{"id":404960,"date":"2026-06-06T18:00:34","date_gmt":"2026-06-06T11:00:34","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=404960"},"modified":"2026-06-06T18:00:34","modified_gmt":"2026-06-06T11:00:34","slug":"bagi-tenaga-honorer-bertahan-di-negara-absurd-itu-pencapaian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bagi-tenaga-honorer-bertahan-di-negara-absurd-itu-pencapaian\/","title":{"rendered":"Bagi Tenaga Honorer seperti Saya, Mampu Bertahan di Tengah Negara yang Absurd Adalah Sebuah Pencapaian\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><em>Di negara ini, tenaga honorer bak peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga\u00a0<\/em>alias sulit.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bulan November nanti, umur saya resmi menyentuh angka 28 tahun. Bagi sebagian anak muda, akhir usia dua puluhan adalah masa-masa matang. Kebanyakan punya karier mapan, menikah, sering nongkrong di coffee shop mahal, dan mulai memikirkan investasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, bagi seorang tenaga honorer salah satu instansi pemerintah di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Bungo\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kabupaten Bungo<\/a>, usia 28 terasa seperti masa-masa mencekam. Terlebih kondisi negara ini makin kian tak masuk akal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai tenaga honorer dengan gaji Rp1 juta sebulan yang tanggal pembayarannya tidak menentu, saya langsung bertukar seragam menjadi driver Maxim selepas pulang kantor demi menyambung hidup.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendapatan dari driver tidak banyak, Rp40-50 ribu per hari. Itu pun masih dipotong ongkos bensin sekitar Rp25-30 ribu per dua hari. Sebuah perjuangan melelahkan yang harus saya jalani, semata-mata agar di usia menjelang kepala tiga ini saya tidak lagi meminta uang atau memberatkan orang tua.<\/span><\/p>\n<h2><b>Seni bertahan hidup sebagai tenaga honorer<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tinggal bersama orang tua memang sebuah privilese yang menyelamatkan saya dari teror tagihan ibu kos tiap bulan. Namun, saya tetap punya kewajiban bulanan seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/aktual\/iuran-bpjs-naik-kalau-sistemnya-berubah-ke-kris\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">iuran BPJS<\/a>, wifi, paket internet, token listrik, hingga biaya servis motor biar lancar narik Maxim. Belum lagi ditambah cicilan paylater.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara soal paylater, kaum urban mungkin menggunakannya demi menunjang flexing gaya hidup atau kredit iPhone boba biar kelihatan kaya di media sosial. Namun, saya menggunakannya untuk urusan yang jauh lebih krusial, menyambung hidup. Sebuah cara yang membuat saya merasa menjadi sultan selama lima menit, lalu setelah itu menjadi horor jangka panjang yang durasinya terasa lebih lama ketimbang menunggu hilal kepastian status PNS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini sekaligus menjadi bukti betapa lucunya (dan ironis) masyarakat kita hari ini. Ketika sebagian orang rela berutang demi terlihat kaya di media sosial, ada juga tenaga honorer seperti saya yang terpaksa berutang di aplikasi yang sama hanya agar token listrik di rumah tidak mendadak berbunyi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tit-tit-tit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tengah malam.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sisi terang yang tidak pernah saya sesali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila kalian mengira tulisan ini hanya berisi kutukan dan penyesalan terhadap nasib, kalian salah besar. Di atas semua kehidupan ini, saya tidak pernah menyesal sedikit pun telah memilih jalan menjadi seorang tenaga honorer.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari ruang birokrasi dan meja kerja yang sederhana ini, saya justru mendapatkan ruang tumbuh yang luar biasa. Saya berkesempatan bertemu dengan banyak orang hebat dari berbagai latar belakang, menyerap berbagai ilmu, dan mengumpulkan pengalaman berharga yang tidak akan bisa saya beli dengan uang satu juta rupiah per bulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gaji boleh saja pas-pasan, tetapi pengalaman di instansi ini sukses membuat anak daerah seperti saya merasa jadi seorang profesional. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saya diberi ruang untuk berkembang, ikut berbagai pelatihan, hingga mampu mewujudkan mimpi masa kecil yang dulu cuma sebatas cita-cita untuk naik pesawat terbang ke Jakarta dan berkunjung ke Yogyakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesuatu yang dulu tak pernah terpikirkan bakal jadi nyata di hidup saya. Bagi saya, momen-momen itu adalah kemewahan batin yang sangat saya syukuri. Bagaimanapun, tempat ini telah memberikan fondasi awal yang berharga tentang bagaimana dunia bekerja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Realitas makro, tekanan politik, dan keinginan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironisnya, setelah masa-masa indah penuh pembelajaran itu, di tengah perjuangan bertahan hidup, realitas makroekonomi ikut menyentak. