{"id":405566,"date":"2026-06-11T12:01:33","date_gmt":"2026-06-11T05:01:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=405566"},"modified":"2026-06-11T12:01:33","modified_gmt":"2026-06-11T05:01:33","slug":"prinsip-dasar-pelayanan-di-kantor-desa-kalau-bisa-lama-kenapa-harus-cepat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/prinsip-dasar-pelayanan-di-kantor-desa-kalau-bisa-lama-kenapa-harus-cepat\/","title":{"rendered":"Prinsip Dasar Pelayanan di Kantor Desa: Kalau Bisa Lama, Kenapa Harus Cepat?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warga desa yang sesekali masih harus mengurus surat pengantar, legalisir, atau urusan administrasi lainnya, saya beberapa kali mampir ke kantor desa. Dan entah kenapa, ada satu pengalaman yang hampir selalu terjadi berulang-ulang, yakni menunggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa memahami jika antrean memang panjang, sehingga harus menunggu lama. Masalahnya justru sebaliknya. Kadang saya datang dan hanya ada satu atau dua warga lain yang sedang mengurus sesuatu. Namun prosesnya tetap terasa lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya mengira mungkin saya sedang tidak beruntung. Barangkali memang sedang banyak pekerjaan. Tapi setelah beberapa kali datang, polanya ternyata hampir sama. Pun beberapa orang juga merasakan hal yang serupa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sana, banyak yang beranggapan bahwa prinsip pelayanan di kantor desa kui kalau bisa lama, kenapa dibuat cepat. Yah, sebuah kalimat satir yang cukup saya amini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kantor desa yang seakan introvert<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang paling membuat saya bingung sebenarnya bukan soal lamanya menunggu.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Saya masih bisa memahami kalau memang ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan terlebih dahulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya sering kali tidak ada komunikasi. Iya, jarang sekali ada yang menyapa atau menyambut. Ketika sedang dilayani pun demikian. Bahkan sekadar bilang, &#8220;Sebentar ya Pak&#8221; saja hampir tak pernah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil, tidak ada yang memberi informasi kalau berkas sedang diproses di kantor desa. Pokoknya duduk saja. Menunggu saja. Kalau beruntung, ada yang menghampiri. Kalau tidak, ya menunggu sampai merasa cukup percaya diri untuk bertanya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal menurut saya, pelayanan publik itu mirip ketika menerima tamu di rumah. Minimal ada sapaan. Ada tanda bahwa kedatangan orang tersebut disadari. Sebab, tidak ada yang lebih membingungkan daripada duduk sepuluh menit sambil bertanya-tanya apakah keberadaan kita diketahui atau tidak.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/masa-jabatan-kepala-desa-9-tahun-nggak-kapok-punya-pimpinan-nggak-becus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Masa Jabatan Kepala Desa 9 Tahun? Nggak Kapok Punya Pimpinan Nggak Becus?<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Warga tidak selalu menuntut cepat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh iya, meski semua orang mau serba cepat tapi saya yakin, untuk pelayanan, warga sebenarnya tidak selalu menuntut pelayanan super cepat di kantor desa. Kalau memang harus menunggu lima belas menit, ya tidak masalah. Kalau harus menunggu setengah jam pun kadang masih bisa dimaklumi. Asalkan ada penjelasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, itu kuncinya. Dan saya kira itu hal basic yang sangat mudah dilakukan. Misal, cukup bilang, &#8220;Maaf Pak, yang menangani sedang menyelesaikan berkas lain.&#8221; Atau &#8220;Mohon ditunggu sekitar sepuluh menit.&#8221; Selesai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalimat sederhana seperti itu sering kali jauh lebih menenangkan daripada slogan pelayanan prima yang dipasang besar-besar di dinding kantor. Karena yang membuat orang kesal sering kali bukan lamanya proses. Melainkan ketidakjelasan prosesnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mungkin perlu ada \u201cterima tamu\u201d di kantor desa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kadang membayangkan alangkah enaknya kalau kantor desa punya <a href=\"https:\/\/glints.com\/id\/lowongan\/front-desk-agent-adalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">satu meja penerima tamu<\/a>. Semacam orang yang menyambut warga yang datang. Cukup ada satu orang saja. Tugasnya hanya menanyakan keperluannya. Lalu mengarahkan harus ke mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mirip tugas satpam di bank pada umumnya. Dengan begitu warga tidak perlu duduk sambil menerka-nerka situasi. Jujur saja, beberapa kantor desa yang pernah saya datangi hanya ada karyawan (atau perangkat ya sebutannya?) berada di dalam ruangan. Sementara di ujung pintu masuk tak ada siapa-siapa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pelayanan itu soal komunikasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya paham menjadi perangkat desa juga tidak mudah. Pekerjaannya banyak. Administrasinya juga tidak sedikit. Tapi dari sudut pandang warga, pelayanan yang baik sering kali dimulai dengan komunikasi yang baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, warga yang datang ke kantor desa itu sebenarnya tidak perlu disambut yang gimana-gimana. Kami cuma mau diarahkan saja. Pun ketika sedang proses pemberkasan, kami hanya ingin tahu harus menunggu berapa lama. Dan anehnya, hal-hal sesederhana itu kadang malah tak pernah ada di sebuah pelayanan desa. Yah, aneh memang.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/microsoft-word-adalah-mimpi-buruk-pegawai-kelurahan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Microsoft Word Adalah Mimpi Buruk Pegawai Kelurahan: Digitalisasi Nyatanya Masih Sebatas Imajinasi<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak yang beranggapan bahwa prinsip pelayanan di kantor desa kui kalau bisa lama, kenapa dibuat cepat. Yah, satir yang bisa saya pahami.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":405597,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[33704,33705,33706],"class_list":["post-405566","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-kantor-desa","tag-perangkat-desa","tag-tugas-perangkat-desa"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405566","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=405566"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405566\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":405598,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405566\/revisions\/405598"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/405597"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=405566"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=405566"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=405566"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}