{"id":406878,"date":"2026-06-21T14:32:36","date_gmt":"2026-06-21T07:32:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=406878"},"modified":"2026-06-21T14:32:36","modified_gmt":"2026-06-21T07:32:36","slug":"kalau-orang-sumatera-selatan-terus-ngaku-dari-palembang-daerah-lain-kapan-dikenalnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-orang-sumatera-selatan-terus-ngaku-dari-palembang-daerah-lain-kapan-dikenalnya\/","title":{"rendered":"Kalau Orang Sumatera Selatan Terus-terusan Ngaku dari Kota Palembang, Daerah Lain Kapan Dikenalnya?"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau semua orang Sumatera Selatan ngaku dari Palembang, lalu kapan orang-orang bakal kenal daerah lain di Sumatera Selatan?<\/span><\/i><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKamu dari Palembang? Sama nih.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah, Palembang di mananya, Kak? Desember nanti aku pulang ke Gandus.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOh, aku di Muara Enim, ehehe.\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percakapan macam di atas bukan sekali dua kali saya dengar juga alami. Sebagai keturunan suku Melayu Palembang dan Lahat yang hanya memilih untuk mengaku orang Palembang kalau sedang membahas pempek, tekwan, dan antu banyu\u200a\u2014\u200asaya selalu bingung dengan kebiasaan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau alasannya untuk mempermudah orang luar memahami asal daerah lantaran nama Palembang lebih familier dan populer sih, saya masih bisa memafhumi. Namun, yang sering bikin heran, ihwal ini juga kerap terjadi ketika mengobrol dengan sesama orang Sumatera Selatan. Kan kocak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Padahal ngobrol sesama orang Sumsel, tetapi enggan mengakui asal daerah sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama berkuliah di Universitas Lampung, provinsi tetangga yang secara historis merupakan hasil pemekaran Sumatera Selatan, berulang kali saya mendapati fenomena ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak mahasiswa yang awalnya mengaku dari Palembang. Belakangan, baru saya tahu asalnya dari Prabumulih, Lahat, Pagar Alam, Lubuk Linggau, Muara Enim, dan daerah-daerah lainnya di Sumsel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, saya sudah lebih dulu memperkenalkan diri sebagai orang Lahat dan senang sekali apabila bertemu dengan sesama jeme (orang) dusun. Berkat pengakuan itu pula, saya jadi punya kawan serumpun yang lebih akrab dengan bahasa Melayu berakhiran \u00ea (e pepet).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau tak mau saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Apakah kalau mengaku dari Palembang derajatnya meninggi? Jadi lebih bergengsi karena ibu kota provinsi?<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-tinggal-di-pelosok-sumatera-selatan-warga-pilih-merantau\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Tinggal di Pelosok Sumatera Selatan Cuma Bikin Menderita, Warga Pilih Merantau karena Nggak Ada Perubahan<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Palembang dianggap mewakili seluruh Sumatera Selatan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran dilanda penasaran, saya sempat menyelam ke beberapa postingan di media sosial yang membahas kebiasaan orang Sumsel mengaku-ngaku dari Palembang ini. Banyak yang relate, sudah pasti. Komentarnya pun beragam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain malas menjelaskan kepada orang awam, ada pula yang memberi alasan bahwa Palembang dulunya merupakan pusat Kesultanan Palembang Darussalam. Dengan demikian, Kota Palembang adalah milik semua warga Sumsel. Nggak harus tinggal di Palembang atau bersuku Melayu Palembang untuk mengaku sebagai orang Palembang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun mencoba untuk berpengertian, jujur, tetap saja saya merasa ganjil. Lantas, buat apalah dipisah-pisah identitas antarkota dan kabupaten kalau pada akhirnya semua mengaku wong Palembang? Bagaimana kita mau mengenalkan asal daerah sendiri kepada orang luar kalau mengakuinya saja ogah-ogahan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahu kok, tahu, fenomena ini nggak hanya terjadi pada Sumsel. Sebutlah saja tetangga sepulau. Sumatera Utara sering diidentikkan dengan Medan, sedangkan Sumatera Barat kerap disamakan dengan Padang. Nama kota yang lebih terkenal akhirnya menjadi representasi tunggal yang menutupi identitas provinsi itu sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sampai-sampai Palembang dikira nama provinsi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Justru itu. Hanya karena daerah lain juga mengalaminya, bukan berarti harus dianggap biasa. Sebelas dua belas dengan pemangkasan kata \u201cBandar\u201d dari Kota Bandar Lampung, hanya saja konteksnya berkebalikan. Kalau Lampung sering dikira kota, Medan, Padang, dan Palembang malah kerap dikira provinsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil pemekaran yang juga berbatasan langsung ini pun sering saling krisis identitasnya. Masyarakat kedua provinsi pasti lebih akrab dengan rute Palembang-Lampung ketimbang Sumatera Selatan-Lampung atau Palembang-Bandar Lampung. Lebih simpel memang, tetapi juga ambigu karena