{"id":407535,"date":"2026-06-26T09:08:17","date_gmt":"2026-06-26T02:08:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=407535"},"modified":"2026-06-26T09:08:17","modified_gmt":"2026-06-26T02:08:17","slug":"kesedihan-saya-di-balik-gramedia-jalma-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kesedihan-saya-di-balik-gramedia-jalma-semarang\/","title":{"rendered":"Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awal Juni lalu, Gramedia Pandanaran Semarang resmi berubah menjadi Gramedia Jalma Semarang. Toko buku legendaris ini punya wajah baru dengan konsep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">creative space. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Tempatnya nyaman untuk<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0bekerja, mengerjakan tugas, atau sekadar membaca buku sambil ngopi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selang beberapa hari setelah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">grand opening<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana. Di pintu masuk, ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/ob-dan-satpam-kantor-lebih-tulus-dari-teman-kerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">satpam<\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menyambut dengan penuh senyuman. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu masuk ke dalam, saya disuguhi pemandangan berupa rak-rak buku yang menjulang tinggi. Sangat estetik dan memanjakan mata, buktinya banyak yang berfoto di spot ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Konsep brilian untuk menggaet pengunjung ke toko buku<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip dari situs resmi Gramedia, &#8220;Jalma&#8221; berarti manusia dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/panduan-belajar-bahasa-sunda-yang-tidak-baik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bahasa Sunda<\/a>. Konsep ini diusung untuk mengingatkan kita bahwa Gramedia Jalma hadir sebagai ruang bagi manusia untuk berinteraksi, belajar, berdiskusi, dan menggagas ide-ide.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya berisi rak buku dengan konsep monoton, Gramedia Jalma menyediakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">creative space<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">coworking space<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">coffee shop<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, hingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">reading pod<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bagi pengunjung yang ingin suasana baru untuk membaca buku. Bahkan, bagi yang membawa anak, Gramedia Jalma juga memiliki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kids area<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk bermain sekaligus belajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara konsep dan tujuan, saya akui Gramedia memang selangkah lebih maju dibanding toko buku lain. Mereka menawarkan pengalaman yang bikin pengunjung betah berlama-lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya paham interior Gramedia Jalma dibuat sangat estetik untuk menyasar pengunjung yang sebelumnya tidak terlalu akrab dengan toko buku. Foto-foto yang diambil di dalam bangunan benar-benar sangat cocok untuk mempercantik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">feed<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Instagram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terbukti, banyak orang penasaran ingin melihat langsung konsep baru toko buku yang belum pernah ada sebelumnya di Semarang. Tidak sedikit pula yang datang hanya untuk berfoto atau membuat konten.<\/span><\/p>\n<h2><b>Saat Gramedia Jalma Semarang jadi destinasi wisata baru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di satu sisi, saya senang melihat toko buku bisa seramai itu. Sudah terlalu lama kita mendengar kabar tentang menurunnya minat baca, lesunya industri buku, dan berkurangnya jumlah toko buku fisik. Oleh karena itu, melihat Gramedia dipenuhi pengunjung tentu menjadi pemandangan yang menyenangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, saya ingin menyampaikan keluhan sebagai pengunjung yang memang datang dengan niat membaca atau mencari buku. Beberapa kali saya melihat kursi penuh oleh orang-orang yang lebih sibuk mengobrol daripada membaca.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang datang berkelompok lalu bercengkerama cukup keras. Ada pula yang menghabiskan waktu untuk berfoto atau main HP tanpa benar-benar berinteraksi dengan buku yang ada di sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Niat saya untuk mengungkapkan keresahan hati ini mungkin akan dicap sebagai polisi moral. Nanti pasti ada yang bilang, &#8220;Lho, Gramedia Jalma kan memang bukan perpustakaan.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga yang beranggapan kalau tempat seperti ini memang dibuat untuk berinteraksi, jadi wajar kalau ada orang yang mengobrol atau sekadar nongkrong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak dapat dimungkiri, saya setuju dengan semua itu. Tidak masalah kalau ada yang datang karena sekadar <a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/apa-itu-fomo-ini-pengertian-gejala-dan-dampaknya?srsltid=AfmBOoqqIEoi-1lnUeiDLcOpTBIeB24Sp6uiFsco_arOEXwMd3K6OOtG\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">FOMO<\/a> atau penasaran. Toh sejak awal Gramedia memang tidak pernah mengklaim Jalma sebagai ruang baca yang harus hening seperti perpustakaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah, mungkin saja saya hanya rindu dengan konsep Gramedia yang lama. Jujur saja, saya agak sedih karena saya merasa kehilangan sesuatu yang selama ini saya anggap akrab.