{"id":405162,"date":"2026-06-08T13:07:40","date_gmt":"2026-06-08T06:07:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=405162"},"modified":"2026-06-08T13:07:40","modified_gmt":"2026-06-08T06:07:40","slug":"6-siasat-bertahan-kelas-menengah-saat-ekonomi-nggak-waras","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-siasat-bertahan-kelas-menengah-saat-ekonomi-nggak-waras\/","title":{"rendered":"6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ekonomi saat ini benar-benar bikin kita sebagai kelas menengah jadi waswas. Ironisnya, kita adalah tulang punggung ekonomi bangsa ini. Lihat aja kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB, mencapai 54,36 persen.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kalau pertumbuhan ekonomi kuartal I tahun ini 5,6 persen, lebih dari separuhnya datang dari kita-kita yang doyan belanja ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekonomi sulit bertumbuh kalau kita kelas menengah tidak belanja. Persoalannya, kalau belanja terus, nasib kita benar-benar di ujung tanduk. Bahkan, saking sulitnya kondisi ekonomi saat ini, makan di warteg saja perlu strategi. Harus mengorbankan lauk yang mana dulu nih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah kelas menengah atau orang bergaji pas-pasan di negeri ini memang dilematis. Terlalu mampu untuk dianggap miskin, tapi masih terlalu jauh untuk disebut kaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelihatannya sih aman-aman saja karena punya kerjaan dan digaji, tapi ketika satu aja masalah keuangan datang, misal motor rusak atau kontrakan atau kos-kosan naik, pusingnya bisa bikin nggak doyan makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah realita yang harus kita hadapi. Kita adalah tulang punggung negeri ini, tapi kita juga yang paling rentan. Maka dari itu, ada beberapa saran soal strategi berhemat yang nggak melulu harus mengurangi jatah lauk di warteg. Mungkin bisa dicoba untuk menjalani kehidupan di negeri yang lagi sakit ini.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kelas menengah sebaiknya tentukan batas pengeluaran sebelum makan di warteg<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kondisi ingin berhemat, sebaiknya hindari untuk langsung memilih lauk tanpa menghitung ketika di warteg. Ada baiknya kalian tentukan terlebih dahulu batas maksimal biaya yang dikeluarkan untuk sekali makan di warteg.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, maksimal kisaran Rp10.000\u2013Rp15.000. Dengan biaya segitu, kalian sudah bisa mendapatkan komposisi makanan berupa nasi, lauk berprotein, satu jenis sayur, dan minuman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Khusus lauk, saya sendiri lebih memilih mengambil dua tempe goreng balok dan satu telur ketimbang ayam yang harganya per potong bisa Rp7.000-Rp100.000. Yang penting lagi, jangan sungkan untuk bertanya harga dari tiap lauk.<\/span><\/p>\n<p><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kelas-menengah-pemegang-nasib-paling-sial-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca juga Nasib Dianggap Jadi Warga Kelas Menengah: Dianggap Banyak Uang, Tak Pernah Dapat Bantuan, tapi Hidupnya Justru Paling Sering Nelangsa.<\/a><\/em><\/p>\n<h2><b>#2 Beli lauk dan sayurnya saja, nasi masak sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan sangat membantu bagi mereka yang masih sendiri dan ngekos ketika punya penanak nasi. Sebab, pengeluaran untuk makan bisa dikurangi dengan masak nasinya sendiri. Jadi, ke warteg cukup beli lauknya saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara ini sangat efektif karena bisa memangkas pengeluaran. Beli tempe 4, telurnya 2, paling habis nggak lebih dari Rp15.000, dan itu bisa dimakan untuk siang dan malam. Saya biasanya menyiasatinya dengan membeli timun untuk tambahan lalapannya. Jadi tetap ada sensasi segarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, pilihan membeli lauk juga lebih realistis ketimbang memaksakan diri memaksa tiap harinya. Pengeluaran mungkin lebih berkurang ya, tapi kita semua tahu kalau kelas menengah kayak kita nggak punya banyak waktu senggang. Kalau pun ada, lebih banyak digunakan untuk rebahan karena sudah kadung capek.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Kelas menengah sebaiknya mengurangi pesan makanan online<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kerjanya kantoran yang kawasannya macam <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kerja-di-scbd-keren-tapi-bikin-stres\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">SCBD<\/a>, ada baiknya ikutin cara kedua, yaitu masak nasi sendiri, beli lauknya di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ayam-di-warteg-itu-cuma-pajangan-bukan-menu-yang-seharusnya-dipesan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">warteg<\/a>, dan jadikan bekal. Atau bisa beli lauknya saja di warteg sekitar kantor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebisa mungkin hindari pesan makan melalui aplikasi. Meskipun ada kadang promonya, tapi percayalah, biayanya akan lebih mahal dari pada beli langsung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harganya mungkin murah, cuma Rp15.000, tapi ada ongkirnya, biaya layanan, kadang ditambah biaya parkir. Akhirnya bisa jadi malah mengeluarkan biaya dua kali lipat dari estimasi awal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, cara main pemberlakuan promo di online shop umumnya adalah dengan menaikkan harga dari harga asli kemudian didiskon. Harganya yang diskon tersebut jadinya adalah harga aslinya. Kalau mau pesan makan online, ya setidaknya batasi hanya seminggu sekali. Tidak perlu tiap hari.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Sedia makanan dan minuman penyelamat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kebiasaan kelas menengah saat pulang kerja dalam keadaan lelah, lapar, dan tidak menemukan sesuatu yang dimakan, maka biasanya akan buru-buru pesan online. Ya kan? Ngaku kalian!