{"id":407970,"date":"2026-06-30T08:45:54","date_gmt":"2026-06-30T01:45:54","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=407970"},"modified":"2026-06-29T18:15:24","modified_gmt":"2026-06-29T11:15:24","slug":"hal-hal-yang-nggak-saya-sukai-dari-gandus-palembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-yang-nggak-saya-sukai-dari-gandus-palembang\/","title":{"rendered":"Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Gandus Palembang, Bau Pabrik Karet hingga Berasa Dipanggang Matahari"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">KTP saya memang tertulis Kota Bandar Lampung, tapi saya aslinya orang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-orang-sumatera-selatan-terus-ngaku-dari-palembang-daerah-lain-kapan-dikenalnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sumatera Selatan (Sumsel)<\/a>. Ayah saya asli Palembang, sementara Ibu berasal dari Lahat, Sumatera Selatan. Oleh karena itu, Sumsel menjadi provinsi yang selalu saya tuju ketika pulang kampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua Ibuk punya dua rumah, yakni di Kikim Timur, Lahat, dan satu lagi di Gandus, Palembang. Namun, saya lebih sering pulkam ke Gandus ketika liburan semester atau momen Lebaran karena jaraknya lebih dekat dari Bandar Lampung. Selain itu, semenjak tak lagi berkebun, Nenek lebih sering tinggal bersama bibi saya di sana dan hanya kembali ke dusun sesekali ketika musim durian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini dibuat bukan lantaran saya tidak suka bertemu Nenek, tentunya. Namun, apabila membicarakan Kecamatan Gandus, ada beberapa hal yang membuat saya kurang betah hingga mau tak mau merindukan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-saya-gemar-berjalan-kaki-di-bandar-lampung-kendati-rasanya-seperti-uji-nyali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bandar Lampung<\/a> dengan segala bobroknya.<\/span><\/p>\n<h3><b>Bau pabrik karet yang menyengat di Gandus<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibu saya pernah bilang, awalnya pabrik-pabrik karet itu yang lebih dahulu membangun usahanya di pinggir kota. Eh, masyarakat malah beramai-ramai membangun permukiman di sana juga. Itu katanya sih, mohon jangan gebukin saya kalau informasinya keliru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, poin ini tidak terlalu mengganggu karena saya jarang bermobilitas ketika berada di Gandus, Palembang. Jangankan keliling kecamatan, jalan kaki ke Alfamart saja sering dilarang oleh Nenek. Jadi, kesempatan saya untuk mencium aroma pabrik juga tidak sebanyak itu. Di sisi lain, sejumlah pabrik di Sumsel juga saya ketahui sudah<\/span><a href=\"https:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20231219\/257\/1725362\/9-pabrik-karet-di-sumatra-bangkrut-ini-biang-keroknya\"> <span style=\"font-weight: 400;\">gulung tikar<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dari berita. Entah bagaimana kabar terbarunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai cucu petani karet, saya sudah cukup familier dengan aroma pohon karet, getah yang baru disadap, maupun lateks yang sedang mengalami proses pembekuan atau penggumpalan (koagulasi). Bahkan, bau bokar ketika ditimbang oleh tengkulak pun masih bisa saya toleransi. Namun, aroma pabrik karet itu benar-benar berbeda level.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sulit mendeskripsikannya selain bau busuk yang menyengat, apalagi saat tertiup semilir angin. Memang, aromanya nggak tercium lagi ketika saya berada di rumah Nenek. Namun, setiap kali memasuki Jalan Lettu Karim Kadir, mulailah aroma tersebut semerbak dari kendaraan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau keluhan saya mengenai<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-yang-nggak-saya-sukai-dari-kebayoran-baru-jaksel\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">selokan di Kebayoran Baru<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> muncul lantaran jaraknya yang sangat dekat, bau pabrik ini berbeda kasusnya. Dibilang mengganggu tidak sepenuhnya betul, tetapi cukup untuk membuat saya merasa kurang betah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin orang yang sudah lama tinggal di sana terbiasa, tetapi setelah beberapa kali bolak-balik Gandus, jujur, saya masih belum mampu berdamai dengan baunya.<\/span><\/p>\n<h3><b>Lokasi Gandus Palembang jauh dari pusat kota<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Poin ini sebenarnya wajar lantaran wilayah Gandus memang terbentang di sepanjang tepi aliran Sungai Musi. Setiap kali ingin berkunjung ke rumah saudara, jarak tempuhnya minimal sekitar 12 kilometer. Bahkan, ada yang mencapai 23 kilometer. Padahal, masih sama-sama di Kota Palembang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan rumah saudara saya yang terlalu jauh, melainkan rumah Nenek memang terletak di pinggir kota. Pergi ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/seandainya-saya-jadi-sinta-dalam-kisah-ramayana\/\">Ramayana<\/a> di Bukit Kecil untuk sekadar melihat-lihat saja sudah cukup membuat bokong saya pegal di atas