{"id":406612,"date":"2026-06-20T13:11:10","date_gmt":"2026-06-20T06:11:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=406612"},"modified":"2026-06-20T13:11:10","modified_gmt":"2026-06-20T06:11:10","slug":"mati-listrik-di-jogja-cara-cepat-membunuh-orang-miskin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mati-listrik-di-jogja-cara-cepat-membunuh-orang-miskin\/","title":{"rendered":"Mati Listrik di Jogja Membuka Kenyataan Bahwa Orang Miskin Membayar Lebih Mahal dari Masalah yang Tidak Mereka Ciptakan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belakangan ini, ada satu notifikasi dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kesetrum-listrik-negara-menguak-kerugian-pln-yang-tak-berujung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PLN<\/a> yang bikin emosi warga Jogja, pengumuman jadwal mati listrik. Responsnya hampir selalu sama. Ada yang mengeluh, bercanda, banyak yang langsung sibuk mengecas semua perangkat elektronik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya menganggap mati listrik hanya sebatas gangguan kecil. Toh paling cuma beberapa jam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa rebahan, ngobrol dengan tetangga, atau keluar rumah mencari angin. Namun, setelah rumah saya sering kena mati listrik, saya sadar bahwa listrik yang mati ternyata tidak berdampak sama bagi semua orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang di Jogja yang kehilangan kenyamanan sampai penghasilan. Dan dari situ saya memahami satu kenyataan bahwa menjadi orang miskin ternyata mahal sekali.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perkara-mati-listrik-bekasi-dan-inggris-nggak-ada-bedanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gara-gara Mati Listrik, Bekasi dan Inggris Nggak Ada Bedanya: Sebuah Kenyataan yang Nggak Akan Pernah Kamu Duga<\/a><\/p>\n<h2><b>Mati listrik dan tak ada pilihan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika mati listrik, orang kaya punya banyak pilihan. Mereka punya power bank berkapasitas besar, genset, sampai inverter. Ada juga mobil yang bisa dinyalakan untuk menikmati AC. Mereka bisa pindah kerja di kafe yang memiliki listrik cadangan. Minimal, bisa membeli paket data tambahan ketika WiFi mati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, orang miskin tidak memiliki kemewahan bernama pilihan. Mati listrik ya sudah. Kipas angin, pompa air mati, kulkas, mati mati. Pekerjaan ikut mati. Pendapatan apalagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jogja, kita bisa melihatnya dengan mudah. Penjual es di pinggir jalan mulai cemas ketika kulkas dan freezer tidak menyala selama berjam-jam. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/cuan\/derita-bisnis-laundry-cuan-15-juta-hilang-karena-kebodohan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pemilik laundry<\/a> harus menunda pekerjaan. Tukang fotokopi kehilangan pelanggan. Penjual minuman dingin melihat es batu yang perlahan mencair bersama keuntungan yang ikut mengalir pergi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerugian itu mungkin tidak besar jika melihatnya dari sudut pandang orang kaya di Jogja. Namun, bagi mereka yang hidup dari pemasukan harian, kehilangan pendapatan karena mati listrik untuk setengah hari saja bisa berarti banyak hal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Fakta orang miskin di Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menarik, kita sering membicarakan kemiskinan seolah hanya soal jumlah uang. Padahal, kemiskinan juga berarti tidak memiliki cadangan ketika sesuatu berjalan tidak normal karena mati listrik. Selama semua berjalan lancar, perbedaan itu mungkin tidak terlalu terlihat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika listrik menyala, semua orang bisa menyalakan kipas angin yang sama. Atau, mengisi daya ponsel yang sama. Namun begitu mati listrik, perbedaan itu muncul dengan sangat jelas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada rumah yang tetap terang dan bisa bekerja dengan tenang karena memiliki genset. Lebih banyak orang miskin di Jogja yang hanya bisa duduk termenung. Meratapi pemasukan harian melayang tanpa kompensasi dari PLN.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mati listrik membuka tabir kemiskinan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mati listrik membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi. Ketimpangan bukan hanya soal siapa yang memiliki lebih banyak uang, tetapi juga soal pilihan ketika masalah datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iklan bahwa Jogja itu nyaman masif sekali. Namun, di balik semua citra itu, ada kenyataan yang tak terlihat. Banyak aktivitas ekonomi hari ini sangat bergantung pada mati listrik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung menerima pembayaran QRIS. Pekerja mengandalkan internet. Mahasiswa mengerjakan tugas melalui laptop. Pedagang menyimpan barang dagangan di kulkas. Usaha kecil menjalankan produksi dengan mesin listrik. Artinya, ketika mati listrik, yang terganggu bukan hanya lampu rumah. <a href=\"https:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20260619\/44\/1981997\/pemadaman-listrik-bergilir-pln-rugikan-industri-rusak-bahan-baku-dan-mesin\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Aktivitas ekonomi terganggu<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, mereka yang paling bergantung pada pemasukan harian adalah pihak yang paling sulit mengantisipasi mati listrik. Mereka tidak punya genset. Duit dari mana mau beli genset kalau sehari-hari saja tidak pernah cukup.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-medan-mati-lampu-di-bulan-puasa-adalah-keniscayaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Di Medan, Mati Lampu di Bulan Puasa Adalah Keniscayaan: Sebuah Penderitaan yang Tak Akan Pernah Berakhir<\/a><\/p>\n<h2><b>Penderitaan tak pernah sama<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, saya agak tersenyum ketika mendengar anggapan bahwa mati listrik adalah penderitaan yang sama. Secara teknis memang benar. Tetapi, dampaknya tidak pernah benar-benar sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama seperti hujan yang turun ke seluruh kota, tetapi tidak semua orang memiliki atap yang sama kuat. Banyak yang menderita, ada pula yang tetap nyaman, kering, dan tidur nyenyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, mati listrik menunjukkan kenyataan yang faktual di Jogja terkait kemiskinan. Kehidupan di Jogja ini timpang sekali. Mungkin daerah lain juga merasakan fakta yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mati listrik akhirnya bukan hanya soal listrik. Ia menjadi pengingat bahwa masalah yang sama tidak pernah dibayar dengan harga yang sama oleh semua orang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang miskin, mereka hanya bisa menunggu dan meratap. Untuk orang kaya, kehidupan masih bisa terus berjalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah pelajaran paling terang yang saya pahami. Bahwa menjadi miskin berarti harus menanggung biaya paling mahal dari masalah yang tidak kita ciptakan sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Janu Wisnanto<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mati-listrik-tanpa-kompensasi-adalah-budaya-kita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mati Listrik Tanpa Kompensasi Adalah Budaya Kita: Tidak Peduli Rakyat Menderita, Negara Tetap Memalingkan Muka<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahwa menjadi orang miskin di Jogja berarti harus menanggung biaya paling mahal dari problem mati listrik yang tidak pernah mereka ciptakan.<\/p>\n","protected":false},"author":2789,"featured_media":406790,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[33784,115,9431,397,33785,398],"class_list":["post-406612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-genset","tag-jogja","tag-listrik","tag-mati-listrik","tag-pemadaman-bergilir","tag-pln"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2789"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=406612"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406612\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":406791,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406612\/revisions\/406791"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/406790"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=406612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=406612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=406612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}