{"id":404750,"date":"2026-06-05T07:23:28","date_gmt":"2026-06-05T00:23:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=404750"},"modified":"2026-06-04T23:24:10","modified_gmt":"2026-06-04T16:24:10","slug":"jangan-hapus-tradisi-jimpitan-ini-satu-satunya-pajak-yang-tidak-dibenci-rakyat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-hapus-tradisi-jimpitan-ini-satu-satunya-pajak-yang-tidak-dibenci-rakyat\/","title":{"rendered":"Jangan Hapus Tradisi Jimpitan, Ini Satu-satunya Pajak yang Tidak Dibenci Rakyat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara tradisi, banyak dari kita yang merasa tidak perlu mempertanyakannya atau menguliknya lebih dalam. Saya pun begitu perkara jimpitan. Waktu kecil saya tidak pernah bertanya kenapa setiap minggu ada beras yang dikumpulkan dari rumah-rumah warga. Saya menganggap itu sama wajarnya dengan ronda malam, kerja bakti, atau suara kentongan yang kadang terdengar menjelang tengah malam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru setelah tinggal di tempat lain, saya sadar tidak semua kampung punya kebiasaan seperti itu. Dan lebih mengejutkan lagi, tidak semua kampung punya cara sederhana untuk menjaga rasa peduli antarwarganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah dewasa saya mulai mengerti, kalau dipikir-pikir jimpitan itu sebenarnya cukup aneh. Di negara yang warganya sering mengeluh soal pajak, iuran, atau pungutan apa pun, ada satu &#8220;pajak&#8221; yang justru bisa bertahan puluhan tahun tanpa banyak protes. Orang rela mengeluarkan beras atau uang receh secara rutin tanpa perlu ditagih berkali-kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau melihat praktiknya di berbagai daerah, bentuk jimpitan memang berbeda-beda. Di kampung saya di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Purworejo\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Purworejo,<\/a> yang dikumpulkan masih berupa beras. Sementara ketika saya menetap untuk bekerja di Yogyakarta, banyak yang sudah menggunakan uang receh, biasanya lima ratus perak atau seribu rupiah yang dimasukkan ke dalam wadah kecil di depan rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bentuknya boleh berbeda, tetapi logikanya tetap sama: semua orang menyumbang sedikit agar semua orang bisa merasakan manfaatnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Crowdfunding kearifan lokal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau diterjemahkan ke bahasa modern, jimpitan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan crowdfunding. Bedanya, jimpitan sudah ada jauh sebelum orang mengenal aplikasi donasi atau tombol &#8220;patungan sekarang&#8221;. Nilainya memang kecil, hanya segenggam beras atau beberapa ribu rupiah. Tapi jika dilakukan oleh satu kampung secara konsisten, hasilnya bisa menjadi sesuatu yang besar dan benar-benar terasa manfaatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menarik, manfaat jimpitan tidak berhenti pada kas warga. Banyak orang mengira tujuan utamanya hanya mengumpulkan beras atau uang, padahal ada fungsi lain yang sering luput diperhatikan. Karena harus mengambil jimpitan dari rumah ke rumah, petugas ronda mau tidak mau harus benar-benar berkeliling kampung. Mereka tidak bisa sekadar duduk di pos ronda sambil ngopi, main kartu, atau mengobrol sampai pagi. Mereka harus berjalan menyusuri gang dan memastikan lingkungan tetap aman.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/bersih-desa-tradisi-sakral-yang-kehilangan-makna\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang<\/strong><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, jimpitan sebenarnya bukan cuma soal bantuan sosial, tetapi juga soal keamanan lingkungan. Sistemnya sederhana, tetapi efektif. Kampung tidak perlu memakai istilah keren seperti community surveillance atau smart security. Cukup dengan segenggam beras, warga sudah menciptakan mekanisme pengawasan lingkungan yang berjalan setiap malam tanpa perlu banyak biaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin karena manfaatnya terasa langsung, warga tidak pernah benar-benar mempermasalahkan tradisi ini. Berbeda dengan banyak iuran lain yang kadang memunculkan pertanyaan panjang tentang digunakan untuk apa, jimpitan relatif mudah dipahami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ada warga sakit, kas jimpitan bisa membantu. Lalu ketika ada kegiatan kampung, kas jimpitan bisa dipakai. Ketika ada kebutuhan mendadak, warga tidak perlu menunggu proposal atau rapat berjam-jam untuk mencari dana.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mulai banyak yang tidak mengenal jimpitan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, tradisi seperti ini mulai jarang ditemui. Banyak perumahan baru tidak mengenal jimpitan. Banyak warga yang bahkan tidak mengenal tetangga sebelah rumahnya. Hubungan sosial perlahan digantikan oleh grup WhatsApp RT yang sering kali lebih ramai ucapan &#8220;selamat pagi&#8221; daripada aksi nyata di lapangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal yang dikumpulkan oleh jimpitan sebenarnya bukan cuma beras atau uang receh. Yang dikumpulkan adalah rasa memiliki terhadap lingkungan. Kesadaran bahwa hidup bertetangga tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah, satpam, atau grup WhatsApp. Ada hal-hal yang hanya bisa berjalan ketika warga masih mau peduli satu sama lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itulah, saya merasa tradisi jimpitan layak dipertahankan. Bukan karena nilai ekonominya besar, melainkan karena nilai sosialnya jauh lebih mahal daripada segenggam beras yang dikumpulkan setiap minggu. Mungkin jimpitan memang satu-satunya &#8220;pajak&#8221; yang tidak pernah benar-benar dibenci warga. Sebab sejak awal, semua orang tahu ke mana hasilnya pergi dan siapa yang akan merasakan manfaatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di zaman ketika orang semakin mudah terhubung tetapi semakin sulit merasa dekat, barangkali jimpitan adalah pengingat bahwa gotong royong tidak selalu membutuhkan program yang besar.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Riko Prihandoyo<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menghitung-pendapatan-dari-dana-jimpitan-dalam-lingkup-rt-di-sleman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menghitung Pendapatan dari Dana Jimpitan dalam Lingkup RT di Sleman<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbeda dengan banyak iuran lain yang kadang memunculkan pertanyaan panjang tentang digunakan untuk apa, jimpitan relatif mudah dipahami.<\/p>\n","protected":false},"author":3072,"featured_media":404782,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[12201,115,10034,33655],"class_list":["post-404750","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jimpitan","tag-jogja","tag-purworejo","tag-tradisi-desa"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404750","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3072"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=404750"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404750\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":404783,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404750\/revisions\/404783"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/404782"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=404750"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=404750"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=404750"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}