{"id":409735,"date":"2026-07-11T12:48:55","date_gmt":"2026-07-11T05:48:55","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=409735"},"modified":"2026-07-11T12:48:55","modified_gmt":"2026-07-11T05:48:55","slug":"trotoar-jalan-veteran-malang-yang-tak-suantai-sayang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/trotoar-jalan-veteran-malang-yang-tak-suantai-sayang\/","title":{"rendered":"Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Trotoar adalah fasilitas publik yang diperuntukan bagi pejalan kaki. Tidak ada yang lebih berhak menggunakan trotoar selain pejalan kaki itu sendiri. Tapi kasusnya berbeda jika melihat kondisi trotoar di Jalan Veteran Malang. Alih-alih menjadi sarana yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki, kondisi trotoar di kawasan ini malah menyimpang segudang persoalan, yang membuat siapapun harus ekstra hati-hati saat melintas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Retaknya ubin trotoar hingga tidak ratanya permukaan trotoar, menjadi pemandangan biasa bagi orang yang berjalan di atasnya. Berjalan di atas trotoar Veteran Malang memang harus terus membuka mata, layaknya kita sedang menyusuri jalur dengan medan naik turun tak karuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi yang dirasakan akan jauh lebih parah bagi para penyandang disabilitas. Mulai dari guiding block bagi tunanetra yang tak jelas keberadaannya, hingga trotoar yang seharusnya landai untuk memudahkan pemakai kursi roda malah memiliki elevasi yang tak karuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah ini semakin lengkap dengan penuh sesaknya trotoar dengan pedagang kaki lima, berjajar rapi layaknya foodcourt di sepanjang Jalan Veteran. Di beberapa titik, sebagian trotoar telah dijadikan tempat parkir motor, seakan-akan trotoar berubah menjadi showroom motor pinggir jalan. Keadaan ini mengakibatkan pejalan kaki yang lewat trotoar harus memilih antara berjibaku lewat tumpukan motor atau menantang maut turun ke badan jalan raya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pedagang pinggir jalan memperparah semuanya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan yang terjadi bukan hanya merugikan pejalan kaki, tapi juga mengganggu pengguna jalan raya itu sendiri. Banyaknya pedagang di pinggir jalan menciptakan kemacetan di sepanjang jalan, belum lagi orang-orang yang berhenti sembarangan buat beli kopi 8 ribuan. Situasi ini bukan hanya menciptakan ketidaknyamanan, tapi juga rawan menimbulkan resiko kecelakaan lalu lintas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejujurnya Satpol PP Kota Malang telah beberapa kali melakukan penertiban terhadap PKL di kawasan ini. Namun setiap selesai penertiban, PKL akan kembali berjualan lagi di sana. Salah satu pedagang PKL menuturkan bahwa razia Satpol PP tidak rutin dilaksanakan akhirnya mereka bisa kembali lagi berjualan di sana. Fenomena ini menunjukkan permasalahan yang terjadi bukan hanya tentang penertiban sesaat, melainkan juga tentang konsistensi pengawasan dan penyediaan solusi yang inklusif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi seperti ini terasa semakin disayangkan, melihat Jalan Veteran yang menjadi lokasi gerbang utama <a href=\"https:\/\/www.ub.ac.id\/id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Universitas Brawijaya<\/a>. Setiap tahunnya, ribuan mahasiswa baru akan datang dari berbagai daerah di Indonesia. Di tahun lalu saja, Universitas Brawijaya menerima sekitar 17 ribu mahasiswa baru yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan jumlah sebesar itu, Jalan Veteran Malang jelas akan ramai. Bayangkan saja dengan kondisi sekarang, mahasiswa dituntut untuk melewati jalur trotoar yang tak karuan untuk berangkat menuju Universitas Brawijaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu dipahami, Jalan Veteran bukanlah kawasan yang sepi pejalan kaki. Harus dipahami bahwa tidak semua mahasiswa Universitas Brawijaya itu memakai kendaraan bermotor untuk pergi berkuliah. Ditambah dengan image dari Kota Malang sendiri sebagai \u201cKota Pendidikan\u201d. Tentunya juga harus dibarengi dengan pembangunan fasilitas penunjang pendidikan yang memadai. Salah satu di antaranya adalah trotoar untuk pejalan kaki, yang harus dibangun secara