{"id":405116,"date":"2026-06-08T11:43:34","date_gmt":"2026-06-08T04:43:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=405116"},"modified":"2026-06-08T11:43:34","modified_gmt":"2026-06-08T04:43:34","slug":"organisasi-mahasiswa-tak-ada-bedanya-dengan-penitipan-balita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/organisasi-mahasiswa-tak-ada-bedanya-dengan-penitipan-balita\/","title":{"rendered":"Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Organisasi mahasiswa sekarang tak lebih dari tempat penitipan balita. Bedanya, balita-balita yang ini badannya sudah bongsor<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengasuh anak balita itu asli, ujian kewarasan yang sesungguhnya. Saya paham betul rasanya. Soalnya saya sering ketiban pulung dititipin dua keponakan yang masih kecil-kecil. Kalau sudah waktunya menjaga mereka, beuh, kepala rasanya mau pecah dan kewalahannya setengah mati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, lagi tenang-tenang, mereka bisa mendadak teriak dan menangis histeris tanpa sebab yang jelas. Belum lagi drama ganti popok yang aromanya aduhai banget. Intinya, pusing dan capeknya minta ampun deh. Menghadapi balita memang butuh stok sabar yang tidak sedikit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi lucunya, memori melelahkan saat ngemong dua bocah ingusan itu mendadak terputar lagi seperti kaset rusak saat saya masuk kuliah. Ya, benar, saya sedang membicarakan dunia ormawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang sudah empat tahun berkecimpung di organisasi mahasiswa dan sempat merasakan tiga jabatan fungsionaris yang berbeda-beda, saya malah menemukan realitas yang jauh lebih menyebalkan. Kebanyakan anak ormawa yang saya temukan ternyata tak lebih dari bayi gede. Mentalnya beda tipis dengan balita. Rewelnya minta ampun, dikit-dikit mengeluh, dan punya mood yang labilnya tidak karuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya, alur organisasi yang harusnya menjadi ruang diskusi keren khas kaum intelektual, malah berubah fungsi jadi miniatur sirkus emosi anak usia dini.<\/span><\/p>\n<h2><b>Organisasi mahasiswa berubah jadi tempat penjagaan mood<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kebetulan pernah menduduki jabatan PSDM saat di organisasi dulu. Sebuah divisi yang di atas kertas terlihat mentereng banget. Tugasnya pun tidak jauh-jauh dari mengurusi keaktifan, mengurai problematika internal, hingga menengahi konflik antaranggota. Tapi, coba tebak apa yang terjadi saat saya menjalankan peran ini? Yap, saya mengalami dejavu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya seperti dilempar kembali ke masa-masa saat momong dua adik keponakan saya. Departemen PSDM yang idealnya juga fokus pada kaderisasi dan pengembangan kualitas intelektual keanggotaan, malah berakhir tragis menjelma jadi departemen \u201cPenjaga Suasana dan Mood Anggota\u201d. Sungguh miris, sebuah penurunan fungsi yang benar-benar menguras waras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyatanya, urusan mood di ormawa hari ini sudah sampai pada tahap yang tidak masuk akal. Para anggotanya memiliki sensitivitas emosional yang setara dengan balita yang sedang tumbuh gigi. Bayangkan aja, hanya karena diingatkan tenggat waktu tugas di WhatsApp dengan akhiran tanda titik, seorang fungsionaris bisa langsung bad mood seharian dan berprasangka buruk kalau ketua divisinya sedang ngamuk-ngamuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengkritik kinerja ampas mereka pun tidak bisa lagi langsung jleb ke inti masalah. Saya harus memakai metode sandwich yang super duper tebal. Dipuji dulu setinggi langit, dielus-elus egonya, dimasukkan kritik halusnya secara hati-hati, lalu ditutup dengan kalimat motivasi. Salah memilih satu kata saja, risikonya langsung dicap &#8220;toksik&#8221; atau &#8220;nggak peka&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil, saat menjadi PSDM, tidak jarang saya juga beralih profesi jadi sales emosi yang terus membujuk mereka dengan janji-janji manis layaknya menawari balita permen. &#8220;yuk guys bentar lagi selesai, nanti habis ini kita agendakan makan-makan atau jalan-jalan ya&#8221; Tanpa adanya iming-iming manis semacam ini, saya jamin mesin organisasi pasti mogok total. Tidak ada yang mau bergerak tanpa dimanja dulu. Tempat yang katanya wadah pembentukan calon pemimpin bangsa ini nyatanya hanya dipenuhi orang-orang moodswing dan manja.