{"id":407303,"date":"2026-06-24T11:34:44","date_gmt":"2026-06-24T04:34:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=407303"},"modified":"2026-06-24T11:34:44","modified_gmt":"2026-06-24T04:34:44","slug":"jalanan-surabaya-yang-liar-bikin-jiper-pengendara-tertib","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalanan-surabaya-yang-liar-bikin-jiper-pengendara-tertib\/","title":{"rendered":"Jalanan Surabaya yang &#8220;Liar&#8221; Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas"},"content":{"rendered":"<p><em>Sekali-kali cobalah berkendara di Surabaya &#8230;<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun naik sepeda motor, saya punya satu kebiasaan kecil yang selalu saya banggakan. Saya murni ujian praktik berulang kali untuk dapat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/hikmah-dari-gagal-ujian-sim-c-sebanyak-11-kali\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">SIM C<\/a>. Iya, murni ujian praktik berulang kali sampai hafal lekuk angka delapan, tanpa pelicin, tanpa bantuan orang dalam. Dengan modal itu, saya merasa sudah sah menjadi pembalap jalanan yang tangguh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai akhirnya, takdir membawa saya untuk menetap dan bekerja di Kota Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari pertama mengendarai motor di jalanan<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kota_Surabaya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Kota Pahlawan<\/a> ini, jujur saja, seluruh harga diri dan kepercayaan diri saya langsung rontok ke aspal. Roda dua yang biasanya saya kendalikan dengan gagah berani, mendadak terasa cupu dan melempem. Saya, si lulusan ujian SIM C murni ini, seketika berubah jadi pengendara amatir yang gemetaran di lajur kiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bunyi klakson yang bikin pengendara pusing<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Surabaya adalah perwujudan dari kata sat-set yang sesungguhnya. Di sini, kecepatan berkendara 50 km\/jam di jalan raya utama bukanlah tindakan cari aman, melainkan cari ribut. Kalau kalian nekat berjalan santai dengan kecepatan segitu di Jalan Ahmad Yani atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/rumah-hantu-darmo-surabaya-tak-seangker-cerita-yang-beredar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jalan Darmo<\/a>, bersiaplah untuk diteror oleh paduan suara klakson dari belakang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bunyi klakson yang panjang seolah-olah mengusir kalian untuk segera menyingkir ke selokan. Sungguh, tingkat kesabaran di kota ini rasanya setipis tisu yang sudah dibagi dua, lalu ketumpahan air. Tipis banget! Semua orang seperti sedang diburu-buru oleh malaikat maut atau sedang kebelet berak masal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, kegilaan soal kecepatan itu belum ada apa-apanya dibanding drama teaterikal yang terjadi di setiap lampu lalu lintas atau persimpangan Surabaya. Ini adalah puncak kejengkelan yang bikin saya elus dada sampai rata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita bahas kebiasaan yang berlaku di lampu merah Surabaya: klakson kecepatan cahaya. Di kota ini, ada interval waktu gaib sebesar 0,01 detik. Yaitu jarak waktu antara lampu berubah dari merah ke hijau, dengan bunyi klakson pertama dari pengendara di belakang kalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jari mereka itu sudah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">standby<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di tombol klakson sejak lampu kuning. Begitu warna hijau menyala, bahkan sebelum sinyal elektroniknya sampai ke mata kalian, suara klakson sudah mengumandang memekakkan telinga. Saya kadang mikir, apa mereka ini mantan pembalap MotoGP yang kalau telat start 0,001 detik hidupnya bakal hancur?<\/span><\/p>\n<h2><b>Lampu merah yang hanya jadi pajangan saja di Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelakuan ajaib kedua yang bikin saya habis pikir adalah menerobos lampu lalu lintas di perempatan besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika lampu jelas-jelas masih berwarna merah merona, para pengendara di depan saya akan memantau situasi persimpangan dari seberang. Begitu mereka melihat arah berlawanan agak lengang dan tidak ada kendaraan yang menyeberang, tanpa rasa berdosa mereka langsung tancap gas menerobos lampu merah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Logika macam apa ini?