{"id":404607,"date":"2026-06-03T15:37:18","date_gmt":"2026-06-03T08:37:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=404607"},"modified":"2026-06-03T15:37:18","modified_gmt":"2026-06-03T08:37:18","slug":"mengurai-inflasi-ipk-dosen-makin-dermawan-atau-mahasiswa-makin-pintar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengurai-inflasi-ipk-dosen-makin-dermawan-atau-mahasiswa-makin-pintar\/","title":{"rendered":"Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  \u00a0"},"content":{"rendered":"<p><em>Inflasi IPK nyatanya memang ada, karena i<span style=\"font-weight: 400;\">nstitusi pendidikan tinggi makin hari makin terlihat seperti penyedia jasa<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, kalau ada mahasiswa yang lulus dengan IPK 3,8 pasti jadi berita hangat seantero kampus. Orang tuanya mungkin bakal bikin syukuran potong tumpeng saking langkanya prestasi tersebut diraih. Waktu jadi mahasiswa di tahun 2006, saya pun meyakini kalau angka 3,8 itu adalah puncak pencapaian yang cuma bisa dicapai oleh manusia terpilih dengan jam tidur lebih sedikit dibanding jam belajarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sialnya, dua puluh tahun kemudian, semuanya tampak berbeda. IInflasi IPK bikin IPK 3,8 rasanya sudah seperti syarat minimal buat melamar kerja. Bahkan, kadang masih dianggap medioker oleh tim HRD. Membandingkan perbedaan tersebut, saya merasa saat ini sedang hidup di era di mana nilai A seolah diobral di pasar malam. Barangkali, transkrip nilai yang nggak penuh angka empat wajib disembunyikan layaknya aib.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang naif mungkin beranggapan kalau mahasiswa sekarang memang jauh lebih cerdas. Gizi tercukupi, fasilitas juga mumpuni. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa standar pendidikan sekarang saja yang tengah mengalami inflasi besar-besaran. Dan saya memilih buat setuju opini kedua.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nilai A yang sudah nggak sakti dan bikin iri lagi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari ini, inflasi IPK bikin predikat cumlaude bukan lagi penanda kalau mahasiswa itu adalah insan jenius yang telah menguasai esensi mata kuliah sepenuhnya. Jujur saja, dulu dosen memberikan nilai A sebagai apresiasi atas pemikiran orisinal atau analisis yang tajam. Komponen pengukurannya seabrek. Bukan hanya nilai saat ujian. Tapi juga partisipasi di kelas, tugas individu setiap minggu, dan proyek presentasi kelompok dengan bobot yang berbeda-beda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, nilai A nggak lagi eksklusif. Mahasiswa yang mahir memahami kemauan dosen sering kali lebih mudah menggapai nilai A dibandingkan mahasiswa yang kritis atau eksploratif di luar jalur kurikulum. Mereka cuma perlu datang dan memenuhi jatah absensi minimal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal ujian? Cukup pinjam catatan teman dan belajar semalam sebelumnya. Voila, nilai A sudah pasti di tangan. Tentu, ini bukan salah mahasiswa. Bisa jadi, kriteria penilaian yang semakin ringkas ini disebabkan pula dosen yang ogah repot melakukan kalkulasi masing-masing variabel penilaian. Toh, tugas di luar mengajar saja sudah segunung.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bisa-dapat-ipk-cum-laude-dan-3-alasan-lain-yang-bikin-kuliah-di-kampus-b-aja-itu-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><strong>BACA JUGA: Bisa Dapat IPK Cum Laude dan 3 Alasan Lain yang Bikin Kuliah di Kampus \u201cB-aja\u201d itu Enak<\/strong><\/a><\/p>\n<h2><b>Dosen adalah instrumen penyedia jasa, bukan murni seorang pendidik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inflasi IPK disumbang banyak oleh perubahan sistem pendidikan di masa kini. Dalam pengalaman saya selama menjadi mahasiswa dan berkecimpung di dunia akademik, ada pergeseran struktural yang menarik tapi sedikit mengenaskan. Dulu, dosen adalah otoritas tertinggi dalam transfer ilmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percayalah, pernah ada anggapan bahwa dosen yang pelit nilai adalah dosen yang dianggap punya integritas tinggi dan standar akademik yang kokoh. Maka, kalau di akhir semester seorang mahasiswa hanya dapat nilai C, ia kudu mengakui bahwa pemahamannya memang dangkal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, narasi itu sudah bertransformasi. Institusi pendidikan tinggi makin hari makin terlihat seperti penyedia jasa. Sementara, mahasiswa adalah pelanggannya. Hal ini sebenarnya nggak aneh. Sebab, di beberapa artikel jurnal internasional bereputasi, memang ada penelitian yang mengemukakan bahwa institusi pendidikan sejatinya adalah suatu bentuk bisnis juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, ketika kepuasan pelanggan menjadi indikator utama dalam evaluasi dosen, maka dosen berada dalam posisi yang sangat rentan. Bayangkan seorang dosen yang ingin mempertahankan standar akademik yang tinggi. Tugas yang diberikan menantang pemikiran kritis mahasiswa, koreksinya teliti, dan nilainya benar-benar objektif. Niscaya, evaluasi dosen di akhir semester berpotensi anjlok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ujungnya, julukan <a href=\"https:\/\/dit-mawa.upi.edu\/dosen-killer-vs-dosen-santai-mana-yang-sebenarnya-lebih-menguntungkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dosen killer<\/a> pun disematkan pada seorang pengajar yang pada hakikatnya idealis. Memang, beberapa dekade lalu, predikat ini boleh jadi adalah sebuah kehormatan. Namun sekarang, sebutan ini justru lebih mirip kutukan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Inflasi IPK memang nyata<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, nggak sedikit dosen yang memilih jalan pintas. Ketimbang repot menghadapi protes, debat kusir dengan mahasiswa yang merasa berhak dapat nilai bagus hanya karena sudah mengumpulkan tugas, atau ditegur pihak birokrasi kampus yang khawatir mahasiswanya nggak lulus tepat waktu, lebih aman jika semua diberi nilai A atau A-. Miris, tapi memang itu fakta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan salah, memiliki IPK tinggi bukan sebuah dosa. Namun, terjebak dalam ekosistem di mana nilai tinggi bukan lagi hasil dari pertukaran ilmu yang intens adalah proses pembodohan diri yang paling kronis. Sebab, dunia di luar kampus nggak mengenal sistem SKS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dunia kerja punya cara yang jauh lebih brutal untuk menyeleksi manusia. Jadi, jangan terlalu bangga menjadi sarjana yang cuma unggul di atas kertas. Tapi, loyo saat dibentrokkan dengan realitas.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Paula Gianita Primasari<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tuhan-bersama-mahasiswa-yang-sibuk-mengejar-ipk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tuhan Bersama Mahasiswa yang Sibuk Mengejar IPK, tapi Masih Bingung Mau Jadi Apa<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Inflasi IPK nyatanya memang ada, karena institusi pendidikan tinggi makin hari makin terlihat seperti penyedia jasa<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":404611,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_comment_section":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1","show_inline_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":{"post_split":[{"template":"1","tag":"h2","numbering":"asc","mode":"normal","first":"0","enable_toc":"0","toc_type":"normal"}]},"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[469,33641,7101,4984],"class_list":["post-404607","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-dosen","tag-inflasi-ipk","tag-ipk","tag-sistem-pendidikan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404607","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=404607"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404607\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":404612,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404607\/revisions\/404612"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/404611"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=404607"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=404607"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=404607"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}