{"id":405394,"date":"2026-06-10T08:30:45","date_gmt":"2026-06-10T01:30:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=405394"},"modified":"2026-06-09T20:19:39","modified_gmt":"2026-06-09T13:19:39","slug":"10-hari-di-taiwan-bikin-sadar-indonesia-sudah-tertinggal-jauh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-hari-di-taiwan-bikin-sadar-indonesia-sudah-tertinggal-jauh\/","title":{"rendered":"10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh"},"content":{"rendered":"<p><em>Beberapa hari di Taiwan yang membuka mata saya.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peralihan musim semi ke musim panas menjadi momen istimewa bagi sebagian orang. Di saat itulah institusi pendidikan di beberapa negara melaksanakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">commencement<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rayakan-wisuda-secukupnya-tak-perlu-berlebihan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">perayaan wisuda<\/a> untuk mahasiswanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bertepatan dengan musim wisuda ini, kakak saya yang menamatkan studi magister di <a href=\"https:\/\/www.nccu.edu.tw\/index.php?Lang=en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">National Chengchi University<\/a> juga menamatkan studinya. Akhirnya, pada Mei hingga Juni ini saya melancong ke Taiwan untuk menghadiri wisudanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja saya begitu antusias menyambut perjalanan ini. Selain karena kali pertama saya menginjakkan kaki di Negeri Formosa, saya juga sangat penasaran dengan kehidupan di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat hari pertama sampai di Taiwan saya langsung disambut cuaca yang sangat terik, usut punya usut ternyata Taiwan sedang dilanda El Nino.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berjalan di luar ruangan rasanya mirip seperti daging wagyu yang lagi dipanggang di atas grill. Kelamaan di luar ruangan bisa overcook dan bikin kulit indonesia yang sudah sawo matang jadi tambah gosong.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Syukurnya, gelombang panas akibat El Nino hanya terjadi dua hari. Selebihnya, cuaca disana masih bisa ditolerir. Walau memang, suka berubah-ubah seperti sifat manusia, kadang dingin, hujan, bahkan berangin.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Healing sejenak di negara orang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama di sana saya benar-benar memanfaatkan waktu untuk menyegarkan pikiran. Bagaimana tidak? Sebagai warga negara Indonesia, tinggal di tanah air belakangan ini terasa kian melelahkan secara mental. Hari hari harus terpapar berita buruk akibat ulah kebijakan pemerintah, padahal survive di tengah kondisi ini juga jadi beban tersendiri bagi kita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, saya justru merasa sangat nyaman selama berada di Taiwan meskipun harus berhadapan dengan banyak aturan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama sepuluh hari di sana, ada sesuatu yang mengubah cara pandang saya dalam melihat kualitas hidup. Ternyata, kualitas hidup tidak selalu diukur dari hal-hal besar, melainkan dari berbagai hal kecil yang membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, hal sekecil itu justru tidak saya temukan saat berada di Indonesia. Kesenjangan inilah yang membuat kualitas hidup di Taiwan dan Indonesia terasa jauh berbeda.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Keamanan di ruang publik Taiwan rerjamin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika berada di tempat umum seperti di stasiun maupun halte bus, saya tidak pernah melihat orang menaruh tas backpack di depan. Selama di sana, saya juga mempraktikkan hal yang sama. Benar saja, tidak terjadi apa-apa bahkan di tengah keramaian sekalipun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda ketika di Indonesia, baru nunggu bus di terminal saja saya harus bergegas memindahkan tas backpack ke depan, tentu untuk alasan keamanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Transportasi umum di Taiwan lengkap<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Taiwan memiliki ragam pilihan transportasi, mulai dari sepeda sewa (UBike), MRT, taksi online, hingga bus. Rute-rute yang tersedia juga mampu menjangkau jarak jauh, sehingga sangat memudahkan kita untuk melakukan mobilitas di banyak tempat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keragaman transportasi ini juga dibarengi dengan tingkat keamanan yang tinggi, kebersihan yang terjaga, serta harga yang ramah di kantong.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pengguna transum, tentu saya merasa sangat dimanjakan. Bahkan, meski beberapa kali menaiki <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mrt-jakarta-punya-kekurangan-yang-bikin-saya-malas-naik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">MRT<\/a> dan bus di jam sibuk (rush hour), saya tidak pernah takut (amit-amit) terkena pelecehan seksual. Walaupun harus tetap waspada, tapi perasaan aman selalu melekat ketika menggunakan transportasi umum di sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Nggak banyak tempat sampah, tapi bersih<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu hal yang membuat saya harus beradaptasi ketika sampai di Taiwan adalah keharusan untuk menyimpan sampah saat bepergian. Hal ini karena Taiwan sangat minim tempat sampah di ruang publik.