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membuka aplikasi pesan antar memang mudah daripada harus repot-repot mampir ke warung. Tapi, di situlah letak berbahayanya. Sebab, makin lama, itu justru bikin pengeluaran jadi nggak terkendali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menyiasati itu, saya biasanya membeli makanan dan minuman penyelamat. Nggak perlu membayangkan makanan atau minuman yang mewah-mewah. Cukup beli saja mulai dari bahan makanan berat seperti telur, tempe, abon, atau mie. Semua masakan itu bisa diolah tanpa ribet.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian makanan ringan mulai dari biskuit malkist yang murah, kalau mau yang agak rendah gula, beli wafer yang isian selusin. Itu jauh lebih murah ketimbang beli satuan. Selain, itu bisa juga beli kripik-kripikan yang tanpa merk. Sering dijumpai di toko snack kiloan. Oh ya, kalian juga bisa nyetok buah-buahan. Banyak kok buah yang murah. Contohnya pisang atau salak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau khusus minuman, saya pribadi lebih sering nyetok teh dan milo. Minuman ini bisa diseduh dan diminum sambil nyelesain lemburan dari kantor kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua ini sangat membantu untuk menekan pengeluaran para kelas menengah. Bayangkan biaya Rp50.000 yang biasa dikeluarkan untuk satu kali beli makan online, setara dengan diantaranya telur 2 kg, 14 bungkus mie instan, kripik Rp10.000-an 5 bungkus, 2 sampai 3 lusin wafer, atau beberapa bungkus biskuit malkist.<\/span><\/p>\n<p><em><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tolong-normalisasi-pelayanan-publik-buka-di-akhir-pekan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Baca juga Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang.<\/a><\/em><\/p>\n<h2><b>#5 Gunakan langganan digital secara bergantian<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian lihat per satuan, berlangganan layanan digital itu kelihatan murah. Sebab masing-masing hanya puluhan ribu. Tapi, coba kalau diakumulasikan mulai dari langganan streaming film, youtube, music, game, aplikasi olahraga, atau layanan digital lainnya, maka hasilnya bisa ratusan ribu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa, saya sendiri menggunakan strategi langganan yang bergantian. Misalnya, untuk streaming film, saya akan berlangganan satu bulan untuk saja untuk menikmati series yang sedang diincar. Khusus untuk streaming film, saya menyarankan untuk model patungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, Netflix, berlangganan saja yang Rp120.000, tapi berbarengan 2 orang, berarti Rp60.000 per orang. Enaknya di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Netflix\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Netflix<\/a> yang paket Rp120.000, selain bisa digunakan lebih dari 2 device, videonya juga bisa didownload dan ditonton secara offline, bahkan saat sudah tidak berlangganan. Jadi dengan uang Rp60.000, kalian bisa menikmati Netflix 2 bulan penuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain layanan streaming film, hal yang sama juga saya berlakukan untuk langganan lain, misalnya antara layanan edit video Capcut dan layanan edit foto Adobe Lightroom. Bulan ini Capcut, bulan selanjutnya Adobe Lightroom.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan lupa juga memeriksa pembayaran otomatis di Google Play, Play Store, dompet digital, dan kartu debit. Ini untuk memastikan tidak ada layanan digital yang nyedot uang kalian secara rutin tanpa sadar.<\/span><\/p>\n<h2><b>#6 <\/b><b>Kelas menengah b<\/b><b>agi uang menjadi anggaran mingguan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengatur uang untuk sebulan penuh memang kelihatannya sederhana, tapi praktiknya sulit. Saldo awal bulan biasanya sangat menggoda karena kelihatan banyak. Pokoknya apa saja beli. Diajak nongkrong juga ayok. Tapi, ketika akhir bulan, hidup jadi nelongso.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, cara paling mudah adalah dengan membagi anggaran menjadi empat bagian mingguan. Misalnya, tersedia uang Rp1,6 juta untuk makan, transport, dan kebutuhan harian. Maka pecah anggaran itu untuk 4 minggu, artinya ada sekitar Rp400.000 per minggu sebagai batas pengeluaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini sering saya lakukan dan sangat membantu dalam berhemat. Bahkan, kalau masih ada sisa uang di akhir minggu dari Rp400.000 itu, ya tinggal dipakai untuk beli makanan yang disukai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, semua strategi di atas memang nggak bisa menjamin kita lepas sepenuhnya dari keruwetan kondisi ekonomi saat ini. Tapi, paling tidak, membuat kita bisa bertahan dan tetap waras. Bukankah itu yang diinginkan pemerintah? Warganya waras, supaya tetap berbelanja, daya beli pun menguat, supaya pertumbuhan ekonomi bisa terus dipamerkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita yang bekerja, kita yang berhemat, kita yang putar otak biar tetap waras dengan tetap dipajaki. Sementara di sisi lain mereka begitu bangga dengan angka statistik bahwa ekonomi kita baik-baik saja. Semprul!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-kelas-menengah-dan-saya-beneran-pengin-kaya\/\"><b><i>Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah kondisi ekonomi yang nggak pasti, ada beberapa yang bisa dilakukan kelas menengah untuk tertap waras dan bertahan. <\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":405170,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[1986,4311,26388],"class_list":["post-405162","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-ekonomi","tag-kelas-menengah","tag-kondisi-ekonomi"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405162","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=405162"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405162\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":405171,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405162\/revisions\/405171"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/405170"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=405162"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=405162"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=405162"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}