{"id":411179,"date":"2026-07-23T15:30:04","date_gmt":"2026-07-23T08:30:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=411179"},"modified":"2026-07-23T15:30:04","modified_gmt":"2026-07-23T08:30:04","slug":"dosa-tukang-cukur-madura-yang-bikin-pelanggan-risih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-tukang-cukur-madura-yang-bikin-pelanggan-risih\/","title":{"rendered":"5 Dosa tukang cukur Madura yang bikin pelanggan risih dan kapok balik lagi"},"content":{"rendered":"<p><em>Tukang cukur Madura sebaiknya perhatikan hal-hal ini agar pelanggan nggak kabur.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Potong rambut, salah satu aktivitas yang membuat kita semakin akrab akan kepasrahan. Kita hanya bisa duduk di kursi dan bergantung pada tukang cukur. Di momen itu, pelanggan cuma bisa pasrah dan berharap tukang cukur tidak keliru memangkas rambut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tergolong orang yang sering potong rambut. Biasanya saya potong rambut di tukang cukur Madura. Alasannya sederhana, harganya terjangkau dan aksesnya mudah karena ada di mana-mana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, prosedur potongnya pun nggak ribet, tidak seperti di <a href=\"https:\/\/lifestyle.kompas.com\/read\/2017\/07\/13\/073100520\/yang.membedakan.barbershop.dengan.pangkas.rambut.tradisional.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">barbershop<\/a>. Tinggal datang, menyapa, duduk, lalu kasih tahu mau dipotong dengan model seperti apa. Tentu ini soal preferensi dan sangat subjektif, tapi setidaknya itu yang saya rasakan.<\/span><\/p>\n<p>Saking cukup sering potong rambut di berbagai tukang cukur Madura, saya jadi hapal beberapa kebiasaan mereka yang mengganggu. <span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, bisa disebut sebuah dosa yang rasanya pantas untuk dibicarakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya garis bawahi, ini tidak berarti memukul rata pelayanan di semua tukang cukur Madura ya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga sering kok menjumpai tukang cukur yang hasilnya memuaskan, pelayanannya ramah, dan ngajak ngobrolnya nggak berlebihan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, ada juga beberapa pengalaman menggunakan jasa tukang cukur Madura yang bikin risih dan kapok balik lagi ke sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Mesin cukur seperti alat pencabut rumput<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosa pertama adalah mesin cukur yang kadang rasanya seperti alat pencabut rumput daripada alat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/udin-tukang-potong-rambut-terakhir-di-sor-ringin-alun-alun-utara-yogya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pangkas rambut<\/a>. Terserah kalau ini mau disebut berlebihan, tapi saya mengalaminya dan itu tidak mengenakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak tahu apakah yang bermasalah ini adalah mesinnya, mata pisaunya, atau cara orangnya yang mencukur, tapi yang pasti, ketika alat cukurnya mulai memotong, rambut saya seperti ditarik atau dijambak paksa. Dan, itu rasanya gak nyaman, bahkan cenderung sakit. Kondisi itu membuat kepala saya sering reflek bergerak karena \u201ctarikan\u201d itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tentu tidak tinggal diam. Saya sampaikan keluhan itu kepada tukang cukurnya, tapi yang saya dapat biasanya hanya minta maaf atau respon yang kurang empatik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah begitu, ada jenis tukang cukur rambut yang cara memberikan instruksinya kurang humanis. Nah, kita masuk ke dosa kedua, yaitu cara memberikan instruksi yang agak ketus.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Tukang cukur Madura ketus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kerap mendengar tukang cukur yang cara komunikasinya nggak enak banget. \u201cNunduk, Mas,\u201d atau \u201cMiring, Mas,\u201d dengan nada ketus, tidak enak di dengar. Dan, kepala saya pun langsung digerakan dengan agak kasar olehnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya paham kok, kalau tukang cukur memang punya otoritas mengatur kepala pelanggannya agar hasilnya maksimal. Saya tidak berharap mereka meminta izin dengan bahasa halus layaknya meminta mahasiswa minta izin ketemu kepada dosen. Nggak sampe segitunya, kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, paling tidak, nadanya jangan ketus gitu dan kasih saya waktu untuk menggerakan kepala saya sendiri dong. Jangan perlakukan kepala saya seperti\u00a0 joystick yang ada di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/rental-ps-di-jogja-tak-pernah-sepi-jadi-dukung-juara-piala-asia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rental