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wajar-kalau-mahasiswa-mikir-dua-kali-sebelum-masuk-organisasi-mahasiswa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Wajar Banget kalau Mahasiswa Sekarang Mikir 2 Kali Sebelum Masuk Organisasi Mahasiswa<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Hobi tantrum dan membesar-besarkan masalah sepele<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingat sekali tingkah konyol keponakan saya yang baru berumur 4 tahun. Suatu hari, saat asyik bermain lato-lato, mainan itu mendadak lepas dari genggamannya. Detik itu juga dia langsung menangis tantrum, menjerit, hingga membanting barang di sekitarnya. Menyebalkan, memang. Tapi karena pelakunya balita, kelakuan itu masih bisa dimaafkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Celakanya, drama tantrum ala bocah ingusan ini juga dipraktikkan secara fasih oleh manusia-manusia ormawa. Masalah sepele yang harusnya selesai dalam lima menit lewat komunikasi waras, sengaja digoreng dulu biar terlihat rumit, pelik, dan eksistensial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh paling komikal jelas terjadi saat rapat pleno. Forum resmi yang idealnya menetapkan keputusan strategis, malah melorot kelasnya jadi taman kanak-kanak yang hobi buang-buang waktu. Bayangkan, perdebatan memilih diksi antara kata &#8220;dan&#8221; atau &#8220;atau&#8221; dalam draf anggaran dasar saja bisa memakan waktu berjam-jam sampai urat leher tegang. Bahkan, perkara tanda baca titik koma pun sukses membuat forum di pending berkali-kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, itu cuma masalah remeh yang harusnya bisa langsung diketok palu tanpa perlu menunda jalannya sidang lo. Tapi ya mau bagaimana lagi, isi forumnya saja bocah tantrum semua.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, jangan lupakan juga drama absensi harian. Perkara sehari dua hari tidak terlihat batang hidungnya di sekre, urusannya bisa panjang. Alih-alih menghubungi langsung untuk bertanya, anggota lain justru sibuk menggoreng ketidakhadiran itu jadi bahan gibah di grup whatsapp berhari-hari. Sebuah bakat alami yang luar biasa dalam membesar-besarkan hal remeh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal solusi untuk membereskan kekacauan ini sangat simpel lo. Tinggal diskusikan, japri langsung anggota yang menghilang, lalu tanyakan kendalanya. Beres. Tapi sayang, cara praktis yang langsung menyelesaikan masalah itu jelas tidak berlaku di sini. Anak ormawa kebanyakan tampaknya sudah mengidap adiksi drama akut. Kalau tidak ada masalah sepele yang bisa didramatisasi, hidup mereka terasa hambar.<\/span><\/p>\n<h2><b>Layaknya balita yang gagap bicara, anak ormawa pun tak jauh berbeda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang bilang balita gampang menangis karena mereka belum memiliki kemampuan untuk mengungkapkan emosi atau kebutuhannya lewat kata-kata. Kalaupun bisa, bahasanya pasti masih terbata-bata. Jadi, saat lapar, lelah, sakit, atau bosan, tangisan adalah satu-satunya bahasa mereka. Dan itu memang benar, dan saya juga merasakannya saat merawat adik keponakan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, mari kita tengok fenomena ini pada makhluk-makhluk ormawa yang di KTP-nya sudah berumur 20-an tahun. Faktanya, setali tiga uang. Banyak anak ormawa yang saya temui sebenarnya &#8220;tidak bisa bicara&#8221;. Mereka gagap dalam berargumen, terbata-bata, dan payah setengah mati dalam public speaking. Struktur narasinya kacau dan penyampaiannya berantakan. Ditambah lagi, begitu menghadiri forum resmi atau berargumen langsung di depan umum, mental mereka mendadak mengkeret dan lidahnya kelu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bahkan pernah menyaksikan seorang calon Wakil Presiden BEM kampus gagap luar biasa saat memaparkan visi misinya. Dia sama sekali tidak bisa lepas dari smartphone demi menyontek teks penjelasan sepanjang acara. Parahnya lagi, sudah menyontek pun narasinya tetap kacau balau. Aneh kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Visi misi buatan sendiri, tetapi gagal total dipahami oleh otak sendiri. Apalagi ini sekelas calon wakil presiden mahasiswa yang harusnya jadi representasi intelektual. Dampaknya, video amatir saat dia gelagapan langsung digoreng netizen di mana-mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, eks organisasi yang pernah saya naungi dulu pun sama saja. Sekarang, eksekusi program kerja mereka sering kali kacau balau. Penyebabnya konyol. Mereka tidak punya nyali untuk sekadar beradu argumen dengan sesama pengurus. Lucunya, orang-orang di dalamnya pun paling hobi koar-koar soal jargon \u201ckomunikasi yang baik\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa mereka nggak sadar ya kalau pola komunikasi internal mereka sendiri sebenarnya hancur berantakan? Lagi-lagi, persis seperti balita, mereka masih gagap dalam berbicara. Dan begitu menemui ketidaknyamanan, senjata pamungkas mereka hanyalah merajuk atau menghilang. Sebuah jalan ninja yang kekanak-kanakan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Layaknya balita yang menangis saat dimarahi, anak ormawa pun tak tahan dikritik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua pasti suda tau, balita itu tidak boleh dimarahi secara keras karena mental mereka belum siap. Pada usia dini, otak mereka sedang