{"id":411596,"date":"2026-07-27T14:06:13","date_gmt":"2026-07-27T07:06:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=411596"},"modified":"2026-07-27T14:06:13","modified_gmt":"2026-07-27T07:06:13","slug":"kebiasaan-dagel-di-lembata-ntt-membebani-tenaga-dan-materi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebiasaan-dagel-di-lembata-ntt-membebani-tenaga-dan-materi\/","title":{"rendered":"Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu kebiasaan di kampung saya, Lembata NTT, yang saya lihat dari kecil tetap lestari hingga sekarang, yaitu dagel atau perayaan. Saya akrab melihat tenda didirikan, kursi-kursi ditata, puluhan hewan dipotong, dan orang ramai berdatangan untuk membantu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya, dagel tidak selesai dalam sehari. Seringkali bisa seminggu, kemudian bisa dilanjutkan dengan rangkaian acara lain yang membuat rumah penyelenggara selalu ramai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sewaktu kecil, saya menyukai suasana itu. Dagel, artinya banyak makanan enak, terutama daging. Di saat ini pula saya bisa bertemu banyak anak-anak seumuran yang ikut bapak atau ibunya. Kami bermain, kemudian mengikuti segala proses dagel, dan bahkan bisa menginap. Tidur bareng dengan anak-anak sepantaran tentu menyenangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, saya belum memahami bahwa di balik semua kemeriahan itu, ada kelelahan yang terus menerus berusaha ditutup-tutupi oleh para orang dewasa. Bayangkan, pagi hingga sore sibuk dengan persiapan dan kelangsungan acara. Malamnya akan dilanjut dengan obrolan panjang. Beberapa hal yang membuat mereka jeda ya hanya salat (bagi muslim) dan mengurus pakan ternak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, ada pula keluarga dari pihak penyelenggara yang boleh jadi harus menguras keuangannya, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/pinjaman-online-yang-tak-bertatap-bukan-berarti-lebih-aman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mencari pinjaman<\/a> sana-sini, supaya kebutuhan dagel bisa terpenuhi atau setidaknya bisa dianggap layak di hadapan keluarga besar atau masyarakat kampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kacamata <\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Suku_Lamaholot\"><span style=\"font-weight: 400;\">masyarakat Lamaholot<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, dagel bisa berupa pesta, hajatan, atau perayaan yang melibatkan keluarga dan masyarakat sekitar. Bentuknya bisa beragam, mulai dari pesta pernikahan, sambut baru, syukuran, ritual adat, hingga perayaan keluarga lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, dalam konteks ada yang meninggal, keluarga besar dan masyarakat akan berkumpul dan membahas rangkaian kegiatan. Semua itu menelan banyak tenaga, waktu, dan biaya secara materi. Dari aspek budaya, kebiasaan di Lembata NTT ini tumbuh dari nilai kekeluargaan, gotong royong, dan hubungan timbal balik yang menjadi pondasi dalam kehidupan masyarakat adat.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dagel awalnya wadah bagi warga agar tetap solid<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara sosial, dagel menjadi wadah untuk menguatkan hubungan antarsuku dan kampung. Kemudian menjadi gambaran solidaritas agar sebuah keluarga tidak menghadapi peristiwa penting sendirian. Misalnya pada pesta pernikahan atau sambut baru, dagel adalah cara untuk membagikan kebahagian. Sementara dalam konteks duka, dagel merupakan bentuk dukungan bagi mereka yang kehilangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, makin ke sini, kebiasaan dagel di Lembata yang awalnya punya tujuan untuk meringankan, perlahan menjadi memberatkan. Tanpa banyak yang sadar, nilai dagel yang mulanya soal kebersamaan, bergeser menjadi perayaan glamor yang menguras habis tenaga, waktu, dan materi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, semua itu membuat dagel melahirkan tiga jenis beban sekaligus.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, beban fisik yang terlihat bagaimana persiapan yang dilakukan. Mulai dari pra acara, saat dagel, dan setelahnya di mana keluarga harus menyiapkan tempat, memasak, menerima tamu, mengurus banyak perlengkapan, dan membereskan semuanya setelah dagel berakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, beban psikis yang tergambar dari tekanan yang tanpa sadar menuntut dagel harus hadir dengan glamor, meriah, sehingga tidak mengecewakan keluarga besar. Banyak syarat dan keharusan yang ditempel dengan nilai kesakralan sehingga jadi wajib. Harus sembelih kambing, harus pakai kain ini. Harus dilangsungkan hari ini. Dan segala persyaratan yang kadang terdengar gak masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga adalah beban materi. Kebutuhan dagel mulai dari makanan dan minuman, perlengkapan, dan berbagai keperluan lain menelan banyak biaya. Masih bagus kalau punya tabungan atau punya anak yang merantau sehingga bisa dimintai. Sayangnya kalau gak punya keduanya, jalan satu-satunya ya berutang.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak hanya penyelenggara, semua warga terbebani<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beban materi yang saya soroti sebenarnya nggak hanya ditanggung oleh keluarga, tapi juga orang yang datang. Sebab, mereka harus membawa uang, beras, gula, hewan, minuman, atau hasil bumi lainnya. Pemberian itu jadi wujud solidaritas. Yang jadi persoalan, kalau dagel-nya berkali-kali, bahkan ada musim dagel yang isinya tiap hari dagel, maka yang ada malah jadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hidup-di-desa-itu-murah-yang-mahal-adalah-ongkos-sosialnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tagihan sosial<\/a>, kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua kebiasaan ini membuat saya jadi kecewa karena nilainya telah bergeser. Harusnya dagel adalah simbol solidaritas yang meringankan bukan membebankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau terus seperti ini, ya siap-siap kalau dagel hanya jadi kebiasaan di Lembata NTT yang akan ditinggalkan karena kenyataannya membuat banyak pemuda asal sendiri malas pulang kampung karena hal-hal yang terlalu menuntut dari dagel itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-fakta-tentang-nusa-tenggara-timur-yang-harus-kalian-tahu\/\"><b><i>6 Fakta Tentang Nusa Tenggara Timur yang Harus Kalian Tahu<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebiasaan dagel di Lembata NTT awalnya wadah menguatkan hubungan, tapi kini kian bergeser jadi membebani warga secara tenaga dan materi. <\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":411600,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[34226,34225,19945,29445,1161,2490],"class_list":["post-411596","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-budaya-ntt","tag-dagel","tag-lembata","tag-lembata-ntt","tag-ntt","tag-pesta"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411596","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=411596"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411596\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":411608,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411596\/revisions\/411608"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/411600"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=411596"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=411596"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=411596"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}