{"id":410150,"date":"2026-07-15T11:04:34","date_gmt":"2026-07-15T04:04:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=410150"},"modified":"2026-07-15T11:04:34","modified_gmt":"2026-07-15T04:04:34","slug":"ironi-puncak-pulek-cilacap-ramai-dikunjungi-karena-viral-padahal-area-privat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ironi-puncak-pulek-cilacap-ramai-dikunjungi-karena-viral-padahal-area-privat\/","title":{"rendered":"Ironi Puncak Pulek Cilacap: ramai dikunjungi karena viral, padahal area privat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga Kabupaten Cilacap dan sekitarnya sedang dihebohkan oleh satu tempat dengan panorama yang indah, yakni Puncak Pulek. Secara spesifik, Puncak Pulek berada di area Perbukitan Pulek, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Karangreja,_Cipari,_Cilacap\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Desa Karangreja<\/a>, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puncak ini cukup tinggi dan memiliki area terbuka yang cukup luas. Karena itu, Puncak Pulek menyajikan pemandangan alam yang memukau dengan sangat jelas: Gunung Slamet, hamparan perbukitan, matahari terbit, dan matahari terbenam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itulah yang kemudian membuat Puncak Pulek menjadi viral dan jadi destinasi utama bagi warga Kabupaten Cilacap dan sekitarnya. Pengunjung umumnya terbagi ke dalam dua kategori: 1) pengunjung yang datang pada pagi buta untuk melihat matahari terbit, dan 2) pengunjung yang datang pada sore hari untuk melihat matahari terbenam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, ada ironi yang sangat melekat dengan objek yang ramai dibicarakan sejak beberapa minggu terakhir ini. Area Perbukitan Pulek bukan area publik, melainkan area privat yang tanahnya dimiliki oleh sebuah perusahaan agribisnis swasta. Hal ini tercantum jelas di papan reklame yang dipasang oleh pihak perusahaan di dekat Puncak Pulek Cilacap.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Puncak Pulek bukan tempat umum!<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Papan reklame tersebut dengan jelas memperingatkan bahwa area Perbukitan Pulek bukanlah area wisata umum. Selain itu, papan tersebut juga memuat beberapa larangan yang berorientasi pada keselamatan tanaman dan lahan perkebunan. Meskipun demikian, para pengunjung seakan-akan tidak menganggap keberadaan papan peringatan tersebut. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung yang terus bertambah dari hari ke hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh warga maupun dinas setempat. Para warga memanfaatkan keadaan dengan berjualan di sekitar akses atau jalan masuk ke perbukitan. Para warga juga mengenakan biaya masuk sebesar dua ribu rupiah per orang. Di sisi lain, dinas setempat pun ikut unjuk muka dengan mengadakan bazar UMKM.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri sempat mengunjungi Puncak Pulek Cilacap pada sore hari untuk mencari tahu bagaimana keadaan sesungguhnya dari tempat yang jadi perbincangan hangat itu\u2013saking seringnya dibicarakan oleh orang, saya sampai muak tiap mendengar kata \u201cpulek\u201d. Ternyata, tempat tersebut sesuai dengan ekspektasi saya: dijadikan tempat untuk praktik pungutan liar (pungli), banyak sampah berserakan, dan banyak pengunjung yang menginjak lahan perkebunan. Adapun praktik pungli dalam hal ini berkaitan dengan tarif bagi pengunjung yang dipatok oleh warga sekitar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya harus mengatakan bahwa mayoritas pengunjung sama sekali tidak memedulikan papan peringatan yang ada. Banyak dari pengunjung yang sengaja mengambil jalan pintas melewati lahan perkebunan yang notabene digunakan oleh para petani setempat. Bahkan, kondisi lingkungan yang penuh sampah juga mengindikasikan bahwa banyak pengunjung yang dengan sengaja membuang sampah sembarangan.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Kenapa bisa terjadi?<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini dapat terjadi karena warga dan dinas setempat, secara tidak langsung, ikut mendukung dan mempromosikan Puncak Pulek Cilacap. Kondisi ini pun diperparah dengan masifnya penyebaran informasi tentang Puncak Pulek sehingga area tersebut menjadi viral dan dikunjungi oleh banyak orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga dan dinas terkait seharusnya lebih memperhatikan status dari area Puncak Pulek yang notabene merupakan area privat perusahaan. Jika area tersebut memang diperbolehkan untuk dijadikan tempat wisata umum, warga dan dinas terkait semestinya mengelola tempat tersebut secara sungguh-sungguh dengan memperhatikan berbagai aspek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, realitas yang ada justru berbanding terbalik dengan yang seharusnya terjadi. Warga dan dinas setempat, menurut saya, hanya memanfaatkan \u201ckeviralan\u201d dari Puncak Pulek Cilacap tanpa memperhatikan dan memedulikan aspek penting lainnya. Akhirnya, area tersebut pun dipenuhi sampah dan banyak tanaman serta lahan perkebunan yang rusak akibat diinjak-injak oleh pengunjung.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Crisfanny Ariyadhana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kabupaten-cilacap-membingungkan-tapi-terbaik-untuk-ditinggali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kabupaten Cilacap: Kabupaten yang Membingungkan, tapi Tetap Jadi Kabupaten Terbaik untuk Ditinggali<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puncak Pulek Cilacap memang indah, wajar kalau viral. Tapi perlu diingat, itu bukan tempat umum, ini tempat privat!<\/p>\n","protected":false},"author":3300,"featured_media":410247,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[2855,34059,34060],"class_list":["post-410150","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-cilacap","tag-puncak-pulek-cilacap","tag-tempat-viral-cilacap"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410150","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3300"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=410150"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410150\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":410248,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/410150\/revisions\/410248"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/410247"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=410150"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=410150"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=410150"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}