{"id":411692,"date":"2026-07-28T12:38:08","date_gmt":"2026-07-28T05:38:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=411692"},"modified":"2026-07-28T12:38:08","modified_gmt":"2026-07-28T05:38:08","slug":"peran-benteng-engelenburg-untuk-ultah-klaten","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/peran-benteng-engelenburg-untuk-ultah-klaten\/","title":{"rendered":"Benteng Engelenburg sudah lenyap, tapi perannya untuk hari jadi Klaten akan selalu diingat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari ini, 28 Juli 2026, Kabupaten Klaten merayakan hari jadi ke-222. Banyak orang, termasuk warga lokal, mungkin belum tahu asal-usul tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Klaten. Termasuk peran penting Benteng Engelenburg dalam penentuan hari jadi ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara kalian mungkin kemdian bertanya-tanya, apa perannya? Di mana benteng itu sekarang? Dan bagaimana kondisinya?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, secara fisik benteng satu ini sudah lenyap. Itu mengapa, sebagai warlok saya merasa perlu kembali \u201cmembangun ulang\u201d benteng tersebut.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sejarah hari jadi Klaten<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klaten merupakan wilayah yang memiliki tinggalan sejarah dan budaya yang sangat beragam. Hal ini dibuktikan dengan adanya artefak berupa monumen atau bangunan yang masih dapat dijumpai hingga kini. Misalnya saja, bangunan candi, prasasti hingga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/histori\/gedung-mangkrak-misterius-sekitar-malioboro-dan-tugu-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bangunan kolonial<\/a> seperti pabrik maupun gedung pemerintahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selayaknya daerah lain di Indonesia, setiap daerah ingin menggali sejarahnya masing-masing untuk dasar menetapkan hari jadi. Banyak daerah berlomba-lomba mencari bukti eksistensi dari zaman yang paling \u201ctua\u201d untuk menunjukkan kebanggaan atas kejayaan masa lalu sebagai identitasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kembali ke belakang, Pemerintah Daerah Klaten pernah merayakan hari jadi pada tanggal 28 Oktober. Hal ini didasari atas pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRDS) yang dilantik pada 28 Oktober 1950.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, perayaannya disebut sebagai \u201cHari Ulang Tahun Pemerintah Daerah Klaten\u201d. Akan tetapi, hal itu selalu menjadi kontroversi karena alasan Klaten sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, pada akhir 1990-an muncul usulan agar dilaksanakan penelitian tentang Hari Jadi Kabupaten Klaten yang sesungguhnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Penelitian untuk menentukan hari jadi Klaten<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penelitian tentang Hari Jadi Kabupaten Klaten baru terlaksana pada tahun 2005. Para ahli sejarah dilibatkan untuk mencari bukti sejarah mengenai eksistensi Klaten sebagai sebuah wilayah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil dari penelitian tersebut mendapatkan bukti paling awal penyebutan nama Klaten pada zaman kolonial Belanda. Tepatnya pada 28 Juli 1804 dalam peristiwa peletakan batu pertama pembangunan sebuah benteng di desa Klaten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atas rekomendasi penelitian tersebut, maka pada tahun 2007, Hari Jadi Kabupaten Klaten ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 Tahun 2007. Dalam peraturan tersebut, tanggal 28 Juli 1804 dipilih sebagai titik awal Hari Jadi Kabupaten Klaten.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan utama ditetapkannya tanggal tersebut adalah pendirian benteng di sebuah desa bernama Klaten. Keberadaan benteng tersebut diyakini sebagai awal pembentukan wilayah yang lebih kompleks setingkat pemerintahan sebuah kota.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengenal Benteng Engelenburg Klaten<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benteng yang dibangun di Klaten itu diberi nama Engelenburg. Nama tersebut diambil dari nama seorang Gubernur Pantai Timur Laut Jawa, Nicolaus Engelhard, untuk menghormati jasanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benteng Engelenburg dibangun untuk mengawasi wilayah perbatasan dua kerajaan besar yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Situasi saat itu, setelah perjanjian Giyanti (1755) yaitu peristiwa Palihan Nagarai di mana Mataram pecah menjadi 2 dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran (1757) masih banyak gesekan-gesekan yang terjadi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gesekan terjadi disebabkan masih adanya tumpang-tindih wilayah antar kedua kerajaan tersebut, khususnya di daerah perbatasan yang masih belum jelas. Klaten dinilai strategis karena berada di tengah antara kedua kerajaan tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, atas perintah Nicolaus Engelhard benteng di Klaten segera dibuat. Tepat pada tanggal 28 Juli 1804 peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan benteng tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberadaan Benteng Engelenburg menjadi awal dari munculnya koloni Belanda di daerah ini. Setelah adanya bentang, Kolonial Belanda mulai membangun infrastruktur penunjang lain seperti kantor pemerintahan dan pusat perekonomian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, benteng ini juga memiliki peran aktif dalam meredam perjuangan rakyat misalnya dalam Perang Diponegoro. Benteng ini dijadikan oleh Belanda sebagai titik awal untuk menumpas perjuangan Pangeran Diponegoro di Yogyakarta. Pada masa Kemerdekaan Indonesia, Benteng <\/span>Engelenburg<span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0juga masih berfungsi.