{"id":411607,"date":"2026-07-27T17:08:54","date_gmt":"2026-07-27T10:08:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=411607"},"modified":"2026-07-27T17:55:47","modified_gmt":"2026-07-27T10:55:47","slug":"tarif-parkir-scbd-jakarta-bikin-syok-bisa-dua-kali-makan-di-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tarif-parkir-scbd-jakarta-bikin-syok-bisa-dua-kali-makan-di-jogja\/","title":{"rendered":"Tarif parkir SCBD Jakarta bikin syok, bisa buat dua kali makan di Jogja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ditanya tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">culture shock <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pertama kali merantau di Jakarta, kebanyakan orang mungkin menjawab<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/urban\/kos-murah-kebayoran-baru-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> harga kos<\/a>, macet, hingga biaya makan. Namun, bagi saya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">culture shock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sesungguhnya adalah tarif parkir SCBD Jakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Gunungkidul yang sempat kuliah dan bekerja di Jogja selama beberapa tahun, saya tumbuh dengan pemahaman parkir itu biaya receh. Memang ada beberapa tempat yang tarifnya lumayan mahal, terutama mal atau rumah sakit besar, tapi tetap saja rasanya masih masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar 2018, saya bekerja di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lippo-plaza-jogja-yang-hidup-segan-mati-tak-mau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Lippo Plaza Jogja<\/a>. Saat itu saya cukup familiar dengan tarif parkir di pusat perbelanjaan. Untuk motor, biasanya tarifnya Rp3.000 pada jam pertama, lalu bertambah Rp2.000 per jam berikutnya. Yang penting, ada batas maksimal. Umumnya sekitar Rp5.000 per hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mobil juga kurang lebih sama. Tarif awal sekitar Rp5.000, lalu bertambah beberapa ribu rupiah setiap jam. Namun, tetap ada batas maksimal harian, biasanya Rp10.000 sampai Rp15.000 tergantung lokasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, pada masa itu saya sudah menganggap tarif seperti itu mahal. Maklum, saya berasal dari daerah yang terbiasa dengan parkir Rp2.000 seharian. Jadi ketika harus membayar Rp5.000 untuk menitipkan motor selama bekerja, rasanya sudah seperti dipalak secara profesional.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tarif parkir di SCBD Jakarta lebih \u201cgila\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2019 saya diterima <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-pertama-kerja-di-jakarta-bikin-trauma\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bekerja di Jakarta<\/a>. Status saya waktu itu naik menjadi karyawan tetap setelah sebelumnya bekerja sebagai tenaga<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> outsourcing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di Jogja. Kesempatan itu tentu saya syukuri, meski proses perpindahannya penuh drama. Dalam waktu dua minggu saya harus mengurus tiket, mencari kos, dan mempersiapkan hidup baru di kota yang sebelumnya hanya saya lihat di televisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat pertama kali tinggal di Jakarta, saya belum membawa motor. Saya lebih banyak mengandalkan transportasi umum dan sesekali ojek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Karena itu, urusan parkir belum terlalu saya pikirkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai suatu hari saya melihat seorang teman membayar parkir motor sekitar Rp25.000. Saya ingat betul ekspresi saya waktu itu, \u201cLho, parkir motor kok segitu?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang terbiasa dengan sistem parkir Jogja, angka itu terasa tidak masuk akal. Dalam pikiran saya saat itu, Rp25.000 bisa dipakai untuk makan. Bahkan, kalau sedang hemat, uang sebanyak itu bisa cukup untuk dua kali makan sederhana di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya hanya tertawa. Katanya, itu hal biasa di Jakarta. Saya masih belum percaya. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian saya merasakannya sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Syok setelah mengalaminya sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar 2023, saya bekerja di kawasan SCBD Jakarta. Saat itu saya sudah menggunakan motor untuk mobilitas sehari-hari. Alasannya sederhana saja, mengejar waktu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering berpikir naik motor lebih praktis. Tidak perlu menunggu kendaraan umum, tidak perlu transit, dan terasa lebih fleksibel ketika harus berangkat pagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Sampai suatu sore saya keluar dari area parkir sebuah pusat perbelanjaan di kawasan SCBD Jakarta. Seperti biasa, saya menempelkan kartu Flazz dan menunggu palang terbuka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu saya melihat layar pembayaran yang menunjukkan angka Rp28.000. Saya sampai menatap layar itu beberapa detik untuk memastikan tidak salah baca. Iya, mata saya benar, dua puluh delapan ribu rupiah, untuk parkir motor!