{"id":406157,"date":"2026-06-17T11:54:40","date_gmt":"2026-06-17T04:54:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=406157"},"modified":"2026-06-17T11:54:40","modified_gmt":"2026-06-17T04:54:40","slug":"3-tradisi-manten-tulungagung-yang-aneh-bagi-pendatang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-tradisi-manten-tulungagung-yang-aneh-bagi-pendatang\/","title":{"rendered":"3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar kata manten, apa yang pertama kali terlintas di kepala kalian? Kebanyakan orang pasti membayangkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/menikah-untuk-saling-melengkapi-indah-tapi-bullshit\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pasangan manusia<\/a> yang duduk di pelaminan lengkap dengan riasannya.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, di Tulungagung, manten tidak hanya sebatas itu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan manten tidak selalu melibatkan manusia. Tradisi ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun sehingga dianggap wajar oleh warlok. Namun, bagi pendatang, saya yakin kebanyakan akan mengernyitkan dahi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau terlihat aneh bagi orang luar, tradisi manten Tulungagung ini nyatanya penuh makna dan harapan baik. Menariknya lagi, sebagian tradisi ini masih bisa dijumpai sampai sekarang. Bahkan, berubah menjadi bagian dari identitas budaya Tulungagung.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Mengarak kucing sebagai ritual minta hujan yang sudah mendunia<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama ada manten kucing. Sesuai namanya, ritual ini melibatkan sepasang kucing jantan dan betina. Keduanya diperlakukan layaknya pengantin. Kucing-kucing tersebut diarak dalam sebuah prosesi adat sebelum akhirnya dimandikan di sumber air atau telaga yang ada di desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan utama ritual ini bukan untuk mencarikan jodoh kucing. Masyarakat melaksanakannya sebagai doa agar hujan segera turun ketika kemarau panjang melanda wilayah mereka. Tradisi ini lahir dari cerita turun-temurun tentang leluhur desa yang dipercaya berhasil mendatangkan hujan setelah memandikan kucing saat masa kekeringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menarik, suasana ritual ini biasanya berlangsung meriah. Ada arak-arakan, doa bersama, kesenian tradisional, hingga selametan warga. Jadi bukan sekadar acara simbolis, melainkan juga ajang mempererat hubungan sosial masyarakat desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang luar, mungkin tradisi ini terdengar lucu. Namun, bagi warga lokal, manten kucing adalah warisan budaya yang sarat makna. Tradisi ini juga sudah menjadi bagian penting dari identitas desa mereka. Dan, jangan salah, tradisi dari <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pelem,_Campurdarat,_Tulungagung\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat<\/a> ini sudah dikenal lumayan luas di tingkat nasional lho.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Manten pari sebagai bentuk syukur petani kepada alam<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Manten Kucing berkaitan dengan hujan, manten pari lebih dekat dengan kehidupan para petani. Tradisi ini lahir dari penghormatan masyarakat agraris terhadap padi yang menjadi sumber kehidupan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/soal-budaya-makan-jawa-miskin-mengenaskan-di-depan-sumatra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">budaya Jawa<\/a>, padi sering dikaitkan dengan sosok Dewi Sri yang dipercaya sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Karena itulah, menjelang panen atau setelah panen berhasil, sebagian masyarakat menggelar prosesi simbolis yang dikenal sebagai manten pari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada ritual ini biasanya dipilih dua ikat padi terbaik. Kemudian, dihias menyerupai pasangan pengantin. Keduanya diarak atau ditempatkan di lokasi khusus sebelum dibawa ke lumbung. Prosesi tersebut menjadi simbol penyatuan harapan agar hasil pertanian tetap melimpah pada musim berikutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi masyarakat desa, padi bukan sekadar tanaman. Padi adalah sumber makan, sumber penghidupan, sekaligus penopang ekonomi keluarga. Karena itulah penghormatan terhadap padi diwujudkan melalui berbagai ritual tradisional, termasuk manten pari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Ada tanah, air, cuaca, dan kerja keras petani yang semuanya saling terhubung. Lewat manten pari kita diajak tetap menghargai alam yang selama ini memberi kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tidak sepopuler manten kucing, tradisi ini masih dapat dijumpai dalam beberapa kegiatan adat pertanian di wilayah pedesaan Tulungagung dan menjadi bagian dari budaya agraris masyarakat setempat.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kirab pengantin tebu, cara warlok Tulungagung menandai dimulainya musim giling<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manten tebu berkembang di kawasan industri gula. Tradisi ini menjadi salah satu ritual yang masih rutin dilaksanakan menjelang musim giling tebu di Tulungagung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu bukti pelaksana tradisi ini adalah pabrik gula Modjopanggoong di Tulungagung. Setiap menjelang musim giling, pihak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/sosial\/menelusuri-pabrik-gula-beran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pabrik gula<\/a> mengadakan prosesi kirab pengantin tebu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan tradisi ini adalah sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa agar proses produksi berjalan lancar. Dalam ritual tersebut terdapat sepasang boneka pengantin yang disebut sebagai manten tebu. Boneka ini diarak layaknya pengantin sungguhan lengkap dengan rombongan pengiring, sesaji, seserahan, dan alunan musik tradisional Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prosesi kirab biasanya dimulai dari kawasan permukiman menuju area pabrik gula. Setelah sampai di lokasi penggilingan, boneka pengantin tersebut dibawa menuju stasiun giling sebagai simbol dimulainya musim produksi gula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tradisi ini menyimpan berbagai harapan. Mulai dari agar petani memperoleh hasil panen yang baik, pabrik dapat beroperasi tanpa hambatan, hingga seluruh pihak yang terlibat mendapatkan keberkahan selama musim giling berlangsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah, 3 tradisi manten paling unik di Tulungagung. Sekilas, manten kucing, manten pari, dan manten tebu memang terdengar aneh. Namun, ketika dilihat lebih dekat, ketiganya menyimpan pesan yang sama. Ada doa untuk hujan, rasa syukur atas hasil panen, serta harapan akan rezeki yang terus mengalir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tinggal-dekat-tempat-wisata-baru-mikutopia-batu-itu-menderita\/\"><b><i>Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tradisi manten Tulungagung mungkin terlihat aneh bagi orang luar karena tidak melulu melibatkan manusia, bisa juga kucing, pari, hingga tebu. <\/p>\n","protected":false},"author":2851,"featured_media":406212,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[33751,33752,33753,33754,1671,7890],"class_list":["post-406157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-manten","tag-manten-kucing","tag-manten-pari","tag-manten-tebu","tag-tradisi","tag-tulungagung"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2851"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=406157"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406157\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":406214,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406157\/revisions\/406214"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/406212"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=406157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=406157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=406157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}