{"id":411717,"date":"2026-07-28T15:44:33","date_gmt":"2026-07-28T08:44:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=411717"},"modified":"2026-07-28T15:44:33","modified_gmt":"2026-07-28T08:44:33","slug":"meski-terancam-do-karena-modal-nekat-kuliah-akan-selalu-menjadi-keputusan-terbaik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meski-terancam-do-karena-modal-nekat-kuliah-akan-selalu-menjadi-keputusan-terbaik\/","title":{"rendered":"Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak jarang saya menemukan narasi-narasi kegagalan hidup datang dari orang-orang yang DO kuliah hingga yang sudah lulus tapi belum sukses. Sukses dan gagal yang dimaksud biasanya berkaitan dengan isi dompet dan jenjang karir. Narasi-narasi itu hadir seakan pertanda bahwa mereka adalah manusia gagal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus-kasus tersebut, seakan memunculkan persepsi bahwa kuliah itu percuma. Terlebih jika tidak mendatangkan pundi-pundi emas setelah lulus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya adalah seorang homeless sebatang kara, memutuskan untuk bertaruh pada kuliah secara nekat tanpa kepastian tidur di mana, besok makan apa. Kini, saya terancam DO kuliah. Dilihat dari sudut pandang manapun, pertaruhan yang saya lakukan lebih dekat dengan kegagalan dan seharusnya tahu diri untuk cari kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, saya akan tetap menyebutkan kuliah adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Terserah ada yang menyebut 6 tahun waktu saya habis sia-sia.<\/span><\/p>\n<h2><b>Narasi kuliah yang tidak relevan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara soal perkuliahan duniawi, narasi-narasi yang saya dapatkan seakan berputar dalam pembahasan kalangan menengah ke atas. Sebutlah keterkaitan kuliah dengan ROI, membanggakan orang tua, pekerjaan yang mapan, dan karier. Manakala keterkaitan tersebut tidak tercapai maka anggapan gagal adalah keniscayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur bagi saya, pembahasan-pembahasan seperti itu tidak relevan. Lebih jauh, hal itu malah menjadi narasi bising yang memuakkan. Tidak relevan karena sebagaimana tunawisma pada umumnya, besok makan apa jauh lebih penting dibanding mau berkarier di mana. Muak karena dipaksa mengerti permasalahan kelas menengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali kelas menengah lupa bahwa metrik kesuksesan tidak pernah tunggal. Bagi mereka, sukses berarti ratusan juta di rekening setelah lulus. Bagi saya, kuliah itu sendiri adalah bentuk dari kesuksesan. Kampus menjadi arena untuk menabrak batas-batas kelas sosial, sesuatu hal yang mustahil jika saya tetap berada di jalanan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dari Skor TOEFL hingga ke luar negeri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak pernah tahu dengan pasti bagaimana caranya saya bisa mendapatkan skor TOEFL 560. Saya tidak pernah kursus bahasa Inggris karena, ya ngapain?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun ada kursus bahasa Inggris yang katanya murah seharga 100.000, hitungannya tetap rugi jika dibandingkan dengan mengorbankan 10 kali jatah makan. Bisa kursus tapi setiap malam kelaparan dengan posisi tidur mirip trenggiling, itu jelas tidak lucu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Punya kolega bule? Jelas tidak ada. Faktor lingkungan boro-boro. Sejauh saya hidup, mentalitas \u201cgak bisa bahasa enggres\u201d di masyarakat masih besar, apalagi di lingkungan masyarakat bawah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang saya tahu, saya mendapatkan skor itu ketika kuliah, lebih tepatnya konsekuensi atas perkuliahan. Tuntutan-tuntutan tugas kuliah, diskursus mahasiswa hingga lika-liku berorganisasi menghadapkan saya pada referensi-referensi berbahasa Inggris. Saya harus membaca jurnal Scopus untuk membuat makalah, perlu tahu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Peaky Blinders<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu apa, dan wajib paham apa itu <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Kolb%27s_experiential_learning\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kolb Learning Cycle<\/a> gara-gara disuruh ngurus kaderisasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemampuan berbahasa ini kemudian mengantarkan saya untuk dipilih sebagai delegasi dalam agenda Youth Exchange dan bisa merasakan repotnya musim dingin di negara Jepang. Saya memiliki kesempatan mempresentasikan gagasan di hadapan orang kedutaan besar Jepang dan Indonesia, punya kenalan di Hiroshima, dan yang menggelitik: punya paspor. Saya punya teman anak haji dan dosen, dan dia tidak punya paspor, hahaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemampuan berbahasa ini pun mengantarkan saya untuk memampangkan foto dan pendapat saya di majalah ASEAN. Entahlah saya tidak tahu, pertimbangannya apa sampai-sampai dikirim pesan oleh pihak ASEAN. Yang jelas saya masuk majalah. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan meski suka mengkhayal di kamar mandi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun terlibat beberapa kali dalam forum bersifat internasional. Dari diskusi langsung soal Laut Cina Selatan bersama rekan-rekan mahasiswa ASEAN hingga membahas kesulitan regional Tohoku untuk menerapkan energi terbarukan karena salju bersama salah satu CEO perusahaan Jepang, saya merasakan dan masih mutualan di LinkedIn.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dipikirkan secara jernih, apa mungkin seorang tunawisma tanpa jalur kuliah mampu mendapatkan pencapaian-pencapaian seperti ini?