menyandingkan nama kota dengan nama provinsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerancuan semacam ini bukan perihal baru. Salah satu contoh yang pernah menghebohkan publik ialah ketika Jokowi salah menyebut \u201cProvinsi Padang\u201d saat meninjau pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatera ruas Pekanbaru-Padang pada 19 Mei 2021. Melansir<\/span><a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20210519141415-20-644239\/jokowi-keliru-sebut-provinsi-padang-istana-klarifikasi\"> <span style=\"font-weight: 400;\">CNN<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, Kepala Sekretariat Presiden kala itu, Heru Budi Hartono, sampai mengklarifikasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Palembang pun tidak luput dari kasus kesalahan serupa. Penggunaan istilah \u201cProvinsi Palembang\u201d lumayan gampang ditemukan di laman pencarian Google. Mulai dari artikel<\/span><a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/indonesia-42960086\"> <span style=\"font-weight: 400;\">BBC<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> hingga<\/span><a href=\"https:\/\/ppid.serangkota.go.id\/detailpost\/wte-psel-kota-serang-diproyeksi-3-tahun-kedepan-dioperasikan\"> <span style=\"font-weight: 400;\">PPID Kota Serang<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, menyasar pula ke skripsi dan artikel ilmiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membuat saya makin takjub, nggak sedikit penggunaan \u201cProvinsi Palembang\u201d justru dilakukan oleh mahasiswa asal Sumatera Selatan itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saya nggak bisa memastikan penyebab atas kekeliruan tersebut. Yang jelas, batas antara identitas Kota Palembang dan Provinsi Sumatera Selatan menjadi kabur. Ketika nama sebuah kota terus-terusan dipakai untuk mewakili satu provinsi, tak heran apabila sebagian orang akhirnya mencampuradukkan keduanya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Bodo amat orang nggak paham, tinggal kasih paham<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, persoalan yang saya bahas bukan benar atau salah mengaku dari Palembang. Hanya saja rasanya sayang kalau daerah-daerah lain di Sumatera Selatan perlahan menghilang dari obrolan lantaran warganya sendiri lebih memilih memakai identitas yang dianggap paling familier.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai kapan coba kita terus beralasan \u201cbiar gampang\u201d atau \u201cbiar cepat\u201d? Kalau semua orang Baturaja mengaku Palembang, semua orang Sekayu mengaku Palembang, dan semua orang Tebing Tinggi mengaku Palembang, kapan daerah-daerah itu akan dikenal orang awam?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangankan ketika saya magang di seberang pulau, selama sekolah dan kuliah di Kota Bandar Lampung pun, banyak yang merasa asing dengan nama Lahat apalagi subsuku Kikim. Boro-boro tahu. Yang ada malah saya dikira sedang membicarakan \u201cliang lahat\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang harus menjelaskan lebih panjang, ya tinggal saya jelaskan saja. Bodo amat manjangin tali kelambu. Bukankah itu justru kesempatan bagus untuk mengenalkan daerah sendiri kepada orang lain?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, memang seribet apa sih secara jujur memberitahu asal suku dan daerah, apalagi yang jarak tempuhnya bisa berjam-jam dari kota yang awalnya disebutkan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bangga menjadi jeme dusun. Saya bangga berasal dari Kikim Timur Lahat, kendati setiap kali pulang kampung, pemandangan yang saya dapati hanyalah kebun-kebun karet dan kopi yang perlahan berganti menjadi hamparan sawit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soalnya, kalau kita sendiri terus-terusan memilih menjadi wong Palembang, daerah lain di Sumatera Selatan kapan dikenalnya?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Siti Atika Azzahrah<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/palembang-banyak-berubah-padahal-baru-ditinggal-setahun\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Palembang Bikin Pangling, Banyak Berubah padahal Baru Ditinggal Merantau Setahun<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau semua orang Sumatera Selatan ngaku dari Palembang, lalu kapan orang-orang bakal kenal daerah lain di Sumatera Selatan?<\/p>\n","protected":false},"author":3268,"featured_media":386971,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9020,19294,7729,18051],"class_list":["post-406878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bandar-lampung","tag-muara-enim","tag-palembang","tag-sumatera-selatan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3268"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=406878"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406878\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":406930,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406878\/revisions\/406930"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/386971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=406878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=406878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=406878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}