{"id":408682,"date":"2026-07-05T12:35:13","date_gmt":"2026-07-05T05:35:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=408682"},"modified":"2026-07-05T12:35:13","modified_gmt":"2026-07-05T05:35:13","slug":"jangan-keluyuran-ke-bangkalan-madura","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-keluyuran-ke-bangkalan-madura\/","title":{"rendered":"Jangan Keluyuran ke Bangkalan Madura, Niat Menenangkan Pikiran Malah Dibuat Menyesal karena Perjalanan yang Melelahkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi penduduk awam di Jawa Timur, ada wilayah yang keberadaannya sering membuat mereka penasaran dengan kondisinya, yakni Madura. Penduduk awam yang saya maksud misalnya para mahasiswa yang baru pindah ke provinsi ini, terutama di kampus-kampus Surabaya. Terkadang, mereka punya rasa ingin tahu yang tinggi untuk melihat asli Pulau Garam. Akhirnya, berkunjunglah mereka ke kabupaten ujung barat pulau ini, yakni Bangkalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun setelah mengunjunginya, tak jarang respon mereka malah sebaliknya. \u201cOh, cuma kaya gini\u201d, demikian tanggapan yang saya dengar dari teman-teman saya. Tapi memang sih, jangankan untuk menetap sehari di Bangkalan Madura, saat perjalanan saja mereka kadang sudah dibuat kapok. Yah, tak perlu jauh-jauh ngomongin pendatang, saya yang warga Bangkalan Madura sendiri sangat lelah setiap hari menghadapi jalanan kabupaten ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalan raya di Bangkalan selalu sibuk sama perbaikan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan mengira karena Bangkalan Madura penduduknya sepi maka perjalanan kita akan berjalan mulus tanpa gangguan. Tidak sama sekali, Gaes. Jalan raya-jalan raya utama di kabupaten ini sering kali dibuat macet oleh proyek-proyek perbaikan. Bahkan di jalan nasionalnya pun, perbaikan jalan tak pernah benar-benar rampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bulan ini di ujung timur diperbaiki, bulan depan bisa di ujung barat. Bulan depannya lagi, bisa kembali ke ujung timur lagi. Entah, baik itu pelebaran ataupun perbaikan jalan berlubang yang akhirnya juga bikin jalannya bergelombang selalu saja membuat kemacetan. Misalnya di jalan akses ke Jembatan Suramadu, haduh, perbaikan jalan kerap kali bikin macet karena ruas jalannya harus dibuka tutup satu arah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa bulan lalu juga sama, saya sampai sempat jadi bahan sindiran teman saya yang dari <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Sumenep\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sumenep.<\/a> Alasannya, perbaikan jembatan di kecamatan saya, Tanah Merah, tak selesai sampai berminggu-minggu. Pengendara sampai dibuat macet berjam-jam. FYI, sekarang pun juga sedang ada perbaikan jembatan di pertigaan Tangkel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah, saya harap saya tak lagi jadi bahan sindiran teman saya yang dari kabupaten lain di Madura. Padahal kan kalau di Jepang, proyek kaya gitu dalam hitungan hari bisa saja selesai.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Banyak pasar tradisional jadi pasar tumpah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, berhasil keluar dari kemacetan proyek perbaikan jalan, jangan mengira gangguan perjalanan kalian sudah selesai. Di sudut-sudut jalan raya yang lain, banyak pasar tradisional yang tak kalah menguji kesabaran. Ini alasan lain yang kadang juga bikin orang-orang tak mau datang lagi ke Bangkalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendapat saya, manajemen pasar tradisional di Bangkalan Madura itu tidak ada yang berhasil. Sebab, kehidupan manusia sudah semaju ini, pasar tradisional di kabupaten ini masih banyak yang berubah jadi pasar tumpah. Bukan tumpah biasa ya, tapi benar-benar sangat tumpah. Orang berjualan melebihi marka jalan, akhirnya muncul kemacetan. Ketika macet, orang yang menyeberang pun jadi sembarangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi seperti ini sering kali terjadi di kecamatan Tanah Merah. Kalau nggak di Pasar Potemun, ya di Pasar Palawija. Sudah dibangun pasar baru pun, tidak ada perubahan. Malah, tumpahnya jadi makin menyebar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Haduh, niat ingin keluyuran dengan tenang, eh dispoiler sama situasi pasar yang berantakan. Nggak estetik!<\/span><\/p>\n<h2><b>Transportasi umum kebut-kebutan bikin jalanan tak aman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yaps, saya heran dengan kondisi Bangkalan ini. Tidak ada yang bisa benar-benar membuat para pengendara di jalanan tenang. Katakanlah kita terhindar dari kemacetan. Eh, kondisi jalan yang lancar malah berubah jadi sirkuit balapan. Yang balapan pun bukan kendaraan bermotor, tapi kendaraan roda empat, terutama semua jenis transportasi umum (transum).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebetulnya tidak cukup heran jika yang balapan ini adalah transum yang dikelola pribadi atau swasta. Sebab, ini berhubungan dengan perut mereka. Jika tak banyak mendapatkan penumpang, penghasilan mereka bisa berkurang, makanya mereka ngejar setoran. Lah tapi, Trans Jatim yang dikelola pemerintah pun juga demikian. Suka sekali mereka kebut-kebutan. Ngejar apa sih, Pak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi kalau sudah memasuki area Burneh dan pusat kabupaten, haduh makin ngeri, Gaes. Transum swasta kadang semakin menegangkan karena harus bersanding dengan Trans Jatim. Pokoknya, berkendara di kabupaten ini berasa masuk scene film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Fast &amp; Furious<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, demikianlah penjelasan dari saya bagaimana sebetulnya kondisi jalanan di Bangkalan Madura. Saya tidak bermaksud menurunkan reputasi kabupaten ini ya, tapi apa faedahnya membiarkan para pendatang memasang ekspektasi tinggi pada Bangkalan Madura. Bukannya kembali lagi, mereka paling kapok untuk datang kesini. Jadi, lebih baik mari kita perbaiki saja kabupaten tercinta kita ini. Sekian!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Abdur Rohman<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/urban\/pns-pekerjaan-paling-menjanjikan-tapi-ada-yang-tidak-mau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bor-boro ngomongin pendatang, saya yang warga Bangkalan Madura sendiri sangat lelah setiap hari menghadapi jalanan kabupaten ini.<\/p>\n","protected":false},"author":2507,"featured_media":334249,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":"","_members_access_role":[],"_members_access_error":""},"categories":[1],"tags":[22434,18781,5020,33939,16880],"class_list":["post-408682","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bangkalan-madura","tag-kabupaten-bangkalan","tag-madura","tag-pasar-di-bangkalan","tag-sumenep"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/408682","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2507"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=408682"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/408682\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":408724,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/408682\/revisions\/408724"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/334249"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=408682"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=408682"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=408682"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}