{"id":410480,"date":"2026-07-17T11:48:05","date_gmt":"2026-07-17T04:48:05","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=410480"},"modified":"2026-07-17T11:48:05","modified_gmt":"2026-07-17T04:48:05","slug":"stop-bilang-orang-sunda-pemalas-kami-cuma-menikmati-hidup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stop-bilang-orang-sunda-pemalas-kami-cuma-menikmati-hidup\/","title":{"rendered":"Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Sunda, saya sudah terlalu sering mendengar lelucon yang bilang kalau orang Sunda itu pemalas. Versi lain yang lebih pedas, cowok Sunda itu katanya pemalas, maunya nongkrong di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/warung-kopi-tolak-tukang-parkir-demi-pelanggan-mahasiswa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">warung kopi<\/a> sambil ngelamun melihat gunung. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah begitu, rasanya tinggal menunggu ada yang menyimpulkan kalau kami bisa hidup hanya dengan menghirup udara Lembang. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya, stereotipe itu terus hidup seolah-olah menjadi fakta ilmiah. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kalau dipikir-pikir, siapa juga yang bisa bertahan hidup cuma modal santai? Harga beras naik, tagihan internet datang tiap bulan, cicilan motor tidak bisa dibayar pakai senyum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Sunda juga bekerja, mengejar target, kuliah, berbisnis, bahkan merantau ke kota-kota besar. Bedanya, kami tidak merasa perlu menjadikan kelelahan sebagai pencapaian hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah sejak kapan budaya kerja berubah menjadi perlombaan siapa yang paling sengsara. Sekarang orang merasa keren kalau pulang kantor jam sembilan malam. Bangga kalau grup WhatsApp kantor masih aktif jam sebelas malam. Tidur empat jam dianggap dedikasi. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, ada yang mengunggah foto laptop di rumah sakit sambil berkata, &#8220;Kerja dulu, nanti juga sembuh.&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir lagi, aneh juga ya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Orang Sunda paham cara menjaga keseimbangan hidup<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita hidup di zaman ketika <a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/ciri-ciri-burnout-dan-cara-mengatasinya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">burnout<\/a> dianggap konsekuensi profesionalisme. Semakin lelah seseorang, semakin dianggap sukses. Semakin tidak punya waktu untuk keluarga, semakin dipuji sebagai pekerja keras. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seolah-olah kualitas hidup harus dikorbankan demi presentasi PowerPoint yang minggu depan mungkin sudah direvisi lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di titik inilah stereotipe tentang orang Sunda menjadi menarik. Apa yang sering disebut &#8220;malas&#8221; sebenarnya lebih mirip sikap yang berusaha menjaga keseimbangan hidup.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Sunda bukan tidak mau bekerja keras. Kami paham betul bahwa hidup butuh ikhtiar. Sawah tidak akan panen sendiri, dagangan tidak akan laku kalau cuma didoakan, dan skripsi jelas tidak akan selesai kalau hanya disimpan di folder bernama &#8220;Final Fix Revisi Beneran.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, bekerja keras bukan berarti harus menghancurkan diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam keseharian masyarakat Sunda, ada kebiasaan yang sering dianggap remeh: menyempatkan bercanda atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">heureuy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di sela pekerjaan. Di kantor, di kebun, di warung, bahkan saat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gotong-royong-yang-masih-lestari-di-desa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gotong royong<\/a>, selalu ada ruang untuk tertawa. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari luar mungkin terlihat seperti banyak mengobrol. Padahal justru itulah cara menjaga semangat agar pekerjaan tetap terasa ringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang coba bandingkan dengan budaya kerja modern. Banyak orang duduk delapan jam di depan layar tanpa jeda. Lalu mereka heran sendiri mengapa pikirannya penuh, emosinya pendek, dan tubuhnya mulai protes.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali yang kurang bukan tambahan kopi, melainkan tambahan waktu untuk menarik napas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Belajar dari orang Sunda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya Sunda sebenarnya menyimpan banyak nilai tentang etos kerja yang sering luput dibicarakan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satunya tercermin dalam pepatah \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cageur, bageur, bener, pinter, tur singer\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Artinya kurang lebih,\u00a0 menjadi manusia yang sehat, baik, benar, cerdas, sekaligus terampil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, urutan pertama bukan &#8220;kaya&#8221; atau &#8220;sibuk&#8221;, melainkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cageur<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau