{"id":406048,"date":"2026-06-17T08:18:58","date_gmt":"2026-06-17T01:18:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=406048"},"modified":"2026-06-17T00:07:19","modified_gmt":"2026-06-16T17:07:19","slug":"warteg-comfort-food-perantau-kabupaten-di-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warteg-comfort-food-perantau-kabupaten-di-jakarta\/","title":{"rendered":"Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah Jakarta yang serba asing, warteg adalah satu-satunya tempat yang masih terasa Indonesia. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika awal pindah ke Jakarta dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dilema-jawa-murtad-di-gunungkidul-lidah-sumatra-jadi-petaka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gunungkidul<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal pertama yang saya sadari bukan soal pekerjaan, bukan soal ritme hidup, tapi soal makanan. Kedengarannya sepele, tapi justru dari situ semuanya terasa berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yang berasal dari Gunungkidul, tumbuh dengan lidah yang terbiasa makanan manis, santan kental, dan bumbu yang cenderung \u201cramah\u201d. Eh, tiba-tiba harus berhadapan dengan rasa yang jauh lebih tegas. Di Jakarta, banyak makanan terasa langsung<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> to the point<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Asin ya asin, gurih ya gurih, tanpa banyak kompromi di tengahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat kaget. Bukan kaget yang dramatis, tapi lebih ke bingung kecil yang terus berulang. Makanan yang dulu saya anggap biasa seperti sayur lombok atau terong dengan kuah santan dan sedikit gula tiba-tiba tidak mudah ditemukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa yang dulu akrab seperti ccampuran antara manis, gurih, santan tiba-tiba digantikan oleh rasa yang cenderung \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">to the point<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d tadi. Rasa yang tidak cocok di lidah saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di titik itu saya baru sadar, ternyata pindah kota di Indonesia bukan cuma soal pindah tempat tinggal, tapi juga pindah rasa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Warteg comfort food para perantau, khususnya saya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah berbagai penyesuaian merantau di Jakarta, saya menemukan satu tempat andalan yakni warteg. Bukan karena rasanya luar biasa, tapi karena rasanya yang cenderung familier.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warteg seperti ruang kompromi. Di sana ada banyak pilihan, banyak kemungkinan, dan tidak ada satu standar rasa yang dipaksakan. Mau sayur, lauk, pedas, tidak pedas, semua bisa dirakit sesuai selera. Dan, yang paling penting, rasanya cukup aman di lidah <a href=\"https:\/\/gunungkidulkab.go.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gunungkidul<\/a> saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau diibaratkan, warteg itu seperti zona netral di tengah kota yang besar dan asing. Tempat di mana saya tidak perlu beradaptasi terlalu keras hanya untuk makan siang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin karena itu saya menyebut warteg sebagai penyelamat di kota asing. Bukan penyelamat dalam arti besar dan heroik, tapi penyelamat kecil yang membuat hari-hari tetap bisa berjalan normal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Selain rasa, harganya bersahabat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu hal lain yang saya sadari di Jakarta yaitu harga. Bukan hanya makanan yang berbeda, tapi juga <a href=\"https:\/\/mojok.co\/video\/5-hal-ini-pantas-dilakukan-untuk-menikmati-uang-secara-bijak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cara kita memandang uang<\/a> berubah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Gunungkidul dan Jogja, saya terbiasa dengan jarak yang lebih \u201clonggar\u201d antara uang dan kebutuhan sehari-hari. Di Jakarta, jarak itu terasa lebih rapat. Bahkan. hal kecil seperti parkir bisa membuat saya berhenti sejenak dan menghitung ulang prioritas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah semua itu, warteg terasa seperti anomali yang menenangkan. Harga relatif masuk akal, pilihan banyak, dan tidak ada tekanan sosial apa pun di dalamnya. Tidak ada tuntutan untuk tampil \u201clayak\u201d, tidak ada standar estetika tertentu, tidak ada kesan bahwa kita harus menjadi seseorang yang berbeda hanya untuk bisa duduk dan makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin itu sebabnya warteg terasa sangat familier\u00a0 bagi saya. Karena ia tidak eksklusif, tidak berjarak, dan tidak memaksa orang untuk menjadi versi lain dari dirinya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mulai berpikir, mungkin makanan memang bukan sekadar soal rasa. Tapi, soal cara kita beradaptasi dengan tempat baru. Lidah ternyata punya cara sendiri untuk membaca kota. Dari makanan, kita bisa tahu apakah sebuah tempat terasa ramah atau tidak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Warteg membuat hidup di Jakarta tak begitu berat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jakarta, bagi saya, awalnya terasa asing. Bukan karena kotanya tidak baik, tapi karena ritme dan rasanya berbeda. Sementara Jogja, tempat saya tumbuh, terasa lebih lembut di lidah, lebih pelan, lebih \u201cmenerima\u201d. Dua kota itu seperti dua cara hidup yang berbeda, dan saya berada di tengah-tengahnya, mencoba menyesuaikan diri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, seiring waktu, saya tidak lagi sekaget dulu. Lidah saya mulai belajar. Tidak sepenuhnya berubah, tapi mulai bisa menerima. Saya tetap kangen <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliner-jogja-nggak-cocok-di-lidah-banyak-orang-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">rasa Jogja<\/a>, tapi saya juga mulai paham bahwa Jakarta tidak sedang \u201csalah rasa\u201d, hanya berbeda cara menyajikan kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah proses adaptasi itu, warteg tetap jadi titik aman. Tempat saya bisa berhenti sejenak dari semua perbedaan rasa itu. Tempat yang tidak menuntut saya untuk memilih menjadi orang Jakarta sepenuhnya, atau tetap menjadi orang Jogja sepenuhnya. Di warteg, saya cukup menjadi orang yang lapar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya berpikir, mungkin alasan warteg terasa begitu \u201caman\u201d bukan hanya karena makanannya, tapi karena orang-orang di dalamnya. Tidak ada percakapan yang berlebihan, tidak ada tuntutan untuk terlihat lebih sukses atau lebih sibuk dari orang lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua orang datang dengan tujuan yang sama sederhana: makan, mengisi energi, lalu kembali menjalani hari. Di situ saya merasa, untuk sesaat, semua orang setara tanpa perlu dijelaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Andry Setyawan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-pertama-kerja-di-jakarta-bikin-trauma\/\"><b><i>Pengalaman Pertama Merantau Kerja di Jakarta: Empat Hari Bolak-balik Tangsel-Jaktim Sudah Trauma.<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warteg jadi comfort food dan penyelamat orang kabupaten yang merantau ke Jakarta karena rasanya yang familier dan harganya yang terjangkau. <\/p>\n","protected":false},"author":3275,"featured_media":406168,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5281,529,115,12192,1418,5807],"class_list":["post-406048","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gunungkidul","tag-jakarta","tag-jogja","tag-kabupaten","tag-merantau","tag-perantau"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406048","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3275"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=406048"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406048\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":406171,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/406048\/revisions\/406171"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/406168"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=406048"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=406048"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=406048"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}