{"id":409641,"date":"2026-07-11T10:33:36","date_gmt":"2026-07-11T03:33:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=409641"},"modified":"2026-07-10T15:39:48","modified_gmt":"2026-07-10T08:39:48","slug":"8-keresahan-guru-agama-karena-dianaktirikan-kemendikdasmen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/8-keresahan-guru-agama-karena-dianaktirikan-kemendikdasmen\/","title":{"rendered":"8 keresahan guru agama, pekerjaan tidak maksimal karena dianaktirikan Kemendikdasmen\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para guru agama memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Tugasnya bukan sekadar mengajar materi pelajaran. Nilai karakter, etika, toleransi, dan penguatan moral juga menjadi bagian dari tanggung jawab sehari-hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, profesi ini seolah dianaktirikan sehingga muncul banyak persoalan. Berbagai kebijakan pendidikan\u00a0 lebih banyak berfokus pada mata pelajaran umum dibandingkan kebutuhan guru agama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi tersebut bukan sekadar muncul dari perasaan semata. Banyak tantangan yang memang dirasakan di lapangan. Mulai dari urusan administrasi, pengembangan karier, sampai akses terhadap berbagai program pemerintah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Situasi seperti ini akhirnya memunculkan keresahan yang terus dibicarakan di lingkungan sekolah. Berikut 8 keresahan yang paling sering muncul di kalangan guru agama.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kebijakan yang lebih memperhatikan guru mata pelajaran umum daripada guru agama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak kebijakan pendidikan lebih dahulu menyasar mata pelajaran umum. Guru agama sering harus menunggu penyesuaian berikutnya. Informasi teknis juga kadang datang lebih lambat. Akibatnya, proses persiapan menjadi kurang maksimal. Kondisi seperti ini cukup sering dikeluhkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Posisi guru agama terasa belum benar-benar sejajar. Perubahan kurikulum juga sering lebih dulu membahas mata pelajaran lain. Ruang diskusi khusus guru agama masih terbatas. Aspirasi dari lapangan belum selalu menjadi prioritas. Perasaan dianaktirikan akhirnya semakin kuat.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kesempatan guru agama mengikuti program pengembangan belum merata<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelatihan menjadi kebutuhan penting bagi semua guru. Kompetensi harus terus mengikuti perkembangan zaman. Namun, kesempatan mengikuti pelatihan belum merata. Guru agama masih sering menemukan kuota yang terbatas. Akses peningkatan kapasitas akhirnya terasa kurang adil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak pelatihan nasional menyasar guru mata pelajaran tertentu. Guru agama terkadang baru mendapat kesempatan pada tahap berikutnya. Materi pelatihan khusus pun jumlahnya belum banyak. Pilihan pengembangan profesional menjadi lebih sempit. Padahal, tuntutan pembelajaran terus berkembang setiap tahun.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Beban administrasi tinggi, tapi dukungan belum maksimal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Administrasi masih menjadi pekerjaan yang cukup menyita waktu. Berbagai laporan harus diselesaikan secara rutin. Pengisian data juga memerlukan ketelitian tinggi. Waktu untuk menyiapkan pembelajaran sering ikut berkurang. Situasi ini cukup melelahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, dukungan teknis belum selalu memadai. Pendampingan administrasi masih berbeda di setiap daerah. Sistem yang terus berubah juga membutuhkan penyesuaian baru. Guru agama akhirnya harus belajar secara mandiri. Energi banyak habis untuk urusan di luar kelas.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Jalur pengembangan karier guru agama sering terasa lebih lambat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengembangan karier menjadi harapan setiap guru. Kesempatan berkembang tentu ingin dirasakan secara adil. Namun, masih muncul anggapan bahwa guru agama memiliki ruang yang lebih terbatas. Proses penyesuaian berbagai kebijakan juga sering membutuhkan waktu lebih lama. Kondisi seperti ini menimbulkan rasa kecewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harapan memperoleh kesempatan yang sama sebenarnya sangat sederhana. Semua guru ingin memperoleh akses yang setara. Pengakuan terhadap peran guru agama juga perlu diperkuat. Kesempatan berkontribusi harus dibuka lebih luas. Pendidikan akan lebih maju jika semua profesi mendapat perhatian yang sama.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Jam pelajaran relatif terbatas, tapi target pembelajaran tetap besar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jam pelajaran agama di banyak sekolah masih tergolong terbatas. Materi yang harus disampaikan tetap cukup banyak. Pendidikan karakter juga membutuhkan proses yang panjang. Pembiasaan sikap tidak bisa selesai dalam satu pertemuan. Kondisi ini sering menjadi tantangan tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harapan sekolah terhadap pendidikan karakter pun terus meningkat. Tanggung jawab guru agama juga semakin luas. Waktu pembelajaran justru tidak selalu bertambah. Proses pendalaman materi akhirnya harus dibuat sangat padat. Efektivitas pembelajaran pun menjadi tantangan setiap semester.