{"id":410628,"date":"2026-07-19T13:29:08","date_gmt":"2026-07-19T06:29:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=410628"},"modified":"2026-07-19T14:38:23","modified_gmt":"2026-07-19T07:38:23","slug":"jamuan-untuk-dosen-saat-sidang-akhir-itu-suka-rela-atau-paksaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jamuan-untuk-dosen-saat-sidang-akhir-itu-suka-rela-atau-paksaan\/","title":{"rendered":"Jamuan untuk dosen saat sidang akhir itu suka rela atau paksaan yang dibalut tradisi?"},"content":{"rendered":"<p><em>Jika memberi jamuan pada dosen saat tugas akhir itu dianggap wajib karena tradisi, apakah itu sebuah paksaan atau sekadar menghormati saja?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika membicarakan sidang akhir, hal pertama yang terlintas di benak saya adalah sebuah adegan dalam film <\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/1_Kakak_7_Ponakan_(film)\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">1 Kakak 7 Ponakan<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Dalam salah satu adegannya, Moko memasuki ruang sidang dengan sepatu yang sudah usang dan pakaian seadanya. Penampilannya tampak jauh berbeda dari gambaran mahasiswa yang biasanya kita bayangkan ketika menghadapi sidang akhir dan dosen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin sebagian dari kalian juga telah menonton film tersebut. Adegan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi ada sesuatu yang terasa begitu dekat dengan kehidupan mahasiswa. Adegan tersebut mengingatkan bahwa setiap orang menjalani proses pendidikan dengan kondisi yang berbeda-beda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada mahasiswa yang dapat mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Namun, ada pula yang harus menyelesaikan tugas akhir sambil bekerja, membantu keluarga, atau berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, menyelesaikan tugas akhir tidak pernah benar-benar hanya tentang penelitian, revisi dari dosen, dan sidang. Di baliknya terdapat berbagai perjuangan yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Setiap mahasiswa membawa cerita, beban, dan tantangannya masing-masing hingga akhirnya dapat duduk di ruang sidang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini berangkat dari salah satu pengalaman yang saya temui selama menjalani proses tersebut. Namun sebelum melanjutkan, saya perlu menegaskan bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan, menghakimi, atau menjelek-jelekkan pihak mana pun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang saya tuliskan di sini merupakan refleksi atas pengalaman pribadi yang saya alami dan saksikan secara langsung. Setiap orang tentu memiliki pengalaman yang berbeda, sehingga tulisan ini tidak dapat dianggap mewakili semua keadaan yang ada.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bawa sesuatu untuk dosen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, saat hendak melaksanakan seminar proposal, seorang teman mengingatkan saya untuk membawakan sesuatu bagi bapak dan ibu dosen. Saya tidak terlalu terkejut mendengarnya. Kebiasaan semacam itu bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan masyarakat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam budaya kita, memberi dan menerima telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial. Memberikan makanan kepada orang lain sering dipandang sebagai bentuk keramahan, penghormatan, maupun ungkapan terima kasih. Karena itu, saat hendak melaksanakan seminar proposal, saya pun memutuskan untuk membawakan sesuatu. Saya membeli dua kotak roti bolen dari tempat langganan ibu saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemberian tersebut saya lakukan atas inisiatif sendiri. Tidak ada pihak yang memaksa ataupun meminta. Saya membawanya karena menganggap hal itu sebagai bentuk penghormatan kepada dosen yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan menguji saya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tapi\u2026<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari kemudian, seorang teman dekat hendak melaksanakan sidang akhir. Ia bercerita bahwa dirinya mendapat informasi untuk menyiapkan sesuatu yang akan diberikan kepada dosen saat sidang. Mendengar hal itu, saya mulai berpikir. Pengalaman yang ia ceritakan terasa berbeda dengan yang saya alami. Saya membawa sesuatu karena memang memilih untuk melakukannya, bukan karena merasa harus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada hari sidangnya, saya datang dan menunggunya di sebuah laboratorium yang sedang tidak digunakan. Di sana, saya melihat beberapa mahasiswa tidak membawa apa pun saat sidang. Kemudian, mereka diminta untuk segera membeli sesuatu terlebih dahulu. Momen itulah yang membuat saya kembali mempertanyakan makna dari kebiasaan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika sebuah pemberian pada dosen dilakukan secara sukarela, ia dapat menjadi bentuk penghormatan atau ungkapan terima kasih yang tulus. Namun ketika seseorang merasa harus melakukannya agar dianggap memenuhi kebiasaan yang berlaku, maknanya menjadi tidak sesederhana itu. Pertanyaan inilah yang kemudian terus terlintas di pikiran saya:<\/span><\/p>\n<p><b>Apakah sebuah pemberian masih dapat disebut sebagai ungkapan terima kasih jika seseorang merasa tidak memiliki pilihan untuk tidak memberikannya?<\/b><\/p>\n<p>Penulis: Fikri Tri Pradana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sidang-skripsi-wajib-dirayakan-meriah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kok Bisa Kalian Jadi Mahasiswa Semester 14 tapi Nggak Punya Teman? Kok Bisa Kalian Nyinyirin Selebrasi Sidang Skripsi, Iri ya?<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika memberi jamuan pada dosen saat tugas akhir itu dianggap wajib karena tradisi, apakah itu sebuah paksaan atau sekadar menghormati saja?<\/p>\n","protected":false},"author":3303,"featured_media":410673,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[13089],"tags":[469,34123,34122,1118],"class_list":["post-410628","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-dosen","tag-hadiah-untuk-dosen","tag-sidang-akhir","tag-sidang-skripsi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410628","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3303"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=410628"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410628\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":410682,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410628\/revisions\/410682"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/410673"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=410628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=410628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=410628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}