<\/span><\/p>\n<h2><b>Perubahan sosial dan kognitif<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kemampuan bahasa hingga urusan luar negeri, hal itu hanyalah puncak gunung es. Aspek paling fundamental yang saya dapat adalah bagaimana perkuliahan mendobrak ketidaktahuan sekaligus mengikis kebodohan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berasal dari Kabupaten Majalengka, dari daerah pinggiran yang sangat minim informasi. Saking minimnya informasi, banyak hal dan fase normal yang terlewat dalam hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga usia 22 tahun, saya berstatus sebagai warga negara ilegal karena nggak punya KTP. Alasannya sesederhana saya memang tidak tahu soal itu. Lalu, syarat membuat KTP pun harus punya KK. Sebagai manusia yang hubungan keluarganya terpisah oleh alam yang berbeda, saya sangat berharap jurus Edo Tensei beneran ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika syarat diakui negara adalah punya keluarga, saya berpikir seumur hidup akan menjadi warga ilegal. Namun, di usia 22, akhirnya saya punya KTP setelah saya tahu bahwa kita bisa numpang KK orang lain. Meski statusnya famili lain, yang penting diakui negara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keabsahan status kewarganegaraan ini didapatkan ketika saya memutuskan untuk kuliah. Pendidikan terakhir saya SMP. Sedangkan untuk masuk perguruan tinggi, dibutuhkan ijazah SMA. Karena tidak mampu mengenyam bangku SMA, maka cara lainnya adalah ikut Paket C. Salah satu syaratnya adalah punya KTP.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkuliahan memang tidak berkontribusi secara langsung terhadap kepemilikan status kewarganegaraan. Namun, jika tidak ada niat kuliah, mungkin status saya sekarang masih setara dengan ganja.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Setelah lulus paket C<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah lulus Paket C dan berada di semester 1, saya masih ingat betapa kagetnya saat pertama kali mendengar kata \u201cbeasiswa\u201d. Rupanya di dunia ini ada sebuah skema yang memungkinkan kita sekolah pake uang orang lain. Selain beasiswa, saya juga baru tahu bahwa di dunia ini ada sebuah tempat untuk menampung anak-anak terlantar, namanya panti asuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sial sekali rasanya karena saya baru tahu itu ketika masuk kuliah. Andai saja tahu lebih dini, saya mungkin bisa merasakan duduk di bangku SMA dan kuliah tanpa memikirkan biaya, tak perlu tidur seperti trenggiling, dan yang lebih seru: punya cerita hidup seperti lagu Taylor Swift yang berjudul \u201c22\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tuntutan perkuliahan tidak hanya menjadikan saya lebih terinformasi, tetapi juga memaksa saya untuk berpikir secara kritis. Dan hal itu adalah yang paling saya syukuri: kapabilitas untuk berpikir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kapabilitas ini jelas bukan hal yang remeh. Kapabilitas inilah yang mampu menelanjangi kemiskinan yang menimpa saya dan keluarga dulu. Lebih penting lagi, kapabilitas inilah yang menjadi alasan untuk memaafkan kelakuan ninja bapak saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keputusan beliau di saat menghilang meninggalkan keluarga bukan hanya karena tak punya tanggung jawab, melainkan akumulasi dari kebijakan buruk negara, lingkungan sosial yang kelewat kejam, dan minimnya akses ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, itu jauh lebih penting daripada pergi ke luar negeri atau nonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Peaky Blinders<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tanpa subtitle. Karena perkuliahan, saya mampu menuntaskan masalah keluarga, sekaligus memahami kemiskinan sebagai modal untuk melakukan perlawanan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kuliah bikin saya menjadi lebih baik meski belum kaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini saya terancam DO kuliah dan cukup mampu menerimanya tanpa menafikan kesulitan pasca DO. Saya kuliah bermodalkan nekat dan mengandalkan siasat, resiliensi serta modal sosial untuk bertahan. Pun andai kata DO kuliah, hal itu hanyalah konsekuensi inheren yang perlu diterima atas pertaruhan yang telah dibuat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, saya sudah mendapatkan kemenangan-kemenangan yang relatif besar. Dari pengetahuan dan kemampuan yang dibangun, saya pikir itu menjadi modal yang cukup untuk berikhtiar mencari jalan keluar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itulah, terlepas dari ancaman DO kuliah, saya akan selalu menyebutkan bahwa bertaruh untuk kuliah bermodalkan nekat adalah keputusan paling bijak yang pernah diambil. Lagi pula, bukankah hidup yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Haris Wahyudin<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kampus\/berprestasi-di-uny-tapi-do-pindah-kampus-malah-difitnah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Berprestasi di UNY malah Di-DO, Pindah Kampus untuk Ngulang Kuliah dari Awal malah Difitnah hingga Batal Lulus<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh karena itulah, terlepas dari ancaman DO kuliah, saya akan selalu menyebutkan bahwa bertaruh untuk kuliah adalah keputusan terbaik.<\/p>\n","protected":false},"author":3310,"featured_media":411751,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13089],"tags":[29879,436,4416],"class_list":["post-411717","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-do-kuliah","tag-kuliah","tag-toefl"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411717","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3310"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=411717"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411717\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":411752,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411717\/revisions\/411752"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/411751"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=411717"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=411717"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=411717"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}