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rambu lalu lintas yang dibuat dengan studi keselamatan bertahun-tahun kalah telak dengan asas mumpung sepi. Lha, kan bodoh ya? Batas antara efisiensi waktu dengan bertaruh nyawa itu bedanya tipis banget di kepala mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling epik sekaligus bikin tensi darah saya melonjak ke ubun-ubun adalah ketika skenario bodoh itu bertemu dengan kearifan lokal berupa misuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan, ada pengendara yang dengan sadar dan penuh percaya diri melawan arus atau menerobos lampu merah. Kemudian, dari arah berlawanan, kendaraan yang jalurnya sudah sah berwarna hijau datang dengan kecepatan standar Surabaya (alias ngebut).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih merasa bersalah, minta maaf, atau mengerem, si pelanggar lalu lintas yang melawan arah ini malah melotot. Dengan ringannya, dari mulut mereka keluar makian legendaris, \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/komen\/versus\/sejarah-kata-jancuk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jancuk<\/a>! Matamu ta!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jiwa lulusan ujian SIM murni saya menangis menjerit-jerit melihat pemandangan ini. Di dunia mana ada orang salah, melanggar hukum, membahayakan nyawa orang lain, tapi dia yang punya hak eksklusif untuk marah dan memaki duluan? Cuma di jalanan kota besar, kawan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kesabaran yang harus menyertai sepanjang jalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya heran, apakah memang begini watak asli penduduk kota besar? Tanpa bermaksud mendiskriminasi, saya mulai sadar bahwa ini adalah penyakit kronis kota-kota metropolitan yang serba cepat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manusia kota agaknya sudah kehilangan kemampuan untuk menikmati jeda. Berhenti dua menit di lampu merah dianggap sebagai kerugian ekonomi berskala besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, mau tidak mau, saya harus menelan ludah, menerima kenyataan pahit ini, dan beradaptasi karena harus mencari nafkah di Surabaya. Setiap kali menghidupkan mesin motor di pagi hari, saya selalu membisikkan mantra pada diri sendiri, \u201cSabar, kesabaranmu harus ditebalkan, karena jalanan di depanmu diisi oleh orang-orang yang sumbunya sependek korek api.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk warga Surabaya dan para penguasa jalanan kota metropolitan, saya cuma mau nanya satu hal. Seberapa berharganya sih waktu dua menit yang kalian hemat dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menerobos-lampu-merah-itu-tindakan-orang-idiot\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menerobos lampu merah<\/a> atau membunyikan klakson secara brutal itu? Apakah dua menit itu bisa dipakai untuk mengubah nasib bangsa? Kalau tidak, tolonglah, rem dikit egonya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasihan kami, para perantau cupu yang cuma ingin pulang kerja dengan selamat tanpa harus kena serangan jantung di jalan raya. Toh juga untuk keselamatan semua pengguna jalan dan ketertiban lalu lintas, kan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Ferika Sandra<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surabaya-cocok-buat-merantau-tapi-jangan-terjebak-ekspektasi\/\"><b><i>Hal-hal yang Harus Diketahui Calon Perantau sebelum Pindah ke Surabaya agar Tidak Terjebak Ekspektasi.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalanan Surabaya bikin jiper pemotor tertib karena banyak pengendara hobi membunyikan klakson hingga  menerobos lampu merah. <\/p>\n","protected":false},"author":1810,"featured_media":407340,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[33834,23636,29869,33835,405],"class_list":["post-407303","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jalanan-surabaya","tag-kota-pahlawan","tag-lalu-lintas-surabaya","tag-pengendara-surabaya","tag-surabaya"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407303","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1810"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=407303"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407303\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":407342,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407303\/revisions\/407342"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/407340"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=407303"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=407303"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=407303"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}