PS<\/a> seperti itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Bau badan\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosa ketiga adalah tentang sesuatu yang mungkin tabu, tapi perlu saya ungkap yakni bau badan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu kalau para tukang cukur ini harus berdiri berjam-jam, bergerak ke kiri dan ke kanan, dari satu pelanggan ke pelanggan lainnya. Terlebih kalau tempat cukurnya itu panas, kipas anginnya mini dan alakadarnya, sehingga keringat pun jadi keluar. Itu manusiawi kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalannya, mereka seharusnya sadar bahwa sebagai tukang cukur, jarak mereka dengan pelanggan sangatlah dekat. Apalagi posisi ketiak mereka saat mulai mencukur bisa begitu dekat hidup pelanggan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, tolong dengan amat sangat untuk menjaga aroma badan. Rajin jaga kebersihan dan menggunakan deodorant misalnya. Ini penting sekali demi kenyamanan pelanggan. Saya beberapa kali mengalami itu dan rasanya sungguh tidak menyenangkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Tidak lihai saat mencukur bagian tengkuk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya dosa keempat yang muncul ketika bagian tengkuk mulai dirapikan menggunakan silet atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pisau-cukur-indomaret-adalah-pilihan-terbaik-daripada-pisau-cukur-gillette\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pisau cukur<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses ini sebenarnya saya sukai. Sisa-sisa rambut di bagian belakang leher dibersihkan sehingga kelihatan lebih rapi. Kalau dilakukan dengan benar, proses itu memberikan rasa nyaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, lain ketika ada tukang cukur yang mencukur bagian tengkuk seperti sedang punya dendam pribadi. Pisau ditekan terlalu kuat, kemudian dikerok dengan kasar. Akibatnya, tengkuk jadi terasa panas setelah proses tersebut. Menurut saya masih ada tukang cukur yang terlalu menyepelekan hal ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Tukang cukur Madura kurang higienis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosa terakhir yang menurut saya paling tidak saya toleransi adalah soal kebersihan. Saya beberapa menjumpai tukang cukur yang alatnya kelihatan begitu kotor. Entah sudah berapa abad alatnya tidak dibersihkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ingat, mesin cukur itu menyentuh kulit kepala. Sisir juga digunakan bergantian. Pisau dipakai untuk tengkuk dan sedikit bagian area dekat telinga. Semua alat itu bersentuhan langsung dengan kita sebagai pelanggan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, akan sangat berdosa ketika tukang cukurnya tidak membersihkan semua alat itu secara rutin. Bayangkan kalau tidak dicuci, sudah berapa ratus orang yang jadi korban? Soal kebersihan adalah soal kenyamanan bagi pelanggan. Dan rasanya itu jadi sesuatu yang seharusnya dipenuhi oleh para tukang cukur Madura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, seluruh \u201cdosa\u201d di atas bukan berarti semua tukang cukur Madura seperti itu ya. Sebagaimana yang saya bilang, tetap ada banyak tukang cukur Madura yang profesional dan membuat pelanggan jadi betah duduk saat dicukur rambutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-tukang-cukur-kebanyakan-berasal-dari-garut\/\"><b><i>3 Alasan Tukang Cukur Kebanyakan Berasal dari Garut.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tukang cukur Madura punya beberapa &#8220;dosa&#8221; yang bikin pelanggan risih, mulai dari mesin atau alat cukurnya hingga kebersihan. <\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":411187,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13078],"tags":[34171,5020,5311,11300,9148,32294],"class_list":["post-411179","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-cukur","tag-madura","tag-potong-rambut","tag-salon","tag-tukang-cukur","tag-tukang-cukur-madura"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411179","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=411179"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411179\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":411192,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/411179\/revisions\/411192"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/411187"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=411179"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=411179"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=411179"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}