{"id":405019,"date":"2026-06-08T12:03:16","date_gmt":"2026-06-08T05:03:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=405019"},"modified":"2026-06-08T12:03:16","modified_gmt":"2026-06-08T05:03:16","slug":"4-saran-dari-warlok-jogja-untuk-para-pendatang-biar-cepet-betah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-saran-dari-warlok-jogja-untuk-para-pendatang-biar-cepet-betah\/","title":{"rendered":"Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja mungkin salah satu daerah yang paling ramah terhadap pendatang. Mau datang dari Jakarta, Surabaya, Madura, Lampung, Medan, sampai Papua, NTT. Semuanya bisa hidup berdampingan di sini tanpa banyak masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin karena sudah sejak lama menjadi <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-kota-pelajar-nggak-ramah-mahasiswa-yang-baru-lulus\/\">kota pelajar<\/a>. Setiap tahun ada ribuan orang baru datang untuk kuliah, bekerja, atau sekadar mencari suasana hidup yang berbeda. Warga lokal pun sudah terbiasa hidup berdampingan dengan orang dari berbagai daerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ada beberapa kebiasaan yang menurut saya sering membuat warga lokal sedikit mengernyitkan dahi. Bukan karena kami membenci pendatang, melainkan karena ada perbedaan budaya yang cukup mencolok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau boleh nitip pesan, ada 4 hal kecil yang sebaiknya diperhatikan oleh pendatang.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-itu-emang-romantis-tapi-buat-pendatang-dan-turis-aja\/\">Jogja Itu Emang Romantis, tapi buat Pendatang dan Turis Aja sementara Untuk Warga Sendiri Malah Terasa Menyiksa<\/a><\/p>\n<h2><b>Tolong jangan panggil orang dengan sebutan &#8220;cuk&#8221;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya paham betul bahwa bagi sebagian orang Jawa Timur, khususnya wilayah Arekan, kata &#8220;cuk&#8221; bisa menjadi sapaan akrab. Masalahnya, konteks budaya di Jogja berbeda. Untuk sebagian dari kami, kata tersebut terdengar kasar. Bahkan bagi sebagian orang, sapaan itu bisa terdengar seperti sedang mengajak ribut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itulah saya pribadi selalu merasa tidak nyaman ketika ada orang yang baru kenal beberapa menit lalu tiba-tiba memanggil, &#8220;Cuk!&#8221; Dalam hati saya langsung berpikir, &#8220;Lho, kita ini sudah akrab sejak kapan?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sesama perantau Jawa Timur mungkin tidak masalah. Tapi, ketika berinteraksi dengan warga lokal, rasanya lebih aman menggunakan sapaan yang lebih netral.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan normalisasi kata \u201canjir\u201d di jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang sekarang terbiasa mengatakan kata \u201canjir\u201d. Yang jelas, menurut saya, nggak cocok untuk Jogja. Bukan berarti kami ini merasa sok suci. Buat saya, kata tersebut terasa meresahkan dan tidak sopan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun di Jogja ini juga punya beberapa kata umpatan seperti \u201casu\u201d, \u201cbajingan\u201d, &#8220;celeng&#8221;, dan lain sebagainya, tidak layak kata \u201canjir\u201d juga ditambahkan. Kata-kata umpatan yang khas Jogja saja tidak layak, apalagi kata-kata umpatan lainnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan kaget kalau orang Jogja bilang &#8220;aku&#8221; dan &#8220;kamu&#8221;<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya beberapa teman dari Jakarta yang awal-awal tinggal di Jogja mengaku merasa aneh mendengar percakapan sehari-hari warga lokal. Mereka heran kenapa laki-laki dan perempuan yang bahkan tidak punya hubungan spesial bisa saling memanggil <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-jakarta-baperan-panggilan-aku-kamu-dikira-pdkt\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">&#8220;aku&#8221; dan &#8220;kamu&#8221;<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian orang Jakarta, penggunaan &#8220;aku-kamu&#8221; kadang identik dengan hubungan yang lebih dekat. Sementara di Jogja, itu hanyalah bahasa Indonesia sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkait kata \u201caku-kamu\u201d, kami tidak sedang PDKT. Kami juga tidak sedang menyusun skenario menuju pelaminan, tapi cuma sedang berbicara biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, pendatang dari Jakarta tidak perlu memaksakan diri memakai &#8220;lo-gue&#8221; ketika berbicara dengan warga lokal. Sebaliknya, jangan pula merasa aneh ketika mendengar orang Jogja menggunakan &#8220;aku-kamu&#8221;.<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-itu-aslinya-murah-tapi-jadi-mahal-gara-gara-pendatang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Itu Aslinya Murah, tapi Jadi Mahal Gara-gara (Gaya Hidup) Pendatang yang Bikin Kota Ini Nggak Lagi Semurah Itu<\/a><\/p>\n<h2><b>Biasakan permisi kalau melintasi di depan orang dan jangan ngebut di jalan kampung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada satu hal yang menurut saya paling penting, ini jawabannya. Jalan kampung di Jogja banyak yang sempit, banyak anak kecil bermain, dan orang tua berjalan kaki. Kalau sore, malah banyak warga yang sedang duduk santai di depan rumah. Karena itu, ketika masuk kampung, kurangi kecepatan kendaraan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, warga Jogja juga terbiasa dengan budaya permisi. Ketika melewati orang yang sedang berdiri atau duduk di jalan kampung, biasanya akan terdengar ucapan &#8220;ndherek langkung&#8221;, &#8220;<a href=\"https:\/\/radarjogja.jawapos.com\/unik\/2504170056\/nyuwun-atau-nuwun-sewu-ini-empat-etika-yang-tidak-tertulis-di-yogyakarta\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nuwun sewu<\/a>&#8220;, atau setidaknya &#8220;permisi&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak mengatakan bahwa semua pendatang itu tidak sopan dan tidak menghargai Jogja. Bukan, bukan seperti itu maksud saya. Banyak pula pendatang yang justru sangat mudah beradaptasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, semakin lama saya tinggal di sini, saya semakin percaya bahwa hidup berdampingan bukan hanya soal datang dan menetap. Ada juga proses saling memahami kebiasaan satu sama lain. Dan bagi saya, kemampuan menyesuaikan diri itulah yang membuat seseorang benar-benar menjadi bagian, bukan sekadar tinggal di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Supriyadi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/urban\/pendatang-di-jogja-jadi-kambing-hitam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Nasib Menjadi \u201cPendatang\u201d di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja mungkin salah satu daerah yang paling ramah terhadap pendatang. Mau datang dari Jakarta, Surabaya, Madura, Lampung, Medan, sampai Papua, NTT. Semuanya bisa hidup berdampingan di sini tanpa banyak masalah. Mungkin karena sudah sejak lama menjadi kota pelajar. Setiap tahun ada ribuan orang baru datang untuk kuliah, bekerja, atau sekadar mencari suasana hidup yang berbeda. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1816,"featured_media":405159,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2895,33683,623,115,3533,18513],"class_list":["post-405019","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-budaya-jawa","tag-budaya-jogja","tag-jawa","tag-jogja","tag-mahasiswa-jogja","tag-pendatang"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405019","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1816"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=405019"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405019\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":405160,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/405019\/revisions\/405160"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/405159"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=405019"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=405019"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=405019"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}