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hilangnya sensasi berburu buku yang seru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang cukup sering mengunjungi Gramedia, saya tidak bisa bohong kalau masih sering membandingkan Gramedia Jalma dengan versi sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kecilnya, bau khas buku saat saya berjalan di antara rak yang disusun berhimpit-himpitan, lengkap dengan musik Kenny G yang mengalun dari pengeras suara. Sepertinya, hal itu tidak saya rasakan saat mengunjungi Gramedia Jalma tempo hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu hal yang paling saya rindukan adalah rak-rak buku yang dulu terasa lebih rapat dan padat. Mungkin bagi sebagian orang, tata ruang baru Gramedia Jalma jauh lebih nyaman karena terasa lega dan tidak sesak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, bagi saya, ada kesenangan tersendiri ketika berjalan di antara rak-rak buku sambil sesekali menemukan buku-buku di luar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">wishlist<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dulu saya sering datang dengan niat membeli satu buku, lalu pulang membawa dua atau tiga buku lain karena tidak sengaja menemukannya saat berkeliling.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Gramedia Jalma, pengalaman itu terasa sedikit berbeda. Tata ruang yang lebih terbuka memang membuat pengunjung lebih leluasa bergerak dan membuat keseluruhan tempat terlihat jauh lebih estetik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, saya merasa sensasi &#8220;tersesat&#8221; di antara rak buku yang dulu sering saya rasakan kini sudah berkurang. Padahal justru momen-momen seperti itulah yang sering membuat kunjungan ke toko buku menjadi menyenangkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Area alat tulis yang bikin kangen<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang diam-diam saya rindukan adalah area alat tulisnya. Saya yakin banyak pelanggan Gramedia yang memahami perasaan ini. Dulu area alat tulis di Gramedia Pandanaran terasa banyak dan lengkap pilihannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika berkunjung ke Gramedia Jalma, saya merasa pilihan alat tulis tidak lagi menjadi daya tarik utama seperti dulu. Wajar sebenarnya, karena Gramedia kini sedang menonjolkan konsep baru, di mana area alat tulis hanya berfungsi sebagai pemanis saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetepi, tetap saja, saya rasa tidak salah kalau saya tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sebagian kecil identitas Gramedia Pandanaran yang ikut berubah.<\/span><\/p>\n<h2><b>Semoga Gramedia Jalma Semarang tidak berhenti sebagai tempat foto-foto<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sedang ingin merasakan suasana Gramedia yang lebih klasik, mungkin saya masih bisa menemukannya di beberapa cabang lain di Semarang. Saya harus berdamai bahwa Gramedia Jalma hadir sebagai versi baru toko buku yang memang ditujukan untuk kebutuhan zaman yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari kesedihan kecil saya, senang rasanya melihat Semarang memiliki destinasi baru selain mal yang sudah menjamur. Kalau perubahan itu bisa membuat lebih banyak orang masuk ke toko buku, mengenal buku, lalu akhirnya membeli dan membacanya, mungkin kesedihan kecil saya sebagai pelanggan lama adalah harga yang cukup layak untuk dibayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang saya harapkan adalah semoga rasa penasaran dan FOMO itu tidak berhenti di sana. Akan sangat disayangkan jika Gramedia Jalma hanya menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">background<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> foto untuk Instagram atau TikTok, lalu dilupakan begitu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dini Sukmaningtyas<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-nggak-butuh-mal-baru-butuhnya-ruang-terbuka-hijau\/\"><b><i>Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau.\u00a0<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jujur agak sedih ketika toko buku favorit saya berubah konsep jadi Gramedia Jalma Semarang karena terlalu banyak kenangan manis di sana. <\/p>\n","protected":false},"author":1576,"featured_media":407651,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6604,33854,33853,33855,4652,33857,33856],"class_list":["post-407535","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gramedia","tag-gramedia-jalma","tag-gramedia-jalma-semarang","tag-gramedia-semarang","tag-semarang","tag-toko-buku-gramedia","tag-toko-buku-semarang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407535","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1576"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=407535"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407535\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":407655,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407535\/revisions\/407655"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/407651"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=407535"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=407535"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=407535"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}