{"id":410907,"date":"2026-07-21T13:45:05","date_gmt":"2026-07-21T06:45:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=410907"},"modified":"2026-07-21T13:45:05","modified_gmt":"2026-07-21T06:45:05","slug":"kenapa-banyak-daerah-di-jombang-bernama-mojo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-banyak-daerah-di-jombang-bernama-mojo\/","title":{"rendered":"Kenapa banyak daerah di jombang bernama mojo?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahukah kamu kalau di Jombang itu banyak daerah yang mendapat nama \u201cmojo\u201d? Beberapa di antaranya adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-titik-jalan-raya-mojoagung-jombang-yang-patut-diwaspadai-pengendara-pemula\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mojoagung<\/a>, Mojowarno, Mojodukuh, Mojotengah, Mojosongo, dan Mojo-mojo yang lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai-sampai kalau orang luar melihat peta Jombang, mereka bisa bingung karena terlalu banyak Mojo. Kenapa bisa begitu? Begini analisis saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hipotesis yang paling populer<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang menduga banyak nama \u201cmojo\u201d di Jombang ini sangat erat kaitannya dengan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Majapahit\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kerajaan Majapahit<\/a>. Bahkan banyak juga yang mengira kalau daerah-daerah ini dulunya sudah eksis sejak era Kerajaan Majapahit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, banyak yang berpendapat kalau dulu banyak pohon maja di Jombang. Makanya, nama \u201cmojo\u201d atau \u201cmaja\u201d banyak dipakai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mojo sendiri berasal dari Bahasa Jawa \u201cMaja\u201d. Maja yang memiliki nama Latin Aegle marmelos ini dulunya tumbuh liar di daerah Jawa Timur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buah maja ini terkenal pahit dan banyak yang menggunakannya sebagai tanaman obat. Pohonnya mudah tumbuh walaupun di tanah yang kering, berawa, atau basa (salin). Faktanya, saat ini ternyata lebih sulit menemukan pohon maja daripada nama daerah dengan kata maja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pohon sebagai penanda di Jombang<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada masa lalu, kita mungkin belum mengenal peta atau koordinat. Cara termudah untuk mengenali suatu tempat di Jombang adalah melalui ciri yang paling menonjol.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, karena banyak pohon maja, orang dulu di Jombang banyak memakai istilah mojo. Jika banyak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ungker-kepompong-ulat-jati-kuliner-khas-blora\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pohon jati<\/a>, disebut jati. kalau pohon kapuk, orang akan menyebutnya randu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lama-kelamaan nama itu berubah menjadi nama daerah yang sekarang kita kenal, baik itu dusun, desa, kecamatan, bahkan sampai kota. Mungkin sama halnya jika ada orang\u00a0 zaman sekarang menyebut \u201cdekat Alfamart\u201d, mungkin orang zaman dulu juga menyebut \u201cdekat pohon maja\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Persebaran nama mojo di Jombang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya saya sudah menghimpun beberapa nama mojo di Jombang dari tiap-tiap kecamatan:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandarkedungmulyo:: Mojokambang<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bareng: Mojotengah, Mojounggul<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diwek: Mojosongo<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jombang: Mojongapit<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mojoagung: Dukuhmojo, Mojolegi, Mojoranu, Mojotrisno, dan Mojoagung itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mojowarno: Mojoduwur, Mojokembang, Mojojejer, Mojoroto, Mojodadi, Mojogeneng, Mojodukuh, Mojowangi, dan Mojowarno itu sendiri<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngusikan: Mojodanu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Plandaan: Karangmojo<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ploso: Mojoyanti<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sumobito: Mojokuripan, Mojodadi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tembelang: Mojokrapak, Tampingmojo<\/span><\/p>\n<h2><b>Teori populer yang saya tahu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sangat banyak bukan nama mojo di Jombang? Kalau memang semua berasal dari pohon maja, kenapa jumlahnya sebanyak itu? Teori pertama, ya karena memang banyak pohon maja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wilayah Jombang dulunya mungkin adalah hamparan hutan dan banyak pohon maja. Saat orang-orang zaman dahulu membuka lahan, mereka mungkin merekam nama vegetasi yang tumbuh di daerah tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadilah beberapa nama daerah seperti Mojoagung, Mojowarno, dan sebagainya. Sama halnya juga daerah seperti Desa Jatipelem atau Desa Asemgede di Jombang yang kemungkinan dulunya dipenuhi pohon jati atau pohon asem saat pembukaan lahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teori kedua, pengaruh kerajaan majapahit. Jombang, secara geografis, memang terletak tidak jauh dari pusat ibu kota Majapahit ( Trowulan, Mojokerto).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teori ketiga, semua benar. Kemungkinan Jombang dulunya memang terdapat pohon maja. Dan, sangat terpapar budaya dengan Majapahit.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ironi hari ini<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang coba kita cari pohon maja di Jombang. Sudah pasti lebih sulit ketimbang mencari tempat dengan nama mojo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan anak-anak yang tinggal di daerah bernama mojo tadi belum tentu pernah melihat pohon maja. Padahal nama kampungnya sendiri berasal dari pohon itu. Ini bisa menjadi kritik kecil bahwa perubahan iklim dan lingkungan di sekitar kita itu nyata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya kita jadi tahu, ternyata nama daerah bukan sekadar alamat. Ia adalah arsip sejarah. Kalau pohonnya hilang, setidaknya namanya masih mengingatkan bahwa dulu Jombang pernah memiliki <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-orang-jombang-nggak-bangga-dengan-daerah-sendiri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bentang alam<\/a> yang berbeda dari hari ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, sebelum sibuk membangun kota, kita perlu sesekali membaca peta sebagai buku sejarah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Wicaksana Rismawardi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/melihat-sisi-lain-jombang-yang-nggak-diketahui-orang-banyak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Melihat Sisi Lain Jombang yang Nggak Diketahui Orang Banyak, Saya Tulis supaya Nggak Ada Lagi yang Salah Kaprah<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa banyak daerah di Jombang banyak menggunakan nama awalan &#8220;mojok&#8221;? Kamu pernah kepikiran teorinya nggak?<\/p>\n","protected":false},"author":1291,"featured_media":410962,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[34148,14216,34147,3209,34146],"class_list":["post-410907","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-buah-maja","tag-jombang","tag-kerajaan-majapahir","tag-majapahit","tag-sejarah-jombang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410907","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1291"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=410907"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410907\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":410964,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410907\/revisions\/410964"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/410962"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=410907"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=410907"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=410907"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}