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kabar\/rupiah-anjlok-pakar-ugm-beri-peringatan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rupiah<\/a> tampaknya bakal menyentuh angka Rp19 ribu per dolar jauh lebih cepat ketimbang realisasi janji pemerintah tentang 19 juta lapangan pekerjaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih melihat lapangan kerja baru dibuka, yang terjadi saat ini justru gelombang PHK massal. Mencari pekerjaan baru zaman sekarang susahnya sudah seperti mencari jarum di tumpukan jerami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di saat yang sama, lingkungan instansi tempat saya mengabdi mulai berubah menjadi toksik dan penuh tekanan politik. Bertahan di dalam sistem honorer daerah membuat hidup saya mandek, sementara beban ekonomi di luar sana bergerak sangat cepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, motivasi terbesar saya untuk berani mencari pintu keluar sebenarnya bermuara pada satu hal, saya punya niat serius untuk menikah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Niat sakral itu sukses memaksa logika saya melek bahwa pernikahan yang sehat tidak bisa dibangun di atas fondasi stagnasi finansial. Jika ingin membangun masa depan yang kokoh bersama pasangan, diri saya sendiri yang harus di-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">upgrade<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> duluan. Saya harus bergerak berkembang, menuntut ilmu, dan mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih layak untuk menyambung hidup yang makin ugal-ugalan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keluar dari lingkaran kenyamanan semu ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan ruang bertumbuh yang baru untuk menjemput kesejahteraan yang lebih masuk akal. Namun, di sinilah perang batin yang saya rasakan sesungguhnya baru dimulai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah nekat keluar dari pekerjaan honorer saat ini demi mengubah nasib adalah langkah yang bijaksana, ataukah ini cuma bentuk pelarian dari mental saya yang payah?<\/span><\/p>\n<h2><b>Tenaga honorer perlu exit plan yang lebih matang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah merenung dengan kepala dingin, saya akhirnya sadar. Saya bukanlah manusia manja yang takut berjuang. Di era gempuran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hustle culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang melelahkan ini, orang malas jelas tidak akan sudi jadi driver ojek online menembus angin malam setelah seharian bekerja di kantor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keinginan saya untuk keluar bukanlah pelarian impulsif akibat kutipan manis dari motivator atau standar pencapaian tiktok.\u00a0 Melainkan keputusan logis untuk naik kelas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Realitasnya, dengan tabungan yang masih nol, mengajukan surat resign tanpa pemikiran yang matang dan ketidakpastian pekerjaan baru adalah tindakan bodoh paling hakiki. Aplikasi paylater itu jelas tidak akan &#8220;tenggang rasa&#8221; untuk peduli apakah \u201ctuannya\u201d sedang jadi pengangguran atau tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keinginan untuk berubah memang tidak pernah salah. Namun, waktu dan cara kita berubahlah yang menentukan apakah hidup kita akan naik kelas, atau justru makin tergilas oleh keadaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, langkah paling dewasa saat ini adalah menolak resign tanpa persiapan. Saya memilih tetap bertahan di instansi pemerintah ini sembari bergerilya mengirimkan lamaran kerja ke berbagai tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara terbaik menghargai ilmu di tempat lama adalah keluar dengan persiapan matang, bukan kabur sebagai buronan kelaparan. Di tengah badai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/negara-tak-mampu-lindungi-pekerja-dari-ancaman-phk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PHK massal<\/a> yang cuma dianggap &#8220;efisiensi biasa&#8221; oleh korporasi dan lapangan kerja baru yang telanjur jadi mitos, bertahan hidup sambil mencicil <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-harus-kamu-pertimbangkan-saat-kebelet-resign-sebelum-dapat-kerjaan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">exit plan<\/a> yang rapi adalah kemewahan batin tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam ini, saya akan kembali menarik Maxim membelah jalanan dan merawat mimpi untuk menikah. Saya tidak sedang lari dari masalah, saya hanya sedang mengambil ancang-ancang untuk melompat lebih tinggi, dengan cara yang jauh lebih aman bagi dompet dan masa depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Pratma Yandrefo<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sudiro-tungga-jaya-surabaya-ngawi-berjasa-di-pernikahan-saya\/\"><b><i>Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bekerja sebagai tenaga honorer bukan hal mudah, gaji tidak besar sehingga harus punya pekerjaan sampingan lain. Resign pun perlu persiapan. <\/p>\n","protected":false},"author":2506,"featured_media":404970,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[19770,2420,1068,22133],"class_list":["post-404960","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-honorer","tag-pns","tag-resign","tag-tenaga-honorer"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404960","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2506"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=404960"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404960\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":404972,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404960\/revisions\/404972"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/404970"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=404960"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=404960"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=404960"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}