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, meski tidak banyak tempat sampah, sudut sudut di Taiwan sangat bersih. Nyaris nggak ada sampah berserakan di jalanan maupun trotoar. Bayangin aja kalau di Indonesia, ada lahan kosong aja bisa jadi wahana baru alias tempat pembuangan sementara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski di Taiwan minim pembuangan sampah, tapi pemerintah dan masyarakat sana sangat bijak dalam mengatur persoalan sampah. Begitu alunan musik khas dari truk sampah mulai terdengar, masyarakat akan bergegas keluar rumah dan mengantre untuk membuang sampah yang telah mereka pilah. Rupanya ini yang membuat Taiwan jadi negara teratas di dunia dalam hal pengelolaan sampahnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Public space Taiwan inklusif<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Taiwan memiliki banyak public space yang ramah bagi semua kalangan, mulai dari lansia, anak-anak, orang dewasa, hingga hewan peliharaan. Jika ingin rehat dari kepenatan, kita cukup pergi ke taman terdekat untuk menikmati udara segar, melihat berbagai burung cantik mendarat sambil berkicau merdu, juga doggy- doggy lucu peliharaan tuan dan puan yang berjalan tanpa gonggongan yang mengganggu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa tenang ini tidak hanya tercipta dari kondisi sekitar, tetapi juga dari perilaku masyarakatnya. Saat berada di tempat umum, masyarakat di sana tidak pernah berbicara dengan nada tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keteraturan tersebut juga tampak dari bagaimana mereka menata area komersial. Di area public space<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">saya jarang menemui pedagang keliling. Kalaupun ada, jumlahnya bisa dihitung jari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lucunya lagi, saya tidak pernah merasa iba untuk mengasihani para pedagang tersebut. Penampilan mereka sangat rapi, bahkan ponsel yang mereka gunakan bermerek Apple versi tinggi. Mungkin Ini kali ya gambaran <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/dracin-menyelematkan-hidup-perempuan-dewasa-menghadapi-realita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">CEO yang menyamar<\/a> wkwkwk.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Pedestrian aman, hirarki jalan ditaati<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama di Taiwan saya merasakan betul menyeberang tanpa rasa khawatir. Meski pengendara di sana melaju dengan kecepatan kencang, mereka tidak pernah berusaha menyerobot pelican cross ketika lampu hijau pejalan kaki sudah menyala.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, ketika kita menyeberang di jalur yang tidak dilengkapi pelican cross, para pengendara di sana akan langsung memberi ruang pejalan kaki terlebih dahulu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus terang sebagai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasib-pejalan-kaki-di-jogja-begitu-menyedihkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pejalan kaki<\/a> saya merasa sangat dihargai haknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandingkan ketika di Indonesia, para pengendara di jalan cenderung tergesa-gesa tanpa memperdulikan keselamatan pejalan kaki. Bagi mereka, yang terpenting bisa sampai ke tujuan secepat mungkin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalanan di Taiwan nggak hanya di desain untuk pengguna kendaraan saja, alias ramah pejalan kaki. Jadi, jangan khawatir kalau mau bepergian jalan kaki di sana. Sebagai pejalan kaki, kita difasilitasi dengan akses trotoar yang luas tanpa ada kepulan polusi dari knalpot , apalagi suara bising knalpot brong yang sering kita temui di tanah air.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih di Indonesia mendapatkan fasilitas yang memadai untuk menunjang kenyamanan bersama, kita justru harus terus berkompromi dengan keterbatasan sistem publik yang ada.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang pasti, sepulang dari Taiwan saya justru mengalami reverse culture shock di negeri sendiri. Setelah sempat menjalani kehidupan dengan aturan yang jelas, kembali ke realitas sehari-hari di tanah air kian menyadarkan saya kalau kualitas hidup di Indonesia\u00a0 tertinggal jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Telaga El Kautsar Rahmatania<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nekat-kuliah-s3-taiwan-berujung-syok-tapi-tidak-menyesal\/\"><b><i>Nekat Kuliah S3 di Taiwan Berujung Syok, tapi Saya Merasa Makin Kaya sebagai Manus<\/i><\/b><\/a><b><i>ia\u00a0<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berkunjung ke Taiwan selama 10 hari saja sudah cukup untuk menyadarkan saya kalau Indonesia sudah jauh tertinggal dari banyak sisi.<\/p>\n","protected":false},"author":3273,"featured_media":405409,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[31,1186,19753,2312],"class_list":["post-405394","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-indonesia","tag-luar-negeri","tag-taiwan","tag-wisuda"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405394","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3273"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=405394"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405394\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":405412,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405394\/revisions\/405412"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/405409"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=405394"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=405394"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=405394"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}