motor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandingkan dengan kehidupan saya di Bandar Lampung. Saya terbiasa bepergian ke berbagai tempat dengan rerata radius 5 kilometer, rumah saudara pun lokasinya relatif berdekatan. Waktu kali pertama ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kampus-islam-rasa-bebas-fenomena-uin-yang-bikin-bingung-malaikat-pencatat-amal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UIN Raden Intan Lampung<\/a> saja saya mengeluh karena rasanya seperti pergi ke kota lain saking jauhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, jalanan di Bandar Lampung yang berkelok-kelok serta penuh tanjakan dan turunan lebih mudah saya hafalkan. Sebaliknya, ruas jalan di Palembang rata-rata lurus, datar, dan lebar. Entah mengapa, kondisi itu membuat saya sukar mengingat rute. Perjalanan pun terasa lebih lama lantaran pemandangannya seperti tidak banyak berubah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akibatnya, selama 23 tahun hidup dan beberapa kali bolak-balik Palembang, jumlah tempat yang pernah saya eksplorasi rasanya bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Foto di Jembatan Ampera tidak pernah, ke Benteng Kuto Besak pun hanya lewat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih parahnya lagi, saya baru tahu belakangan ini bahwa di Gandus terdapat Museum Bayt Al-Qur\u2019an Al-Akbar dari IG story teman kuliah. Sampai sekarang pun saya belum kesampaian berkunjung ke sana. Bayangkan, sudah berkali-kali pulkam, tetapi objek wisata religi yang berada di kecamatan yang sama saja belum pernah saya datangi. Hiks.<\/span><\/p>\n<h3><b>Berasa dipanggang matahari selama di Gandus karena cuaca panas bedengkang<\/b><\/h3>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya Bandar Lampung nggak panas ya. Malah, hari-hari saya sering menyalakan tiga kipas sekaligus sampai bunyi kipas itu membuat orang-orang mengira saya sedang berada di perjalanan ketika mengirim VN WhatsApp. Yah, maklum, nggak punya duit beli AC.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, panas di Gandus ini lain nian. Saya tidak berani menggeneralisasi bahwa seluruh Palembang sama panasnya karena saya sendiri belum observasi. Jadi, anggap saja poin ini murni kesan pribadi saya terhadap Gandus dan sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dibandingkan dengan rumah saya di Bandar Lampung, hawa panas di Gandus terasa jauh, jauh lebih menyiksa. Lingkungan rumah saya masih memiliki cukup banyak pohon dan lokasinya dekat area perbukitan sehingga panasnya pun masih bisa ditoleransi. Siang hari paling-paling hanya membuat saya sedikit berkeringat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, panas matahari di Gandus benar-benar<\/span><a href=\"https:\/\/id.wiktionary.org\/wiki\/bedengkang\"> <span style=\"font-weight: 400;\">bedengkang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> kalau istilah orang Melayu. Panas menyengat, panas sekali, panas terik, ah, panas betul pokoknya Wak. Berasa dipanggang perlahan sampai ke tulang-tulang, apalagi saya memang tidur di lantai dua yang beratap seng. Auto berubah jadi pempek panggang siang-siang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kalau keluar rumah. Beh, sudahlah terpanggang, bermandikan debu pula. Lengkap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa hal yang nggak saya sukai dari Kecamatan Gandus, Palembang. Kendati demikian, tentu ada juga hal yang saya suka lantaran tidak ada tempat yang sepenuhnya hitam atau putih. Ihwal itu barangkali akan saya bahas di lain kesempatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Siti Atika Azzahrah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor:\u00a0 Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-orang-sumatera-selatan-terus-ngaku-dari-palembang-daerah-lain-kapan-dikenalnya\/\"><b><i>Kalau Orang Sumatera Selatan Terus-terusan Ngaku dari Kota Palembang, Daerah Lain Kapan Dikenalnya?<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya orang Bandar Lampung yang kerap pulang kampung ke Kecamatan Gandus Palembang, tempat ini menyenangkan kecuali bau pabrik karetnya. <\/p>\n","protected":false},"author":3268,"featured_media":408080,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9020,33895,33894,6303,7729],"class_list":["post-407970","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandar-lampung","tag-gandus","tag-gandus-palembang","tag-lampung","tag-palembang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407970","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3268"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=407970"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407970\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":408081,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407970\/revisions\/408081"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/408080"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=407970"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=407970"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=407970"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}