06:35:57","slug":"iuran-100-ribu-demi-mengundang-sound-horeg","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/iuran-100-ribu-demi-mengundang-sound-horeg\/","title":{"rendered":"Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keputusan saya untuk tidak pulang ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fatwa-haram-sound-horeg-jatim-adalah-sebaik-baiknya-berita-hari-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Timur<\/a> pada Agustus tahun ini terasa seperti langkah paling jenius. Saat perantau lain mendadak puitis merindukan bau tanah desa, saya justru memilih tiarap dan bertahan di Jakarta demi menghindari sound horeg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua ini terjadi gara-gara sound horeg. Kamu harus tahu kalau di Jawa Timur, hiburan rakyat bernama sound horeg sudah berubah menjadi ajang adu gengsi volume suara yang meresahkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka menghamburkan ribuan watt daya listrik cuma demi merakit dinding speaker yang getaran basnya sanggup meretakkan dinding rumah, merontokkan genteng, dan bikin jantung berdebar keliru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pilihan ini tentu bukan karena saya sudah lupa kacang akan kulitnya. Semua berawal dari obrolan via telepon bersama ibu beberapa hari lalu yang membagikan kabar situasi terkini di kampung halaman.<\/span><\/p>\n<h2><b>Brengsek, bayar iuran 100 ribu cuma untuk merusak telinga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarin ibu cerita kalau sound horeg akan memeriahkan perayaan Agustusan tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, ada 17 armada sound horeg berukuran raksasa yang siap menggelegar mengelilingi jalanan desa yang selebar tiga meter itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya semakin heran karena satu pengumuman. Jadi, KK wajib ikut urunan Rp100 ribu\u00a0 demi mendanai parade bising tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, nominal urunan bukan masalah utama. Tapi alokasinya itu loh yang bikin ngelus dada berulang kali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngapain membayar iuran cuma demi mengundang <a href=\"https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2025\/08\/05\/21292531\/sekjen-mui-sound-horeg-haram-jika-membawa-kerusakan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">polusi suara yang berpotensi merusak fasilitas rumah<\/a>. Daripada pulang ke Jawa Timur cuma buat menyiksa telinga dan emosi jiwa, saya sudah berencana mengungsikan keluarga besar keluar desa saat acara sound horeg berlangsung. Sementara mereka mengungsi, saya aman di perantauan Jakarta.<\/span><\/p>\n<h2><b>Terkikisnya tradisi dan budaya lokal Jawa Timur<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kalau mengingat masa lalu, ingatan saya tentang perayaan Agustusan di Jawa Timur itu selalu hangat dan menyenangkan. Bukan sound horeg yang merusak telinga itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, pawai dengan pakaian adat menjadi pemandangan yang kami nantikan. Lalu ada atraksi jaranan yang magis. Sampai parade gunungan hasil bumi yang diarak warga dengan penuh rasa syukur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada semangat gotong royong dan pelestarian budaya lokal yang terasa begitu kental. Tapi kini, keindahan tradisi itu seolah menguap gitu aja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dentuman bas dari sound horeg bikin pusing. Budaya Jawa Timur yang adiluhung justru terdesak oleh tren pamer daya listrik dan gengsi suara super keras.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan lagi pesta rakyat untuk mempererat silaturahmi, melainkan ajang gagah-gagahan yang menghilangkan nilai kebudayaan yang sesungguhnya. Karnaval yang dulu edukatif kini resmi berubah jadi hiburan yang sangat meresahkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menghindari sound horeg, memilih ketenangan di Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menghabiskan bulan Agustus di Jakarta mungkin terdengar membosankan bagi sebagian orang. Tapi kalau harus membandingkan kemacetan dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tinggal-delat-pemilik-sound-horeg-serasa-ada-hajatan-tiap-hari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">teror polusi suara<\/a> sound horeg di kampung, Jakarta mendadak terasa seperti tempat meditasi yang sangat tenang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sini, setidaknya saya bisa menikmati akhir pekan tanpa perlu cemas kaca kamar bakal pecah akibat getaran bas ekstrem dari pagi sampai subuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sound horeg sukses membuat niat mudik saya luntur seketika tanpa sisa. Ternyata, bertahan di perantauan Jakarta menjadi opsi paling rasional demi menyelamatkan ketenangan pikiran serta kedamaian gendang telinga saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keputusan menetap sementara di perantauan ini akhirnya jadi bentuk perlindungan diri yang paling hakiki. Kemerdekaan itu hakikatnya memberikan rasa nyaman dan kedamaian, bukan rasa cemas akibat keributan yang dipaksakan atas nama hiburan seperti sound horeg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, sampai tradisi Agustusan di kampung halaman kembali memanusiakan warga dan menghargai akar budaya yang sebenarnya, saya pilih menikmati arti kemerdekaan dari sudut perantauan ini saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dodik Suprayogi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dua-tahun-di-malang-saya-masih-tidak-bisa-menerima-sound-horeg\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saya sudah hidup di Malang selama 2 tahun, dan tetap tidak bisa menerima sound horeg<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ngapain membayar iuran cuma demi mengundang sound horeg, polusi suara yang berpotensi merusak fasilitas rumah. Goblok banget.<\/p>\n","protected":false},"author":2731,"featured_media":411860,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[34253,529,2501,34254,34255,20079],"class_list":["post-411858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-bahaya-sound-horeg","tag-jakarta","tag-jawa-timur","tag-karnaval-agustusan","tag-pawai-sound-horeg","tag-sound-horeg"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2731"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=411858"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411858\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":411865,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411858\/revisions\/411865"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/411860"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=411858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=411858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=411858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}