{"id":408140,"date":"2026-07-01T11:40:17","date_gmt":"2026-07-01T04:40:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=408140"},"modified":"2026-07-01T11:40:43","modified_gmt":"2026-07-01T04:40:43","slug":"tugas-akhir-jurnal-sebagai-pengganti-skripsi-bukan-solusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tugas-akhir-jurnal-sebagai-pengganti-skripsi-bukan-solusi\/","title":{"rendered":"Tugas Akhir Jurnal sebagai Pengganti Skripsi Bukan Solusi kalau Budaya Riset Kampus Masih Setengah Hati"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kampus saya membuka pilihan tugas akhir berupa artikel jurnal sebagai pengganti skripsi, saya termasuk mahasiswa yang langsung tertarik. Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, saya merasa bentuk ini lebih dekat dengan dunia akademik yang nanti akan saya hadapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga berpikir, daripada menulis naskah skripsi yang setelah sidang hanya menjadi penghuni rak perpustakaan, bukankah lebih baik menghasilkan artikel yang bisa dibaca lebih banyak orang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, semakin saya menjalani prosesnya, saya menyadari satu hal bahwa jurnal bukanlah jalan pintas menuju kelulusan. Justru, saya baru benar-benar merasakan betapa menulis artikel ilmiah membutuhkan bekal yang seharusnya dibangun sejak awal kuliah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya bukan karena jurnal lebih sulit daripada skripsi. Masalahnya adalah banyak mahasiswa baru benar-benar akrab dengan budaya riset ketika sudah memasuki semester akhir. Saya merasakan itu.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/skripsi-memang-nggak-layak-jadi-satu-satunya-syarat-lulus-untuk-s1\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Kebiasaan tidak terbentuk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama kuliah, membaca jurnal memang pernah menjadi tugas. Namun, jujur saja, intensitasnya tidak cukup untuk membentuk kebiasaan. Saya lebih sering bergelut dengan buku, materi kuliah, dan tugas-tugas biasa. Ketika akhirnya memilih jalur artikel ilmiah, saya mendadak harus memahami struktur penulisan jurnal, <a href=\"https:\/\/lib.ub.ac.id\/berita\/membuat-sitasi-dan-daftar-pustaka-yang-benar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">gaya sitasi<\/a>, mencari celah penelitian, menyesuaikan dengan template jurnal, sampai memikirkan bagaimana tulisan saya layak dipublikasikan. Rasanya seperti diminta berlari maraton setelah bertahun-tahun hanya berlatih jogging.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak sedang mengatakan semua kampus seperti ini. Saya juga tidak sedang menyalahkan dosen. Banyak dosen justru sangat terbuka membantu mahasiswa. Persoalannya lebih besar daripada itu. Yang saya rasakan adalah ekosistem riset di banyak kampus belum sepenuhnya dibangun sebagai budaya, melainkan masih muncul sebagai kebutuhan menjelang tugas akhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, jurnal pengganti skripsi terdengar sebagai inovasi, tetapi mahasiswa tetap menghadapi kebingungan yang sama. Ironisnya, dosen dituntut aktif meneliti dan mempublikasikan karya ilmiah. Kampus juga berlomba meningkatkan jumlah publikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, mahasiswa sering kali belum banyak dilibatkan dalam proses itu. Tidak sedikit yang baru memahami bagaimana sebuah artikel ilmiah lahir ketika mereka sendiri harus menulisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kemampuan menulis artikel ilmiah tidak muncul dalam semalam. Mahasiswa perlu dibiasakan membaca jurnal sejak awal kuliah, bukan hanya ketika menyusun proposal penelitian. Mahasiswa juga perlu diajak berdiskusi tentang metode penelitian, dilibatkan dalam proyek riset dosen jika memungkinkan, dan diberi ruang untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Dengan begitu, menulis artikel ilmiah bukan lagi menjadi sesuatu yang asing saat semester akhir.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ganti skripsi dengan jurnal bukanlah solusi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, menurut saya, mengganti skripsi dengan jurnal bukanlah solusi jika perubahan itu hanya berhenti pada bentuk tugas akhirnya. Yang perlu berubah adalah prosesnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau selama tujuh semester mahasiswa tidak benar-benar dibiasakan hidup dalam budaya akademik yang aktif, semester kedelapan tidak akan cukup untuk mengubah semuanya. Mengganti sampul &#8220;skripsi&#8221; menjadi &#8220;artikel jurnal&#8221; tidak otomatis membuat mahasiswa lebih siap menjadi peneliti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tetap mendukung adanya pilihan jurnal sebagai tugas akhir. Bahkan, saya memilih jalur itu karena saya percaya publikasi ilmiah memiliki manfaat yang lebih luas. Artikel yang terbit bisa menjadi bagian dari percakapan akademik, dikutip peneliti lain, dan menjadi rekam jejak ilmiah bagi penulisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, pilihan itu akan benar-benar bermakna jika kampus juga membangun ekosistem yang mendukungnya. Jangan sampai mahasiswa baru benar-benar belajar meneliti ketika tenggat kelulusan sudah di depan mata. Jangan sampai budaya membaca jurnal hanya hadir karena kewajiban tugas akhir. Dan jangan sampai publikasi ilmiah dipandang sekadar syarat administratif untuk lulus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, persoalannya bukan memilih skripsi atau jurnal. Persoalannya adalah apakah kampus benar-benar sedang menyiapkan mahasiswa menjadi peneliti, atau hanya menyiapkan mereka memenuhi syarat kelulusan. Kalau jawabannya masih yang kedua, mengganti skripsi dengan jurnal hanyalah memindahkan bentuk bebannya. Bukan menyelesaikan akar persoalannya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Janu Wisnanto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-publikasi-artikel-di-jurnal-ilmiah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengganti skripsi dengan jurnal hanyalah memindahkan bentuk bebannya. Bukan menyelesaikan akar persoalannya.<\/p>\n","protected":false},"author":2789,"featured_media":355311,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[8954,236,30189],"class_list":["post-408140","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-jurnal","tag-skripsi","tag-tugas-akhir-mahasiswa"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/408140","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2789"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=408140"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/408140\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":408243,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/408140\/revisions\/408243"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/355311"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=408140"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=408140"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=408140"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}