inklusif dan ramah bagi siapa saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, Jika dibiarkan dan tak kunjung diperbaiki maka kondisi trotoar Veteran dikhawatirkan akan semakin parah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perbaikan trotoar Jalan Veteran Malang bisa jadi awal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbaikan trotoar Veteran bisa menjadi awal yang baik untuk memperbaiki fasilitas pejalan kaki di Kota Malang. Hal itu bisa dimulai bertahap dengan meratakan permukaan trotoar, mengganti ubin yang sudah pecah, dan pemasangan guiding block. Setelah itu, penertiban PKL dan melarang parkir motor di atas trotoar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, penertiban ini harus dilakukan secara tegas dan konsisten agar trotoar benar-benar bebas dan dikhususkan untuk pejalan kaki. Tidak sesekali, lalu lupa berhari-hari. Dengan perencanaan yang matang, maka trotoar Veteran bisa kembali lagi menjadi trotoar yang mengakomodir kebutuhan pejalan kaki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Solusi kepada PKL yang berjajar berjualan di Jalan Veteran tidak bisa hanya sebatas penertiban saja. Para pedagang perlu fasilitas dan lokasi berjualan yang layak. Jika mereka hanya diminta pergi tanpa diberikan alternatif, kemungkinan besar mereka akan kembali lagi setelah petugas pergi atau berpindah ke sisi trotar lainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, pendekatan yang berkelanjutan harus dilakukan dengan penyediaan ruang berjualan untuk mereka. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah memindahkan PKL ke kawasan pasar, berhubung Kota Malang telah cukup berhasil merebranding 2 pasar menjadi pasar kuliner yaitu Pasar Oro-oro Dowo dan Pasar Klojen.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Kita semua wajib ikut menjaga<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu tanggung jawab untuk menjaga trotoar Jalan Veteran Malang bukan hanya menjadi tugas pemerintah seorang. Masyarakat sekitar dan mahasiswa juga harus terlibat, khususnya pada saat revitalisasi trotoar itu selesai. Sudah tidak boleh lagi ada yang buang sampah sembarang, parkir motor di atas trotoar, atau jualan rice bowl di atas trotoar itu juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, ini bukan hanya pekerjaan rumah pemerintah, tapi kita juga harus siap dalam menjaga trotoar ini agar tetap layak digunakan. Trotoar yang nyaman hanya bisa terwujud dengan cara setiap pihak berkolaborasi untuk mewujudkan hal demikian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya trotoar bukan sebatas elemen estetika dan pemanis tata kota yang membuat kawasan terlihat modern. Tapi juga menjadi kebutuhan dasar, khususnya di kawasan yang memiliki jumlah pejalan kaki yang cukup tinggi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Surya Dharma Yudhistira<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-jalan-di-malang-yang-lebih-pantas-disebut-rintangan-benteng-takeshi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Jalan di Malang yang Lebih Pantas Disebut Rintangan Benteng Takeshi<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak ada yang lebih berhak menggunakan trotoar selain pejalan kaki itu sendiri. Tapi kasusnya berbeda di Jalan Veteran Malang.<\/p>\n","protected":false},"author":3298,"featured_media":409785,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[34019,985,34018,4027],"class_list":["post-409735","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalan-veteran-malang","tag-malang","tag-trotoar-di-malang","tag-universitas-brawijaya"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/409735","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3298"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=409735"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/409735\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":409786,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/409735\/revisions\/409786"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/409785"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=409735"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=409735"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=409735"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}