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 Koordinasi antar instansi sering membuat proses jadi lebih rumit<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Guru agama sering berhubungan dengan lebih dari satu instansi. Urusan administrasi kadang memiliki mekanisme yang berbeda. Alur pelayanan juga tidak selalu sama. Proses penyesuaian membutuhkan waktu tambahan. Situasi ini cukup membingungkan di lapangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan aturan kadang memunculkan kebingungan baru. Informasi juga tidak selalu diterima secara bersamaan. Penyesuaian administrasi akhirnya harus dilakukan berulang kali. Waktu kerja menjadi semakin banyak tersita. Fokus mengajar pun ikut terdampak.<\/span><\/p>\n<h2><b>#7 Sarana dan media pembelajaran masih belum selalu menjadi prioritas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Media pembelajaran terus berkembang mengikuti teknologi. Guru agama juga membutuhkan fasilitas yang memadai. Ketersediaan bahan ajar digital belum selalu lengkap. Dukungan perangkat pembelajaran masih berbeda di setiap sekolah. Kondisi ini membuat proses belajar kurang maksimal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inovasi pembelajaran membutuhkan dukungan nyata. Pengembangan media kreatif juga memerlukan fasilitas yang cukup. Tidak semua sekolah mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Guru agama akhirnya lebih sering mengandalkan kreativitas sendiri. Semangat mengajar tetap berjalan di tengah berbagai keterbatasan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#8 Prestasi dan kontribusi guru agama masih kurang mendapat sorotan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah berbagai keterbatasan, banyak guru agama berhasil menghadirkan inovasi pembelajaran. Berbagai kegiatan pembentukan karakter juga berjalan baik. Kontribusi seperti ini sering berlangsung setiap hari. Namun, perhatian publik masih belum begitu besar. Apresiasi juga belum selalu sebanding dengan peran yang dijalankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberhasilan pendidikan karakter sebenarnya sulit diukur dengan angka. Dampak pembelajaran baru terlihat dalam jangka panjang. Peran guru agama akhirnya sering luput dari perhatian. Padahal fondasi moral peserta didik dibangun melalui proses yang konsisten. Pengakuan yang lebih setara tentu menjadi harapan banyak guru agama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 8 keresahan para guru agama karena dianaktirikan Kemendikdasmen. Kami merupakan bagian penting dari ekosistem pendidikan nasional. Peran dalam membentuk karakter tidak bisa dipisahkan dari proses belajar di sekolah. Karena itu, perhatian terhadap profesi ini seharusnya berjalan seiring dengan perhatian kepada guru mata pelajaran lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesetaraan dalam kebijakan akan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat. Dampaknya juga akan dirasakan langsung oleh peserta didik. Keresahan yang muncul selama ini bukan sekadar soal pengakuan. Persoalan tersebut berkaitan dengan kualitas pendidikan secara keseluruhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesempatan berkembang, akses program, serta dukungan kebijakan yang setara akan memperkuat proses pembelajaran. Pekerjaan ini membutuhkan ruang yang sama untuk bertumbuh dan berkontribusi. Pendidikan yang berkualitas hanya bisa terwujud jika seluruh guru memperoleh perhatian tanpa perbedaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/guru-sejarah-bikin-orang-orang-benci-pelajaran-sejarah\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dosa Besar Guru Sejarah: Membuat Orang-orang Benci Pelajaran Sejarah.<\/span><\/i><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kemendikdasmen menganaktirikan guru agama sehingga mereka tidak bisa melakukan pekerjaan secara maksimal dan banyak keresahan lain. <\/p>\n","protected":false},"author":2851,"featured_media":409714,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[12911],"tags":[78,2094,10728,34010],"class_list":["post-409641","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-loker","tag-agama","tag-guru","tag-guru-agama","tag-kemendikdasmen"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/409641","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2851"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=409641"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/409641\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":409712,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/409641\/revisions\/409712"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/409714"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=409641"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=409641"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=409641"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}