berkembang untuk membangun rasa percaya diri. Ketika dimarahi, ego mereka yang super rapuh akan mengartikan hal tersebut sebagai penolakan total terhadap eksistensi dirinya, bukan perbuatannya. Itulah kenapa balita akan langsung menangis sesenggukan saat dibilang \u201ckamu nakal\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sungguh mengocok perut ketika mentalitas kaca yang gampang ambyar ini justru dipelihara oleh mahasiswa berkepala dua. Harusnya, usia 20-an tahun adalah fase menumbuhkan rasa percaya diri yang matang. Di usia ini, mereka semestinya punya kemandirian berpikir dan kulit mental yang tebal sebagai modal menghadapi kerasnya dunia nyata setelah lulus nanti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kenyataannya malah sebaliknya, kebanyakan anak ormawa hari ini memaknai kritik objektif sebagai &#8220;kebencian personal&#8221; atau pembunuhan karakter. Saya bahkan pernah mendapat balasan super konyol saat mengkritik kinerja seorang pengurus organisasi, dan direspons dengan \u201cya aku yang menjalankan, ya terserah aku\u201d. Sebuah logika kacau yang bikin dahi saya mengkerut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka malah menjelma jadi golongan paling antikritik yang alergi terhadap evaluasi. Mending kalau kerjanya becus, lah ini sudah jauh dari kata becus, tapi baperannya minta ampun. Lucunya, di balik kebaperan akut itu, mereka merasa paling benar dan paling revolusioner di muka bumi hanya karena kebetulan sudah menamatkan buku Madilog atau rajin mengutip kalimat <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tan_Malaka\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tan Malaka<\/a> di takarir Instagram.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mental balita dalam tubuh mahasiswa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini tidak lahir dari tendensi bahwa saya orang paling sempurna dalam berorganisasi. Saya pun pernah melakukan beberapa kesalahan saat berada di sana. Ini hanya murni keluh kesah dari seorang yang pernah sebegitu mencintai organisasi mahasiswa, tapi semangatnya berulang kali dipatahkan oleh realitas lingkungan yang kekanak-kanakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, mari kita bercermin. Jika esensi dari organisasi mahasiswa hari ini hanyalah tempat memanjakan ego yang rapuh, memelihara kebaperan, dan mengasah keahlian merajuk, segeralah sadar diri. Silakan lipat jargon &#8220;agen perubahan&#8221; itu rapat-rapat. Masukkan ke kantong plastik, lalu buang ke tempat sampah. Jargon itu sudah kedaluwarsa. Sama sekali tidak cocok dengan mentalitas kalian hari ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, mengelola ormawa hari ini tidak lagi seperti menggembleng calon pemimpin masa depan. Narasi keren itu sudah bergeser menjadi urusan yang lebih melelahkan. Menjadi fungsionaris hari ini pun juga tak lebih dari sekadar menjadi baby sitter di tempat penitipan anak. Kita dituntut memahami mood yang labil, serta wajib menebak keinginan anggota yang hobinya diam dan merajuk saat ada masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironis, sekaligus menggelikan. Organisasi mahasiswa sekarang tak lebih dari tempat penitipan balita. Bedanya, balita-balita yang ini badannya sudah bongsor. Sebagian sudah berkumis, gemar memakai PDH, tapi kalau argumennya mentok masih suka tantrum dan minta ditimang-timang. Namun, setidaknya saya masih bisa bersyukur. Untungnya, balita-balita jenis ini tidak perlu digantikan popoknya.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/organisasi-kampus-dan-budaya-sok-sibuk-yang-menyebalkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Organisasi Kampus dan Budaya Sok Sibuk yang Menyebalkan dari Anggotanya, padahal Menghasilkan Sesuatu Saja Tidak<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Organisasi mahasiswa sekarang tak lebih dari tempat penitipan balita. Bedanya, balita-balita yang ini badannya sudah bongsor.<\/p>\n","protected":false},"author":3043,"featured_media":348908,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[921,6342,13927,4623],"class_list":["post-405116","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kampus","tag-organisasi-mahasiswa","tag-ormawa","tag-tan-malaka"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405116","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3043"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=405116"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405116\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":405156,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405116\/revisions\/405156"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/348908"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=405116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=405116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=405116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}