{"id":409142,"date":"2026-07-08T14:45:29","date_gmt":"2026-07-08T07:45:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=409142"},"modified":"2026-07-08T14:45:29","modified_gmt":"2026-07-08T07:45:29","slug":"jakarta-timur-layak-dimekarkan-jadi-jaktim-utara-dan-jaktim-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jakarta-timur-layak-dimekarkan-jadi-jaktim-utara-dan-jaktim-selatan\/","title":{"rendered":"Jakarta Timur Layak Dimekarkan jadi Jaktim Utara dan Jaktim Selatan, Terlalu Banyak Perbedaan!"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana kalau Jakarta Timur dibagi jadi dua?<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembali ke Kampus UI Depok sebagai alumni artinya kembali bersinggungan dengan keanehan Kota Depok. Beberapa waktu lalu, saya ketemuan dengan teman-teman lama di sana. Berkat pertemuan itu, saya jadi tahu gebrakan terbaru dari warga Depok. Gebrakannya adalah pembagian Kecamatan Sawangan menjadi dua, yakni Sawangan Kubro dan Sawangan Sugro.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi pembaca yang ngerti Bahasa Arab mungkin sudah paham bahwa kubro artinya \u201cbesar\u201d sementara sugro artinya \u201ckecil\u201d. Setelah teman saya menjelaskan lebih lanjut, ternyata pembeda antara besar dengan kecil itu hanyalah level kemacetan yang terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Sawangan Kubro, sering banget terjadi kemacetan parah. Sementara Sawangan Sugro macet juga, tapi macet <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aja<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Nggak sampe parah. Ya, begitulah Depok. Sedikit perbedaan saja sampe membuat dualisme wilayah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun perlu diakui, dualisme yang digagas Depok ini bikin saya memikirkan tempat tinggal saya sendiri, yaitu Jakarta Timur. Di sini lebih banyak lagi perbedaan yang bikin Jaktim layak pula dibagi dua menjadi Jaktim Utara dan Jaktim Selatan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jika Jakarta Timur dibelah dua, Bandara Halim jadi tengahnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama-tama, saya perlu berikan gambaran geografis dari Jakarta Timur. Wilayah ini merupakan kota administrasi paling luas di DKI Jakarta. Seberapa luas? Yah, kira-kira 4 kali lipatnya Jakarta Pusat, tempat Monas berada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jaktim bentuknya memanjang dari utara ke selatan. Di utara, batasnya adalah Jakarta Utara. Sementara di selatan, Jaktim langsung bersinggungan dengan Depok, Jawa Barat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir persis di tengah-tengah ujung utara dengan selatannya Jaktim, ada Bandara Halim Perdanakusuma. Entah disengaja atau tidak, pertengahan geografis ini pun juga menjadi buffer zone dua wilayah dengan subkultur yang kontras.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ambil contoh Kecamatan Matraman, Jatinegara, dan Cakung yang berada di sebelah utara Bandara Halim. Bandingkan dengan wilayah di selatan bandara seperti Cipayung, Ciracas, dan Pasar Rebo. Bagi yang pernah mengunjungi masing-masing satu kecamatan saja dari kedua kutub Jaktim, pasti bisa merasakan perbedaannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, meski yang terkenal sebagai Timur Tengah-nya Jakarta adalah Condet, tapi Halim lah timur bagian tengah yang sejati!<\/span><\/p>\n<h2><b>Kultur Jakarta Timur bagian utara itu sibuk dan khas kawasan industri banget\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sobat saya yang ber-KTP Jaktim utara pernah nyeletuk, \u201cIntisari dari Jaktim itu apa sih? Siapa yang paling berhak mewakili timur?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebingungan dia valid, persona orang Jakarta Timur memang terlalu beragam. Dibandingkan dengan wilayah Jakarta lainnya, menentukan stereotip dari Jaktim itu yang paling sulit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAda timur yang terlalu pusat, ada yang terlalu Bekasi, ada pula yang terlalu Bogor,\u201d lanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud dari terlalu pusat adalah wilayah Jaktim yang berbatasan langsung dengan Jakarta Pusat. Wilayah ini terkesan sibuk, penting, dan bersejarah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti Jatinegara, yang diabadikan Ismail Marzuki dalam lagu legendarisnya Juwita Malam. Daerah sibuk ini dipenuhi orang berlalu-lalang di stasiun kereta antarkotanya. Juga sudah terkenal sejak jaman kolonial sebagai Meester Cornelis. Kurang bersejarah apalagi itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jaktim yang terlalu Bekasi, maksudnya menyasar ke daerah Cakung dan Duren Sawit. Isinya campuran kawasan industri dan pemukiman. Suasananya padat, gersang, dan agak semrawut. Jalan Raya<\/span><a href=\"https:\/\/www.google.com\/amp\/s\/mojok.co\/terminal\/jalur-kalimalang-arah-jakarta-adalah-jalan-paling-absurd-di-jakarta\/amp\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Kalimalang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang aneh itu letaknya di sini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang yang hanya pernah ke Jaktim versi ini, pasti cuma punya ulasan buruk. Yaaa, mirip-mirip sama pengalaman yang didapat kalau ke Planet Bekasi lah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kultur bagian selatan isinya santai dan agak slow living<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang kita geser ke selatan, ke Jaktim yang terlalu Bogor. Sebetulnya, seperti yang saya sebut di atas, batas selatan Jaktim adalah Depok. Jadi Bogor yang dimaksud di sini