sehat. Pesannya sederhana: apa gunanya pekerjaan hebat kalau tubuh dan pikiran sudah tumbang lebih dulu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pula semangat gotong royong yang membuat pekerjaan berat terasa lebih ringan karena dikerjakan bersama. Filosofi ini mengajarkan bahwa keberhasilan bukan sekadar soal siapa yang paling cepat, tetapi bagaimana semua orang bisa sampai ke tujuan tanpa saling meninggalkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, kalau ada orang Sunda yang memilih pulang tepat waktu setelah pekerjaannya selesai, jangan buru-buru diberi label pemalas. Bisa jadi dia hanya paham bahwa hidup tidak berhenti di meja kerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi mereka, masih ada keluarga yang menunggu di rumah dan teman yang mengajak ngopi. Masih ada pula waktu menikmati hujan sore sambil makan gorengan hangat tanpa dihantui notifikasi rapat dadakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, dunia sekarang justru mulai mengampanyekan konsep yang selama ini dianggap &#8220;kemalasan&#8221; ini. Istilahnya berubah menjadi <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terima-kenyataan-bahwa-work-life-balance-memang-bukan-untuk-semua-pekerja\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">work-life balance<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mental well-being<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sampai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">quiet quitting<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seminar tentang kesehatan mental bermunculan di mana-mana. Perusahaan mulai menyediakan hari kesehatan mental bagi karyawannya. Padahal, kalau dipikir-pikir, banyak orang Sunda sudah mempraktikkan ritme hidup seperti itu sejak lama tanpa perlu memberi nama keren dalam bahasa Inggris.<\/span><\/p>\n<h2><b>Melihat kembali cara melihat kesibukan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti semua kebiasaan santai harus dibenarkan. Bermalas-malasan tanpa tanggung jawab tentu berbeda dengan bekerja secara sehat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Sunda juga mengenal pentingnya disiplin, tanggung jawab, dan kesungguhan. Santai bukan alasan untuk mengabaikan kewajiban. Justru karena pekerjaan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, waktu istirahat bisa dinikmati tanpa rasa bersalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin yang perlu diubah bukan cara hidup orang Sunda, melainkan cara kita memandang kesibukan. Sebab, sibuk bukan selalu berarti produktif. Lembur bukan otomatis berarti berkinerja tinggi. Dan, wajah yang terlihat lelah juga bukan medali kehormatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali sudah waktunya kita berhenti mengukur etos kerja dari seberapa sering seseorang mengeluh capek. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa saja orang yang pulang tepat waktu justru menyelesaikan pekerjaannya lebih efektif daripada mereka yang setiap malam masih berkutat dengan laptop. Bisa saja orang yang sempat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">heureuy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lima belas menit memiliki pikiran yang lebih segar saat mengambil keputusan penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau masih ada yang bilang orang Sunda itu pemalas, mungkin mereka hanya belum memahami bahwa menikmati hidup bukan musuh dari kerja keras. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar target tanpa garis akhir, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/lawan-sakit-mental-pakai-patronous\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menjaga kesehatan mental<\/a>, tertawa bersama, dan memberi ruang untuk diri sendiri justru menjadi bentuk kedewasaan yang semakin langka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Irpan Maulana Arip<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-sunda-yang-murah-senyum-ternyata-punya-sisi-lain\/\"><b><i>Sisi Lain dari Orang Sunda yang Murah Senyum.\u00a0<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Orang Sunda lekat dengan stereotipe warga yang malas. Padahal, orang-orang ini hanya menikmati hidup dengan sepenuhnya agar tidak burnout. <\/p>\n","protected":false},"author":3301,"featured_media":410500,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[3787,2710,5640,3207,6047,1152],"class_list":["post-410480","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-burnout","tag-dunia-kerja","tag-jawa-barat","tag-kerja","tag-orang-sunda","tag-sunda"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410480","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3301"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=410480"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410480\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":410502,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410480\/revisions\/410502"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/410500"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=410480"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=410480"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=410480"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}