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Benteng lenyap dibakar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Agresi_Militer_Belanda_II\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Agresi Militer Belanda II<\/a> pada 1948-1949 menjadi titik awal runtuhnya Benteng Engelenburg. Kekhawatiran rakyat akan kembalinya Belanda berkuasa, maka muncullah strategi bumi hangus. Strategi bumi hangus yang dilakukan bertujuan agar tempat-tempat strategis tidak lagi dikuasai oleh Belanda. Di Klaten, banyak bangunan yang akhirnya dibakar untuk melemahkan posisi Belanda sehingga tidak bisa menempatinya kembali, salah satunya yaitu Benteng Engelenburg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah peristiwa tersebut, benteng dibiarkan terbengkalai. Kondisi ini bertahan hingga akhir 1960-an. Lokasi bekas benteng menjadi kumuh karena kawasan tersebut berdekatan dengan pasar serta pada muka benteng dijadikan sebagai terminal angkutan kota.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga akhirnya, pada Awal tahun 1970-an bekas benteng tersebut dirobohkan sepenuhnya. Bekas lokasi benteng kini menjadi kompleks peribadahan yaitu Masjid Raya Klaten. Masjid ini dibangun mulai tahun 1970 dan akhirnya selesai tahun 1980.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benteng Engelenburg mungkin tidak akan pernah kembali seperti semula. Walau demikian, sebagai warlok saya optimis benteng tersebut dapat kembali \u201cdibangun\u201d asalkan ada kemauan dari pemerintah dan warga masyarakatnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Membangun kembali Benteng Engelenburg\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk itu ada beberapa hal yang dapat saya usulkan untuk membangun kembali narasi tentang Benteng Engelenburg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, membuat sebuah monumen peringatan. Mungkin ini adalah salah satu hal yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten agar masyarakat mengetahui keberadaan benteng tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Monumen tidak harus megah dan mewah, cukup dengan tanda yang jelas menerangkan lokasi dan informasi tentang Benteng Engelenburg itu. Monumen tersebut bisa di tempatkan di depan Masjid Raya Klaten, sebagai lokasi asli dari Benteng Engelenburg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, mencetak kembali buku penelitian hari jadi Klaten. Buku penelitian tentang hari jadi Kabupaten Klaten yang memuat narasi keberadaan Benteng Engelenburg yang pernah diterbitkan oleh pemerintah perlu untuk dicetak ulang dan disebarluaskan setidaknya ke sekolah-sekolah di Klaten. Dengan demikian, generasi muda dapat memperoleh informasi yang valid dan akurat tentang keberadaan benteng dan sejarah kabupatennya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, membuat maket Benteng Engelenburg. Maket atau bentuk tiruan tiga dimensi dengan skala yang lebih kecil merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membangun kembali benteng tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembuatan maket akan memudahkan masyarakat untuk mengetahui bentuk asli Benteng Engelenburg dengan skala yang lebih kecil. Maket dapat diletakkan di tempat-tempat umum yang bisa dikunjungi oleh masyarakat Klaten. Salah satu tempat yang cocok yaitu Museum Daerah Kabupaten Klaten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dengan demikian, keberadaan Benteng Engelenburg dapat kembali menjadi kebanggan masyarakat Klaten. Jika Jogja punya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nanti-kita-cerita-tentang-hari-ini-di-museum-daripada-kamu-rebahan-terus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Vredeburg<\/a> dan Solo punya Vastenburg, maka Klaten juga punya Engelenburg (meskipun hanya dalam bentuk maket) hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Naufal Sa&#8217;ad<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/memori\/sosok-kiai-melati-dalam-sejarah-klaten\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">3 Fakta tentang Kiai Melati, Sosok Penting di Balik Sejarah Kelahiran Kabupaten Klaten.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Benteng Engelenburg Klaten secara fisik sudah tiada, tapi perannya dalam menandai hari jadi Klaten pada 28 Juli akan selalu diingat.<\/p>\n","protected":false},"author":919,"featured_media":411721,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[12697,34237,34236,34238,8095],"class_list":["post-411692","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-benteng","tag-benteng-engelenburg","tag-benteng-engelenburg-klaten","tag-benteng-klaten","tag-klaten"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411692","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/919"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=411692"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411692\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":411724,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411692\/revisions\/411724"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/411721"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=411692"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=411692"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=411692"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}