bukan merujuk pada nama geografis, melainkan pada suasana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rindang, tempat piknik, dan kalau hujan barang sedikit saja rasanya sejuk seperti di Bogor. Itulah Jaktim bagian selatan. Kalau lagi di sini, bawaannya pengen santai mulu. Kalaupun beraktivitas, paling banter ngajak keponakan ke Taman Mini di Cipayung, atau jalan pagi di Bumi Perkemahan Cibubur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wilayah ini pun sering \u201cdiledek\u201d sebagai kampung. Cukup beralasan sih, sebab di sini masih banyak hutan kota serta ladang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan lain Jaktim selatan dicap kampung adalah karena masyarakatnya masih guyub. Ada seorang ilustrator yang menggambarkan tiap wilayah di Jakarta sebagai bapak-bapak usia 30 tahunan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/DZ5ar8pjwE7\/?utm_source=ig_web_button_share_sheet\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penggambarannya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> atas Jakarta Timur tuh mengacu secara presisi ke warga yang bermukim di wilayah Jaktim selatan ini. Bapak-bapak ramah yang selalu hadir kalau ada hajatan tetangga.<\/span><\/p>\n<h2><b>Warga bagian utara nggak familiar sama selatan, begitu pula sebaliknya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tanya orang tinggal di mana dan ia menjawab Jakarta Timur, wajib hukumnya untuk lanjut nanya sampai kamu mendapat jawaban spesifik. Soalnya, kelanjutan topik obrolanmu ditentukan dari jawaban yang spesifik itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Jaktim bagian selatan seperti saya nggak bakal bisa diajak basa-basi tentang kuliner BKT (Banjir Kanal Timur). Sementara warga Jaktim bagian utara pun susah nyambung kalau diajak ngobrol tentang batas wilayah Cibubur yang nggak jelas itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari pengalaman pribadi, saya memang hampir tidak pernah melintas buffer zone Bandara Halim itu ke utara. Kalaupun melintas, biasanya hanya untuk membereskan urusan di Samsat Jaktim. Atau sesekali mengembalikan buku ke Perpus Jakarta Timur di Jatinegara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Praktisnya, saya cuma tahu tempat-tempat di Jaktim utara yang berkaitan sama administrasi. Saya nggak tahu banyak tentang tempat nongkrongnya apalagi jalan-jalan tikus di sana. Menyetir di Jalan Raya Kalimalang pun saya sama bingungnya seperti orang yang dari luar Jaktim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, teman-teman saya yang asal Jaktim utara sebagian besar buta sama wilayah tempat saya tinggal. Salah seorang dari mereka bahkan pernah bilang, \u201cGua kira tempat lu tinggal ini cuma kebon-kebon, nggak ada pemukimannya,\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Jaktim mesti dibelah dua, karena toh utara dengan selatannya kurang terkoneksi\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baik warga Jaktim utara maupun selatan saling terasing dari satu sama lain itu bukan tanpa alasan. Masalahnya, akses antara dua kutub ini memang kurang terkoneksi. Makanya usul saya, sekalian aja diresmikan jadi dua wilayah yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya yang tinggal di Cipayung, Jaktim selatan, jauh lebih mudah untuk pergi ke pusat bisnis di Senayan, Jakarta Selatan. Daripada saya pergi ke Duren Sawit di Jaktim utara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk ke Senayan, saya hanya perlu duduk manis di Transjakarta tanpa transit. Ketiduran di jalan pun nggak masalah. Namun untuk ke Duren Sawit, udah lah, mending langsung ojek aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak heran sih. Jaringan transportasi umum di Jakarta memang lebih fokus pada komuter yang asal ataupun tujuannya adalah pusat bisnis seperti di Sudirman-Thamrin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, di usianya yang nyaris 500 tahun ini, udah waktunya nggak sih Jakarta mikirin mobilisasi antar pinggiran kota? Kalau menunda terus, ya Jaktim akan selamanya \u201cterpecah\u201d jadi dua.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Karina Londy<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/andai-stasiun-cikarang-nggak-pernah-ada-ini-yang-akan-terjadi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Seandainya Stasiun Cikarang Nggak Pernah Ada, Ini yang Akan Terjadi<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta Timur sepertinya sudah saatnya dimekarkan, dan dibagi jadi Jaktim Utara dan Selatan. Soalnya, dua daerah ini beda banget!<\/p>\n","protected":false},"author":2852,"featured_media":369703,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[33984,28265,1715,4317,14802,33983,33982],"class_list":["post-409142","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandara-halim","tag-cipayung","tag-depok","tag-jakarta-pusat","tag-jakarta-timur","tag-jaktim-selatan","tag-jaktim-utara"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/409142","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2852"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=409142"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/409142\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":409295,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/409142\/revisions\/409295"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/369703"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=409142"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=409142"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=409142"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}