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu untungnya tidak ada antrean panjang di belakang saya. Jadi saya masih punya waktu untuk mencerna kenyataan hidup tanpa harus malu dilihat orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hati saya cuma bisa berpikir, \u201cIni motor saya dititipkan atau sekalian dikasih makan?\u201d Barulah saya memahami perbedaan mendasar antara sistem parkir yang saya kenal di Jogja dan yang saya temui di banyak tempat di Jakarta.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sistem parkir SCBD Jakarta agak berbeda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tarif dasarnya memang mirip. Motor biasanya dikenakan biaya beberapa ribu rupiah pada jam pertama dan bertambah setiap jam berikutnya. Bedanya, banyak tempat di Jakarta tidak menerapkan batas maksimal harian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, semakin lama kendaraan terparkir, semakin besar biaya yang harus dibayar. Kalau bekerja delapan sampai sepuluh jam, angkanya bisa membengkak tanpa ampun. Yang membuat saya makin syok adalah ketika mulai menghitungnya dalam skala bulanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, biaya parkir SCBD rata-rata\u00a0 Rp20.000 per hari kerja. Jika dikalikan sekitar 22 hari kerja dalam sebulan, hasilnya sudah mencapai Rp440.000. Itu hanya untuk parkir, belum bensin, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-banyak-pemilik-motor-honda-trauma-servis-di-ahass\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">servis motor<\/a>, dan banyak biaya lain yang mengikuti ketika memutuskan membawa kendaraan pribadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di situlah saya mulai sadar bahwa biaya hidup di Jakarta sering kali datang dari pengeluaran-pengeluaran kecil yang tidak kita perhitungkan sejak awal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang sering membicarakan mahalnya kos di Jakarta. Memang benar. Orang juga sering membicarakan harga makanan, biaya nongkrong, atau cicilan kendaraan. Itu juga benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, ada pengeluaran kecil yang diam-diam ikut menggerogoti dompet tanpa banyak disadari. Salah satunya adalah parkir. Sejak saat itu saya mulai mengubah kebiasaan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Belajar dari pengalaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya berusaha berangkat lebih awal dan memberi waktu lebih longgar untuk perjalanan. Dengan begitu, saya bisa lebih sering menggunakan kombinasi KRL dan TransJakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, transportasi umum tetap punya kekurangan. Kadang ramai, kadang harus berdiri, kadang harus berjalan kaki cukup jauh dari halte atau stasiun. Namun, setelah membandingkannya dengan biaya parkir yang pernah saya bayar, rasa capek itu terasa lebih mudah diterima.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh tarif TransJakarta hanya beberapa ribu rupiah untuk perjalanan yang jauh. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/urban\/kelakuan-penumpang-krl-jakarta-lebih-manusiawi-dari-krl-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">KRL<\/a> juga relatif murah dibandingkan biaya membawa kendaraan pribadi ke pusat kota setiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, pengalaman melihat angka Rp28.000 di layar parkir SCBD Jakarta mengajarkan saya satu hal sederhana yaitu biaya hidup di Jakarta tidak selalu datang dari hal-hal besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, bagi seorang perantau dari <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Gunungkidul\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gunungkidul<\/a> yang dulu pernah mengeluh karena harus membayar parkir Rp5.000 di Jogja, tarif parkir motor di Jakarta adalah pelajaran finansial yang tidak akan pernah saya lupakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Andry Setyawan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kerja-di-scbd-keren-tapi-bikin-stres\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sisi Gelap Kerja di SCBD: Gaji Sebulan Habis buat Hedon Gara-gara Stres Kerjaan<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu culture shock paling membekas saat merantau adalah tarif parkir SCBD Jakarta yang setara dua kali makan sederhana di Jogja.<\/p>\n","protected":false},"author":3275,"featured_media":411634,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[529,93,34232,34231,15046,32341],"class_list":["post-411607","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jakarta","tag-parkir","tag-parkir-jakarta","tag-parkir-scbd-jakarta","tag-scbd","tag-scbd-jakarta"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411607","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3275"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=411607"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411607\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":411636,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411607\/revisions\/411636"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/411634"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=411607"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=411607"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=411607"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}