{"id":410694,"date":"2026-07-21T13:30:10","date_gmt":"2026-07-21T06:30:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=410694"},"modified":"2026-07-21T13:30:10","modified_gmt":"2026-07-21T06:30:10","slug":"jangan-cintai-surabaya-secara-berlebihan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-cintai-surabaya-secara-berlebihan\/","title":{"rendered":"Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lahir dan tinggal di Surabaya, saya bisa merasakan perkembangan Surabaya dari waktu ke waktu. Kota Surabaya mengalami kemajuan yang pesat di banyak bidang, termasuk juga cara masyarakatnya menjaga kota. Surabaya dipuji karena tata kota dan kebersihannya. Terbukti lagi-lagi Surabaya meraih predikat kota dengan <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/jatim\/jatim-moncer\/d-8372944\/keren-surabaya-sabet-terbaik-pertama-pengelolaan-sampah-se-indonesia-2025\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pengelolaan sampah terbaik<\/a> se-Indonesia di tahun 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal keindahan dan kebersihan, beberapa kali saya juga mendengar apresiasi dari teman-teman luar kota yang berkunjung atau bahkan mudik ke Surabaya. Jujur saja saya merasa bangga menjadi bagian dari Kota Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun kadang-kadang, rasa bangga yang berlebihan bisa membuat seseorang kehilangan rasa peka dan pemikiran yang kritis. Dan itu yang mungkin sedang terjadi pada sebagian warga Surabaya yang terusik saat kotanya dikritik di medsos oleh sesama warga.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Cara mencintai kota<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akui saya cinta kota saya, apalagi pelayanan publiknya sudah jauh lebih baik dibandingkan 10 atau 15 tahun yang lalu. Kemajuan Surabaya bisa saya rasakan saat mengurus KTP hilang, perpanjangan SIM, dan periksa ke Puskesmas. Fasilitas ruang publik yang terawat, seperti taman dan lapangan juga bisa saya nikmati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi mencintai kota semestinya tidak berhenti pada mengakui keberhasilannya saja, tidak perlu defensif saat kota tercinta menunjukkan kekurangannya atau bahkan mengalami kemunduran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mencintai kota seharusnya sama seperti mencintai kekasih dengan tulus, yaitu memberi dukungan agar ia menjadi pribadi yang lebih baik, dan berani menegur saat kekasih hati melakukan kesalahan. Sebab, mencintai kekasih apa adanya tak akan membawa sepasang kekasih menuju kualitas hidup yang lebih baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota yang sudah tertata baik pun masih memiliki kekurangan, dan yang paling bisa merasakan kekurangan kota adalah warganya. Berpendapat dan bersuara termasuk salah satu cara mencintai Kota Surabaya. Lagipula masa iya warga yang mencintai kotanya tidak ingin mengupayakan tempat tinggal yang lebih baik dan melihat kotanya terus bertumbuh.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kritik warga dianggap menjelekkan kota oleh sesama warga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara soal warga yang mencintai kotanya, di ruang digital saya menemukan dua bentuk cinta dari warga, yang pertama warga yang mengkritik Kota Surabaya, kedua warga yang menganggap para pengkritik sedang menjelek-jelekkan kotanya sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada seorang warga Surabaya menulis utas di Thread, isinya tentang kritik transportasi umum di Surabaya. Saya akui memang transportasi umum di Surabaya belum bisa menjangkau seluruh wilayah kota, apalagi menyelesaikan kemacetan kota. Postingan tersebut mendapat balasan dari warga lain dengan menulis \u201cNgelek-ngelek kuthone dewe\u201d (Menjelekkan kotanya sendiri). Ada juga yang mereply, \u201cSing nulis mesti duduk arek Suroboyo asli\u201d (Yang menulis bukan orang Surabaya asli). Ada pula netizen yang merespon, \u201cSudah disediakan nomor pengaduan, kenapa nggak disampaikan langsung\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang benar, pemkot membuka kanal pengaduan yang bisa diakses semua warga Surabaya. Tapi tak bisa dimungkiri medsos adalah alat paling mudah untuk menyampaikan kritik secara terbuka. Masalahnya bukan di tersedianya ruang aduan, tapi lebih ke soal kesediaan masyarakat Surabaya menerima kritik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kota yang memiliki Budaya Arek, yang dikenal punya solidaritas kuat, terbuka dan blak-blakan, seharusnya kritik mendapat tempat terhormat di depan publik. Arek Suroboyo mestinya bisa memandang kritik sebagai cara untuk mencintai kotanya, bukan dianggap cara menjelekkan kotanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Menjadi warga, bukan penggemar Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bangga menjadi warga Surabaya. Tetapi saya juga tetap merasa kesal saat jalanan di tempat tinggal saya banjir atau saat juru parkir tidak mau dibayar memakai QRIS. Sekedar info, Pemkot sudah menerapkan parkir QRIS sebagai solusi mengatasi Jukir liar. Sebagai warga Surabaya yang mencintai kotanya dan taat pajak, saya punya hak untuk untuk merasa kesal dan berpendapat, tapi saya juga bisa merasa bangga jika Pemkot bisa mengatasi permasalahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi warga kota tak sama dengan menjadi fandom yang cenderung punya rasa memiliki yang tinggi, tidak suka jika idolanya dikritik dan bahkan membela saat idolanya melakukan kesalahan. Fandom dan warga kota mungkin sama-sama mencintai sesuatu. Bedanya, fandom hanya membela yang ia cintai. Sedangkan warga kota punya keinginan agar apa yang ia cintai terus bertumbuh menjadi lebih baik.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jadi berpikir, apa iya Surabaya terlalu sering dipuji sampai membuat sebagian warganya jadi defensif terhadap kritik? Semoga Surabaya terus berkembang menjadi kota metropolitan yang nyaman untuk ditinggali, tanpa membuat warganya overproud.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rina Widowati<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-nggak-cocok-untuk-4-tipe-wisatawan-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Liburan ke Surabaya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya jadi berpikir, apa iya Surabaya terlalu sering dipuji sampai membuat sebagian warganya jadi defensif terhadap kritik?<\/p>\n","protected":false},"author":2605,"featured_media":382975,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[34144,34143,405],"class_list":["post-410694","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kekurangan-surabaya","tag-kritik-pada-surabaya","tag-surabaya"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410694","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2605"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=410694"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410694\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":410957,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410694\/revisions\/410957"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/382975"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=410694"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=410694"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=410694"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}